alexametrics

Menyusun Teks Recount Asyik dengan Permainan Jumbled Sentences

Oleh : Ary Rokhadiyati, S.Pd. M.Pd.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pelajaran bahasa Inggris seringkali dianggap sulit dan menakutkan bagi sebagian besar peserta didik. Dari berbagai kajian dan pengalaman lapangan yang dilakukan guru pelajaran bahasa Inggris membuktikan bahwa peserta didik mengalami kesulitan dalam menyusun atau menulis sebuah teks sederhana, khususnya teks recount. Teks recount adalah sebuah teks salah satu jenis teks yang berisi cerita pengalaman seseorang di masa lampau. Banyak peserta didik tidak tertarik karena menyusun kalimat dalam bahasa Inggris dianggap terlalu sulit dan membosankan.

Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi guru pengampu mata pelajaran bahasa Inggris untuk membuat materi menulis teks recount ini menjadi lebih mudah dan menyenangkan bagi peserta didik. Guru harus mampu berpikir kreatif untuk menciptakan inovasi yang menarik agar materi pelajaran terkait dengan menyusun teks recount dapat direspons secara aktif oleh peserta didik. Guru tidak boleh lelah untuk selalu mencoba menerapkan berbagai macam metode pembelajaran agar peserta didik merasa tertarik atau bahkan menyukai materi pelajaran yang disampaikan. Guru harus terus berinovasi untuk menciptakan metode-metode pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan.( Moh. Durori, 2002:3)

Baca juga:  Strategi Cause Effect and Implications pada Pembelajaran Materi Sumpah Pemuda

Agar proses pengajaran menjadi fungsional, menyenangkan dan menarik bagi peserta didik, berbagai metode pembelajaran sudah pernah dicoba untuk digunakan dalam proses pembelajaran bahasa Inggris di SMP Negeri 1 Bawen. Dari pengalaman lapangan yang dilakukan ternyata metode permainan jumbled sentence dapat membuat peserta didik tertarik dan tidak merasa bosan. Permainan ini bahkan dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam menyusun teks recount.

Guru menggunakan model pembelajaran discovery learning dan aplikasi Learning Management System World Wall dalam pembelajaran menulis teks Recount. Menurut Hosnan (2016:282) pembelajaran discovery learning merupakan model untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif dengan penemuan yang menekankan kemampuan berpikir analistis dan memecahkan sendiri masalah yang dihadapi.

Hal pertama yang dilakukan guru adalah memberikan sebuah teks berbentuk recount kepada peserta didik. Dengan bimbingan guru, peserta didik menganalisa fungsi sosial, struktur teks dan unsur kebahasaan dari teks berbentuk recount dilanjutkan dengan tanya jawab terkait dengan teks recount yang disajikan tersebut. Setelah tanya jawab, guru membagi siswa dalam kelompok. Selanjutnya guru memberikan sebuah contoh recount lain pada setiap kelompok dan mempersilahkan peserta didik untuk bekeja dalam kelompok dan menyelesaikan tugas kelompok yaitu mengidentifikasi fungsi sosial, truktur teks dan unsur kebahasaan teks tersebut.

Baca juga:  Hanura Mantab Dukung Ngebas

Tugas selanjutnya guru memberikan sebuah teks recount pada setiap kelompok. Teks tersebut di bagi dalam bentuk jumbled sentences atau potongan potongan kalimat yang ditulis dalam potongan kertas, di mana tugas kelompok adalah menyusun potongan potongan tersebut menjadi sebuah paragraf yang padu sesuai generic structure atau struktur teks dari teks recount.

Guru akan memberikan batasan waktu dalam mengerjakan tugas tersebut, sehingga semua kelompok akan berlomba-lomba untuk mengerjakan tugas secepat mungkin dan menempelkan hasil kerjanya di papan tulis. Bagi kelompok yang berhasil menempelkan tugasnya terlebih dahulu dan hasilnya sempurna akan mendapatkan apresiasi dari guru dan mendapatkan hadiah berupa stiker menarik.

Dalam kegiatan kelompok, guru melakukan observasi terkait dengan keaktifan siswa dalam bekerja sama dalam kelompok. Sehingga guru bisa mendapatkan nilai sikap dari kegiatan tersebut. Sedangkan nilai kognitif diambil dari benar atau tidak nya jawaban siswa yang ditempel pada papan tulis. Nilai keterampilan didapatkan pada saat peserta didik membacakan hasil jawaban kelompok secara nyaring, sehingga bisa dinilai lafal atau pronounciation-nya.

Baca juga:  Tingkatkan Hasil Belajar Lempar Tangkap Bola Kecil dengan Bolu Babe

Dari kegiatan ini terindentifikasi ada sebagian kecil peserta didik yang belum terlibat aktif dalam kegiatan kerja kelompok. Namun setelah guru memberi stimulus dengan mengumumkan bahwa pemenang akan mendapatkan hadiah, peserta didik menjadi bersikap antusias dan aktif mengerjakan tugas kelompok.

Dengan bantuan kalimat acak atau jumbled sentences tenyata sangat membantu memudahkan peserta didik dalam menyusun sebuah paragraf recount teks. Dari pengalaman ini disadari bahwa ternyata jika guru mau sedikit saja berkreasi dan berani melakukan sedikit inovasi pada metode pembelajaran bahasa Inggris, khususnya dalam menyusun sebuah recount teks, pelajaran bahasa Inggris bisa menjadi tidak membosankan, bahkan menyenangkan bagi peserta didik. (ump2/aro)

Guru SMP Negeri 1 Bawen, Kabupaten Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya