alexametrics

Tingkatkan Aktivitas Belajar PPKn melalui Model Make a Match

Oleh : Swi Saptatiningsih S.Pd.SD

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PROSES pembelajaran merupakan salah satu unsur penting dalam pendidikan termasuk jenjang pendidikan dasar. Proses pembelajaran yang mengesankan dan menarik dapat membawa peserta didik pada pemahaman terhadap materi pembelajaran yang dipelajari. Agar proses pembelajaran dapat tercapai pada tingkatan yang mengesankan dan menarik, guru perlu mempersiapkan secara matang. Guru mempersiapkannya ketika membuat sebuah perencanaan pembelajaran. Akan tetapi, guru seringkali kurang dapat mempersiapkan perencanaan proses pembelajaran dengan baik, sehingga proses pembelajaran dilaksanakan spontanitas dan apa adanya.

Hal ini yang terjadi di beberapa proses pembelajaran di sekolah termasuk di SDN Tanggeran Kecamatan Paninggaran Kabupaten Pekalongan. Sebagian besar guru dalam mengajar di depan peserta didik masih bersifat guru sentris, kurang melibatkan peserta didik, pembelajaran yang dilakukan guru kurang kreatif, lebih banyak menggunakan metode konvensional satu arah sehingga kurang variatif dan kurang mengoptimalkan model pembelajaran sehingga peserta didik kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran, bahkan cenderung pasif. Peserta didik hanya diam saja, mendengarkan, mencatat, dan mudah bosan dalam pembelajaran. Pada akhirnya pemahaman peserta didik terhadap materi pembelajaran sangat rendah dan hasil belajar pun tidak sesuai harapan.

Baca juga:  Mendalami Sandhangan Swara melalui TGT

Guru perlu berbenah diri dan melakukan transformasi diri. Pembenahan dan transformasi dapat dilakukan guru dengan mendesain proses pembelajaran dalam perencanaan secara tepat. Selain itu, guru harus melibatkan peserta didik dalam setiap tahapan proses pembelajaran. Pelibatan peserta didik dalam proses pembelajaran dikenal dengan istilah Cooperative Learning atau Pembelajaran Kooperatif. Proses pembelajaran kooperatif akan mengajak peserta didik dalam proses pembelajaran dengan model diskusi dan kerjasama.

Suprijono (2009:54) menjelaskan bahwa pembelajaran kooperatif adalah jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk kegiatan yang dibimbing dan diarahkan oleh guru. Pembelajaran kooperatif mengutamakan kerja sama dalam meyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan ketrampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Pemilihan model pembelajaran yang menerapkan prinsip pembelajaran kooperatif menjadi sangat penting oleh guru. Salah satu model pembelajaran tersebut adalah model Make a Match atau mencari pasangan.

Baca juga:  Penggunaan Metode Praktik dalam Pembelajaran TIK pada Materi SAC

Model Make a Match merupakan salah satu alternatif yang dapat diterapkan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik. Pada pembelajaran PPKn kelas empat Materi tentang mengenal pemerintahan desa dan kecamatan sendiri di SDN Tanggeran Kecamatan Paninggaran Kabupaten Pekalongan sudah sangat tepat sekali. Peserta didik memegang peranan penting dan menjadi subjek dalam proses pembelajaran. Adapun langkah-langkah dalam pembelajaran model Make a Match adalah sebagai berikut pertama guru mempersiapkan kartu-kartu. Kartu-kartu tersebut terdiri dari kartu berisi pertanyaan-pertanyaan dan kartu-kartu lainnya berisi jawaban dari pertanyaan tersebut. Kedua guru membagi peserta didik menjadi 3 kelompok.

Kelompok pertama merupakan kelompok pembawa kartu-kartu berisi pertanyaan-pertanyaan. Kelompok kedua adalah kelompok pembawa kartu-kartu berisi jawaban-jawaban. Kelompok ketiga adalah kelompok penilai. Aturlah posisi kelompok-kelompok tersebut berbentuk huruf U. Ketiga, jika masing-masing kelompok sudah berada di posisi yang telah ditentukan, maka guru membunyikan peluit sebagai tanda agar kelompok pertama maupun kelompok kedua saling bergerak mereka bertemu, mencari pasangan pertanyaan-jawaban yang cocok. Berikan kesempatan kepada mereka untuk berdiskusi. Hasil diskusi ditandai oleh pasangan-pasangan antara anggota kelompok pembawa kartu pertanyaan dan anggota kelompok kartu jawaban.

Baca juga:  Belajar IPS Menyenangkan dengan Model Make A Match Media Kartu Bergambar

Keempat pasangan-pasangan yang sudah terbentuk wajib menunjukkan pertanyaan jawaban kepada kelompok penilai. Kelompok ini kemudian membaca apakah pasangan pertanyaan-jawaban tersebut cocok. Setelah penilaian dilakukan, aturlah sedemikian rupa kelompok pertama dan kelompok kedua bersatu kemudian memposisikan dirinya menjadi kelompok penilai. Sementara, kelompok penilai pada sesi pertama tersebut diatas dipecah menjadi dua, sebagaian anggota memegang kartu pertanyaan sebagian lainnya memegang kartu jawaban.

Pelaksanaan proses pembelajaran dengan model Make a Match ternyata dapat mendorong peserta didik untuk menemukan atau mengkonstruksi sendiri konsep yang dikaji. Peserta didik dapat meningkatkan proses pembelajaran dan memperoleh hasil belajar secara maksimal. (rn3/ida)

Guru SDN Tanggeran Kecamatan Paninggaran Kabupaten Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya