alexametrics

Kuliah Sesungguhnya Tak Seindah di Serial Drama TV

Oleh : Lani Zinddy Utomo, S.Pd, M.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Setelah menamatkan pendidikan tingkat SMA, siswa kelas XII akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Yakni, menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Masyarakat menyebutnya dengan istilah “kuliah”. Sistem pembelajaran di perguruan tinggi tentu berbeda dengan sistem pembelajaran di SMA. Di perguruan tinggi, sistem pembelajaran yang digunakan adalah pembelajaran dengan pendekatan SCL (Student Centered Learning) dengan metode PBL (Problem Based Learning).

Sedangkan sistem pembelajaran di SD, SMP, dan SMA adalah TCL (Teacher Centered Learning), walaupun sekarang sudah banyak sekolah yang menerapkan sistem pembelajaran yang mengarah (belum sepenuhnya) ke sistem SCL.

PBL (Problem Based Learning) adalah salah satu dari metode SCL yang menggunakan masalah sebagai stimulus untuk memperoleh pengetahuan dan dipecahkan dalam kelompok siswa/mahasiswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran dengan didampingi dosen/tutor sebagai fasilitator. PBL memiliki metode yang disebut Seven Jumps yaitu : pertama, klarifikasi istilah/terminologi asing yang belum dimengerti. Kedua, menetapkan masalah. Ketiga, curah pendapat kemungkinan hipotesis atau penjelasan. Keempat, menyusun penjelasan menjadi solusi sementara. Kelima, menetapkan tujuan pembelajaran. Keenam, mengumpulkan informasi dan belajar mandiri, dan ketujuh berbagi hasil mengumpulkan informasi dan belajar mandiri (Wood, 2003).

Baca juga:  Make a Match Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Dengan perbedaan sistem pembelajaran tersebut, seleksi penerimaan mahasiswa baru pun tidak semudah yang dibayangkan. Ada tiga seleksi untuk masuk di perguruan tinggi negeri, yakni melalui SNMPTN (Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri), SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri), dan jalur mandiri. Sedangkan untuk satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi berbentuk akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut, memiliki sistem seleksi yang berbeda beda. Seleksi ini bertujuan mendapatkan calon mahasiswa yang merupakan siswa siswi unggulan yang memenuhi syarat penerimaan mahasiswa baru yang tidak sekadar lolos seleksi saja namun juga bisa menyelesaikan pendidikannya tepat waktu sesuai jenjang yang ditempuh.

Realita kuliah yang tidak semudah itu tentu berbeda dengan yang digambarkan dalam serial drama di TV. Serial drama di televisi selalu menggambarkan bahwa kuliah itu santai dengan bebasnya mengenakan style busana yang kekinian. Sementara untuk di sekolah kedinasan tentu tidak dijumpai hal demikian. Untuk mahasiswa yang di fakultas keguruan juga tentu saja tidak bisa bebas dalam berbusana saat kuliah.

Baca juga:  Asyiknya Belajar Introducing Self dengan Metode Role Playing

Dan meskipun kuliah tidak pakai seragam, tetap saja memiliki aturan harus mengenakan kemeja/kaus yang berkerah. Di serial drama memperlihatkan banyak waktu yang bisa dihabiskan untuk nongkrong di kafe, main di mal, atau kegiatan hura-hura lainnya. Sementara yang sesungguhnya adalah mahasiswa selalu mendapatkan tugas di masing-masing mata kuliah baik tugas individu maupun kelompok. Seperti membuat laporan, makalah, presentasi dan sebagainya sehingga tidak mungkin sering sering untuk melakukan kegiatan yang sifatnya hura-hura.

Di serial drama TV seringkali dicontohkan mahasiswa bisa dengan mudahnya mengakali dosennya seperti berangkat terlambat. Tidak perlu berangkat pagi, sering membolos atau nitip absen temannya, ujian bisa dengan mudah mencontek. Padahal yang sesungguhya, seminggu berangkat selama 5 hari, sama seperti sekolah. Kuliah tidak sebebas yang dibayangkan, tiap dosen memiliki peraturan masing-masing dan sebagai mahasiswi tentu saja harus mematuhinya.

Baca juga:  Bimbingan Klasikal Pencegahan Anemia untuk Mengatasi Masalah Belajar

Dengan demikian guru BK di SMA N 1 Bergas perlu melakukan orientasi atau pengenalan kegiatan perkuliahan yang sesungguhnya di dalam layanan bimbingan di kelas. Yakni dengan layanan orientasi atau informasi. Hal ini bertujuan agar siswa memiliki gambaran yang jelas bagaimana sesungguhnya “kuliah” itu dan mengetahui apa yang seharusnya dilakukan untuk menjadi mahasiswa. Sehingga setelah mendapatkan layanan BK tersebut nantinya siswa menjadi lebih bertanggung jawab dengan pilihan kuliahnya. Tidak lagi memiliki kebiasaan belajar yang sama dengan di SMA. Menjadi pribadi yang lebih dewasa dan bijaksana dalam mengambil keputusan yang menyangkut masa depannya. Memiliki mental yang baik untuk berjuang menempuh pendidikannya dan menyelesaikannya tepat waktu, belajar sungguh-sungguh dan memilih pergaulan yang baik. (nov2/lis)

Guru BK di SMA N 1 Bergas, Kabupaten Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya