alexametrics

Model Kooperatif TPS pada Pembelajaran Individu, Kelompok, dan Hubungan Sosial

Oleh : Maria Sri Rahayu, M.Si

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Dalam proses mengajar, metode pembelajaran mempunyai andil besar dalam mencapai tujuan. Kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki peserta didik akan ditentukan oleh tingkat kerelevansian penggunaan suatu metode yang sesuai dengan tujuan.

Menurut Rusman (2012) dalam sistem pembelajaran guru dituntut mampu memilih metode pembelajaran yang tepat. Memilih dan menggunakan fasilitas pembelajaran, alat evaluasi, mengelola pembelajaran di kelas maupun di laboratorium, menguasai materi, dan memahami karakter siswa.

Salah satu tuntutan guru tersebut adalah mampu memilih metode pembelajaran yang tepat untuk mengajar. Khosim (2017) mengatakan metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Salah satu materi pelajaran sosiologi kelas X IPS semester gasal di SMA Negeri 1 Ngluwar adalah individu, kelompok, dan hubungan sosial. Berdasarkan pengalaman penulis, pada saat mengajarkan materi ini dengan menerapkan pembelajaran konvensional melalui metode ceramah, peserta didik cenderung pasif, kurang bersemangat. Tingkat partisipasi peserta didik rendah, dan ketuntasan nilai peserta didik juga kurang memuaskan.

Baca juga:  Meningkatkan Pemahaman Belajar Tata Surya dengan Multimedia

Untuk mengatasi hal tersebut penulis menggunakan model pembelajaran kooperatif (cooperative learning) tipe Think Pairs Share (TPS). Model pembelajaran kooperatif (cooperative learning) mendukung pembelajaran kontekstual. Menurut Sugiyanto (2010) pembelajaran kooperatif adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. Sistem pengajaran cooperative learning dapat didefinisikan sebagai sistem kerja/belajar kelompok yang terstruktur.

Trianto (2011) menjelaskan ada tiga langkah inti dari model pembelajaran kooperatif tipe TPS. Yaitu berpikir (thinking), berpasangan (pairing), dan berbagi (sharing). Model pembelajaran ini untuk melatih peserta didik mengutarakan pendapat dan belajar menghargai pendapat orang lain. Adapun langkah-langkah pembelajarannya meliputi: pertama, peserta didik menyimak materi pembelajaran, kedua, peserta didik secara individu berfikir (think) untuk menjawab pertanyaan yang diberikan guru. Ketiga, peserta didik berpasangan (pairs) untuk menjawab pertanyaan, keempat, peserta didik berbagi (sharing) jawaban. Kelima, peserta didik (pasangan) lain memberikan tanggapan, dan keenam, peserta didik melakukan penegasan terhadap materi yang telah dipelajari dengan bimbingan guru.

Baca juga:  Jigsaw, Tingkatkan Hasil Belajar Muatan Mata Pelajaran PPKn Siswa SD

Setelah menerapkan metode ini pada pembelajaran materi individu, kelompok, dan hubungan sosial, terjadi peningkatan hasil belajar peserta didik. Pertama dari aspek pengetahuan terjadi peningkatan dalam pencapaian nilai. Nilai KKM kelas X IPS adalah 73 dan ketuntasan nilai KKM tersebut sangat mudah terlampaui. Sebelumnya ketuntasan hanya 34%, setelah diterapkan metode ini ketuntasan nilai mencapai 100%. Nilai terendah peserta didik yang sebelumnya 53 meningkat menjadi 80. Nilai tertinggi peserta didik dari 81 naik menjadi 92,5. Skor rata-rata peserta didik sebelumnya 68,1 menjadi 87,86.

Kedua dari aspek keterampilan dan sikap, ada beberapa kelebihan yang bisa dicapai melalui metode ini. Yakni peserta didik dilatih berpikir menghadapi materi yang sedang dipelajari, bagaimana cara menyampaikan pendapat dan siswa dilatih belajar menghargai pendapat orang lain. Terutama pendapat temannya dengan tetap mengacu pada materi/tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan.

Baca juga:  Pandemi, Tetap Berkarya Terbitkan Buku

Pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru (teacher center) tetapi lebih berorientasi ke peserta didik (student center). Peserta didik dituntut aktif sehingga pembelajaran tidak monoton. Sistem pembelajaran lebih menekankan pada keterampilan proses dan kemampuan peserta didik dalam mengaitkan materi yang diterima di sekolah dengan kehidupan sosial sekitarnya.

Model pembelajaran ini juga dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan berkomunikasi. Serta pengalaman yang didapatkan mampu diaplikasikan dalam proses pembelajaran.

Dengan model pembelajaran ini, dapat disimpulkan, model ini sangat efektif untuk meningkatkan hasil belajar mapel sosiologi kelas X IPS di SMA Negeri 1 Ngluwar khususnya pada materi individu, kelompok, dan hubungan sosial. Dengan membentuk kelompok, peserta didik mampu mengaplikasikan materi dengan kegiatan yang sebenarnya. Sehingga memudahkan serta meningkatkan minat, motivasi serta hasil belajar peserta didik. (ng1/lis)

Guru Sosiologi SMAN 1 Ngluwar, Kabupaten Magelang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya