alexametrics

Pengenalan Membaca Permulaan pada Anak Usia Dini dengan Alphabet Card

Oleh : Anggraeni, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pendidikan di Taman Kanak-Kanak merupakan tempat membekali anak agar siap pada pendidikan dasar. Pendekatan yang dilakukan melalui bermain seraya belajar. Anak-anak mendapatkan stimulasi pada segala aspek perkembangan.

Salah satu di antaranya adalah kemampuan membaca yang terdapat pada KD. 4.10.Menunjukkan kemampuan berbahasa reseptif (menyimak dan membaca). Namun tidak sedikit anak didik di TK Negeri Pembina Ampelgading, Kabupaten Pemalang yang masih kesulitan dalam membaca suatu kata di bawah suatu gambar.

Menurut Dalman (2014:5), membaca merupakan suatu kegiatan atau proses kognitif yang berupaya untuk menemukan berbagai informasi yang terdapat dalam tulisan. Hal ini berarti membaca merupakan proses berpikir untuk memahami isi teks yang dibaca. Oleh sebab itu, membaca bukan hanya melihat kumpulan huruf yang telah membentuk kata, kelompok kata, kalimat, paragraf,dan wacana saja. Tetapi lebih dari itu bahwa membaca merupakan kegiatan memahami lambang/tanda/tulisan yang bermakna sehingga pesan yang
disampaikan penulis dapat diterima oleh pembaca.

Baca juga:  Mengatasi Kendala Pembelajaran Olahraga di Masa Pandemi Covid-19

Menurut Montessori dalam Susab Feez (2010:31), anak usia 4 ½ – 6 tahun berada pada masa peka untuk belajar membaca, karena telah memiliki kesiapan membaca atau an emerging interest in reading.

Untuk mengembangkan kemampuan membaca pada peserta didik, di TK Negeri Pembina Ampelgading Kabupaten Pemalang menggunakan media Alphabet Card. Yaitu media pembelajaran yang dirancang oleh guru dalam bentuk kartu huruf yang didesain dengan bentuk dan warna yang menarik dan dapat ditempel pada papan flanel.

Alphabet Card terdiri dari huruf satuan, suku kata dan kata juga disertai dengan gambar pendukung. Seperti ketika mengenalkan kata gajah, maka guru menempel gambar gajah pada papan flanel kemudian di bawahnya ada kata gajah.

Baca juga:  Pemahaman Karakter dan Tokoh Wayang Ramayana Lebih Asyik dengan Kuis Kahoot

Kata gajah dipisah menjadi suku kata “ga-jah” dan dipisah lagi menjadi huruf “g-a-j-a-h”. Di sini guru menjelaskan agar berbunyi gajah maka harus ada suku kata ga yang terdiri dari g dan a dan jah yang terdiri dari j-a-h. Agar huruf dapat berbunyi harus ada huruf vokal. Huruf vokal terdiri dari lima huruf yaitu a i u e dan o. Selain huruf vokal dinamakan huruf konsonan.

Dengan Alfabet Card anak dapat melakukan simulasi untuk membuat suku kata dan menjadi kata. Mintalah kata yang mudah lebih dahulu misalnya kata yang tediri dari 2 suku kata. Misalnya kuda, buku, baju dan lain-lain. Pada kata kuda mintalah anak membuat suku kata “ku” lebih dahulu yaitu terdiri dari huruf k dan u, kemudian dilanjutkan suku kata “da” yaitu terdiri dari huruf d dan a.

Baca juga:  Tingkatkan Motivasi Belajar dan Percaya Diri Anak dengan Snowball Throwing

Jika anak sudah menguasai tahap ini maka dapat ditingkatkan pada kata yang suku katanya terdiri dari huruf yang ganjil seperti “mobil”. Demikian selanjutnya jika tahap yang mudah sudah mampu dikuasai maka dapat ditingkatkan pada kata yang lebih banyak hurufnya.

Pembelajaran menggunakan media Alphabet Card lebih menarik dari pada menggunakan metode konvensional seperti membaca tulisan di papan tulis. Media ini dapat merangsang anak untuk dapat membaca suku kata dan kata dengan lebih mudah tanpa harus mengeja lebih dahulu. Pembelajaran juga terasa menyenangkan. Anak termotivasi untuk belajar membaca karena media ini dirancang sebagai alat bermain dengan tampilan yang menarik. (wa1/lis)

Guru TK Negeri Pembina Ampelgading, Kec. Ampelgading, Kabupaten Pemalang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya