alexametrics

Refleksi Filosofi Pendidikan dan Pengajaran Ki Hadjar Dewantara

Oleh : Demiati, S.Pd.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pendidikan dan pengajaran adalah satu kesatuan yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Menurut Ki Hadjar Dewantara, pengajaran (onderwijs) adalah bagian dari pendidikan. Pengajaran merupakan proses pendidikan dalam memberi ilmu atau berfaedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sedang pendidikan(opvoeding) memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak. Agar mampu mencapai keselamatan dan kebahagian setinggi-tingginya. Baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

Ki Hajar Dewantara mengingatkan para pendidik harus tetap terbuka dan mengikuti perkembangan zaman yang ada. Namun tidak semua yang baru itu baik. Jadi perlu diselaraskan . Indonesia memiliki potensi-potensi kultural yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar. Dasar pendidikan anak berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman.

Kodrat alam berkaitan dengan sifat dan bentuk lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan isi dan irama. Artinya setiap anak sudah membawa sifat atau karakter masing-masing. Jadi guru tidak bisa menghapus sifat dasar tersebut. Yang bisa dilakukan adalah menunjukan dan membimbing mereka agar muncul sifat-sifat baiknya. Sehingga menutupi/mengaburkan sifat-sifat jeleknya.

Baca juga:  Menelaah Teks Deskripsi Upacara Adat Jawa dengan Media Audio Visual

Kodrat zaman bisa diartikan bahwa kita sebagai guru harus membekali keterampilan kepada siswa sesuai zamannya. Agar mereka bisa hidup, berkarya dan menyesuaikan diri. Dalam konteks pembelajaran sekarang, kita harus bekali siswa dengan kecakapan abad 21. Budi pekerti harus menjadi bagian tak terpisahkan. Guru harus senantiasa memberikan teladan baik bagi siswanya.

Dalam pembelajaran di kelas, guru harus memperhatikan kodrati anak yang masih suka bermain. Lihatlah ketika anak-anak bermain pasti yang mereka rasakan kegembiraan. Semua itu membuat kesan membekas di hati dan pikirannya. Guru harus memasukan unsur permainan dalam pembelajaran. Agar siswa senang dan tidak mudah bosan. Apalagi permainan tradisional. Selain mendidik sekaligus bisa mengajak anak melestarikan kebudayaan.

Baca juga:  Asyiknya Belajar Magnet dengan Menggunakan Model Make a Match

Hal terpenting yang harus dilakukan guru adalah menghormati dan memperlakukan anak dengan sebaik-baiknya. Sesuai kodratnya, melayani dengan tulus, memberikan teladan (ing ngarso sung tulodo), membangun semangat (ing madyo mangun karso) dan memberikan dorongan (tut wuri handayani). Menuntun mereka menjadi pribadi terampil, berakhlak mulia dan bijaksana.

Sebelum mempelajari pemikiran Ki Hajar Dewantara, saya percaya tindakan tegas dan menghukum siswa bisa merubah perilaku anak. Tapi perubahan bersifat semu, karena didasari rasa takut. Saya belum sepenuhnya menyadari kodrat alam sang anak. Sehingga sering marah ketika ada anak lamban dalam pelajaran. Belum banyak memberikan model pembelajaran yang menyenangkan. Setelah mempelajari pemikiran Ki Hajar Dewantara, saya mengubah pola pikir. Anak didik bukanlah robot yang harus menurut. Saya memberikan tuntunan kepada anak didik dengan lebih sabar dan ikhlas. Tidak memberikan hukuman yang tidak mendidik. Memberikan pembelajaran menyenangkan dengan mencoba berbagai model pembelajaran.

Baca juga:  Model Pembelajaran STAD Tingkatkan Motivasi Belajar Siswa pada Mapel PPKn

Ada beberapa hal yang bisa diterapkan, agar kelas mencerminkan pemikiran Ki Hajar Dewantara. Diantaranya: Meningkatkan kredibilitas saya (perilaku yang diteladani) serta kedisiplinan waktu. Pembelajaran dirancang untuk mendorong banyak berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Memperkokoh basis pendidikan karakter dan mengembangkna budi pekerti anak. Setiap penguatan tugas akan dikaitkan kebutuhan dan minat setiap siswa. Selalu berkomunikasi dengan rekan guru, kepala sekolah, orang tua, dan stakeholder untuk pengembangan kualitas pembelajaran anak.

Sebagai pendidik saya ingin bisa mengajak rekan guru dan sekolah untuk kreatif. Mengembangkan ide-ide inovatif, menghasilkan karya bermakna, bermanfaat, dan berdampak untuk masa depan anak. Ayo guru bergerak mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Yaitu mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara demokratis serta bertanggung jawab. (*/fth)

Guru SDN 01 Rowokembu Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya