alexametrics

Pembelajaran Discovery Learning Dapat Meningkatkan Pembelajaran Teorema Pythagoras

Oleh: Umi Jamilah, S.Pd

Artikel Lain

PEMBELAJARAN matematika merupakan pembelajaran yang berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari sehingga perlu adanya pemilihan model, metode dan pendekatan yang tepat sesuai dengan kondisi siswa dan bahan ajar yang hendak diberikan kepada siswa. Secara umum berdasarkan pendekatan yang digunakan terbagi menjadi dua strategi pembelajaran yaitu strategi yang berpusat pada guru (teacher center oriented) dan strategi yang berpusat pada peserta didik (student centre ariented). Namun proses pembelajaran yang dilakukan oleh sebagian besar guru di SMP Negeri 1 Kranggan hannya berpusat pada guru sehingga siswa hanya menjadi objek pembelajaran tanpa dilibatkan sebagai subjek.

Merefleksi/mereviw kegiatan belajar mengajar yang dilakukan antara guru dengan siswa sesuai hasil belajar siswa yang diperoleh dari data penilaian harian kelas VIII G ternyata nilai tertinggi 79, nilai terendah 55, serta nilai rata-ratanya 75 dengan KKM 75. Hal ini terjadi karena guru belum tepat memilih model pembelajaran yang sesuai dengan materi pembelajaran dan karakteristik siswa sehingga selama proses pembelajaran hasil belajar tidak membekas dibenak pikiran siswa bahkan tak termotivasi sama sekali yang akibatnya siswa blank ketika dihadapkan dengan assessment dari pembelajaran.

Baca juga:  Belajar Asyik Materi Akikah dan Qurban dengan Poster Digital

Model pembelajaran discovery learning merupakan model pembelajaran untuk mencapai tujuan belajar. Discovery learning adalah model pembelajaran yang mengarahkan siswa untuk menemukan sndiri pengetahuan yang ingin disampaikan dalam pembelajaran. Penjelasan tersebut senada dengan pendapat Hanafiah (2012:77) yang menyatakan bahwa model pembelajaran discovery learning adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, dan logis sehingga mereka dapat menemukan sendiri pengetahuan, sikap, dan ketrampilan sebagai wujud adanya perubahan perilaku.

Dalam apersepsi seorang guru harus menguasai ketrampilan bertanya yang baik. Pertanyaan yang baik akan menciptakan pembelajaran lebih efektif, menarik, dan menyenangkan. Pada setiap tahap kegiatan pembelajaran guru di tuntut untuk membuat pertanyaan yang berkualitas. Seorang guru ketika bertanya tidak boleh asal bertanya tetapi pertanyaan tetap harus memperhatikan dasar-dasar ketrampilan bertanya yang benar.

Guru mengajukan pertanyaan dalam apersepsi sudah bagus. Pertanyaan disampaikan dengan jelas, sehingga siswa dapat memahami apa yang ditanyakan guru. Namun jawaban dari siswa itu hanya untuk gurunya saja, maksudnya jawaban pertanyaan tadi belum dilemparkan ke siswa yang lain untuk memberikan tanggapan. Seharusnya itu dilakukan guru untuk memotivasi siswa yang lain.

Baca juga:  Penerapan Role Playing dalam Memahami Materi Layanan Bimbingan Konseling

Kebiasaan untuk mengerjakan latihan soal tentang teorema pythagoras siswa di sekolah ini memang kurang tinggi. Terbukti anak itu masih bermalas-malasan dalam mengerjakan latihan soal. Bahkan ada yang mengerjakan latihan soal teorema pythagoras kalau ada tugas dari guru saja, bahkan ada beberapa siswa yang masih mencontek ke siswa yang lain, tidak mau mengerjakan sendiri.

Dalam kegiatan ini guru melakukan eksplorasi dengan memfasilitasi siswa, untuk latihan mengerjakan soal-soal teorema pythagoras dalam buku paket maupun dari buku pendamping. Guru kembali menjelaskan cara menyelesaikan salah satu panjang sisi, jika panjang sisi yang lain diketahui dan dapat menentukan jenis-jenis segitiga.

Guru memberikan pertanyaan kepada siswa secara acak. Materi yang dijelaskan siswa yang merasa mampu menjawab mengacungkan tangan. Misalnya guru menanyakan dengan pertanyaan sebagai berikut: bagaimana cara menentukan panjang sisi pada teorema pythagoras? Dan bagaimana cara menentukan jenis-janis segitiga! Anak dapat menjawabnya bahwa cara menentukan panjang sisi pada teorema pythagoras dan cara menentukan jenis-janis segitiga. Dalam kondisi ini terjadi interaksi antara guru dengan siswa agak dominan, tetapi antara siswa dengan siswa sangat minim. Mengenai pembelajaran teorema pythagoras di kelas VIII G hasil dan pemahaman siswa dapat dikatakan baik.

Baca juga:  Penerapan Metode Tikrar di Boarding School MTsN 3 Demak

Pelaksanaan pembelajaran teorema pythagoras yang diterapkan di SMPN 1 Kranggan, Temanggung, dapat berlangsung dengan baik. Ada interaksi antara guru dengan siswa, dan antara siswa dengan siswa walaupun belum maksimal. Dan hasil rata-ratanya menjadi meningkat yaitu 79. Ketika pembentukan kelompok sebaiknya acak. Jangan dikelompokkan sesuai posisi duduk, agar siswa yang pandai tidak terkonsetrasi.

Pembentukan kelompok yang acak dapat menciptakan variasi baru yang membuat siswa tidak bosan. Siswa akan antusias belajar, tekun dan penuh partisipasi. Agar dapat memfasilitasi siswa saat pembelajaaran, guru harus mengusai ketrampilan bertanya, mengadakan variasi dari berbagai unsur pembelajaran agar dapat tercapai tujuan dan kompetensi dasar yang disampaikan. (*/zal)

Guru SMPN 1 Kranggan, Temanggung

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya