alexametrics

Siswa Antusias Belajar Fisika dengan MEREM

Oleh: Nunung Venti Yudianingrum, S.Pd.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Hampir dua tahun pembelajaran dalam jaringan (daring) dilakukan akibat pandemi Covid-19. Guru ditantang untuk membuat pembelajaran yang kreatif. Menurut Mamat Supriatna (2006), kreativitas adalah kemampuan cipta, karsa, dan karya seseorang untuk dapat menciptakan sesuatu yang baru. Fisika adalah mata pelajaran yang mendukung program keahlian SMK Agroteknologi. Fakta yang terjadi, masih banyak peserta didik kelas X SMKN 1 Wanayasa yang merasa bosan mengikuti pembelajaran Fisika secara daring. Salah satu alasannya adalah siswa merasa bosan, karena guru hanya menggunakan metode yang monoton. Hal ini dapat dilihat dari presensi di kelas X APHP C yang semakin menurun di setiap pertemuan. Dari 26 peserta didik, hanya ada 15 peserta hadir pada pertemuan ke-15.

Penulis menggunakan sebuah cara untuk mengatasi masalah di atas, yakni MEREM atau Metode Reward (hadiah) dan Punishment (hukuman), sebuah metode pembelajaran interaktif antara guru dan peserta didik. Sesuai namanya, guru akan memberikan hadiah bagi peserta didik yang aktif dan benar dalam menjawab soal latihan. Di sisi lain, hukuman diberikan kepada peserta didik yang tidak aktif dalam menjawab soal latihan (Jasa Ungguh, 2017). Metode ini diterapkan pada mata pelajaran Fisika materi Listrik Statis dan Dinamis di kelas X APHP C SMK Negeri 1 Wanayasa.

Baca juga:  Belajar Fisika menjadi Mudah dengan Laboratorium Virtual

Sebelum menjalankan MEREM, perlu dibuat WhatsAap Group (WAG) kelas dan Google Classroom. Guru memberi Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) melalui Google Classroom dan WAG untuk dipelajari terlebih dahulu. Kemudian, guru mengadakan konferensi video menggunakan Google Meet dengan akun belajar dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Peserta didik melakukan presentasi praktikum Listrik Statis dari lembar kerja dan langsung dinilai oleh guru. Siswa yang melakukan presentasi wajib memberikan pertanyaan kepada peserta yang mendengarkan, dan berlaku sebaliknya. Siapapun yang dapat menjawab pertanyaan dengan benar, berhak mendapatkan reward tambahan nilai dari guru. Apabila ternyata jawabannya kurang tepat, maka kesempatan dilempar ke peserta lain.

Peserta yang tidak presentasi pada sesi konferensi video tersebut, diberi punishment untuk membuat video praktikum yang harus dikirim dengan batas waktu 1 hari setelahnya. Jika pengumpulan melebihi batas waktu, diberi nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Video dikirim melalui Google Classroom maupun WAG.

Baca juga:  Tumbuhkan Karakter Mandiri dan Peluang Wirausaha di Era Pandemi

Pada akhir konferensi video, guru wajib memastikan sampai tidak ada peserta yang presentasi lagi. Selanjutnya, guru memberikan pertanyaan-pertanyaan yang ditulis di kertas warna. Kertas ini dibentuk menyerupai gambar awan karena muatan listrik juga terdapat di awan sesuai dengan materi pembelajaran. Pertanyaan dijawab oleh peserta didik dengan mengacungkan tangan. Kesempatan menjawab pertanyaan ini diberi batas waktu. Jika melewati tenggang yang ditentukan, maka akan dilemparkan ke peserta lain. Agar semangat belajar bertambah, guru memberi reward berupa tambahan nilai yang besarnya ditulis di belakang kertas warna tadi. Jika menjawab dengan benar, maka kertas di balik sehingga peserta langsung bisa mengetahui nilainya.

Metode MEREM ternyata efektif menarik minat belajar peserta didik. Antusiasme siswa naik, lebih aktif dari biasanya, sehingga aktivitas belajar meningkat. Terbukti peserta didik saling berebut untuk bertanya dan menjawab pertanyaan yang diutarakan oleh rekan sendiri ataupun guru. Bahkan sampai 2 jam pelajaran (90 menit) habis pun, masih ada yang berusaha mengajukan pertanyaan. Pada akhir pembelajaran, guru dan peserta didik menarik kesimpulan bersama. (wa1/aro)

Baca juga:  Meningkatkan Imun Tubuh Siswa dengan Senam Irama

Guru SMK Negeri 1 Wanayasa

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya