alexametrics

Mengkritisi Penggunaan Bahasa Sarkasme di Media Sosial

Oleh: Hartini, S.Pd.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, JIKA berbicara tentang media sosial tidak terlepas dari bahasa yang digunakan oleh penggunanya. Bahasa digunakan untuk mengekspresikan diri atau mengungkapkan perasaan, serta bahasa juga digunakan sebagai alat komunikasi dan beradaptasi sosial. Sedangkan bahasa yang digunakan di media sosial itu sangat beragam. Mulai dari bahasa formal, informal, bahasa baku dan tidak baku.

Namun akhir-akhir ini banyak terjadi peyimpangan bahasa di media sosial, bahkan penyimpangan itu sering merugikan pihak-pihak tertentu. Itu dikarenakan saat ini banyak bermunculan fenomena penggunaan bahasa yang tidak santun, bahkan mengarah pada sarkasme pada media sosial banyak ditemukan.

Tulisan yang berisi umpatan, caci-maki, cemooh, dan merendahkan orang lain sangat mudah ditemukan dalam akun Facebook, Twitter, Blog, dan Instagram yang disampaikan secara terbuka kepada khalayak. Media massa sebagai sarana komunikasi sering dimanfaatkan orang untuk menyampaikan pendapat yang lebih pada bersifat hujatan terhadap seseorang atau selebritis.

Baca juga:  Tingkatkan Hasil Belajar IPA dengan Strategi Index Card Match

Bahasa yang dikenal dengan bahasa kasar dan tidak sopan itu lebih dikenal dengan istilah bahasa sarkasme. Bahasa sarkasme dapat bersifat ironis. Yang jelas, pemakaian bahasa sarkasme dapat menyakiti perasaan seseorang, baik bahasa secara lisan maupun secara tulisan. “

Majas sarkasme merupakan suatu acuan yang lebih kasar dari ironi dan sinisme. Ia adalah suatu acuan yang mengandung kepahitan dan celaan yang getir. Sarkasme ini akan menyakiti hati dan kurang enak didengar. (Keraf, 2004: 143-144)

Bahasa juga berperan penting dalam perkembangan media sosial. Dalam pengaplikasian media sosial kita menggunakan bahasa sebagai bentuk informasi dan komunikasi. Kita tidak boleh menjaga orang lain dengan kata-kata/bahasa yang tidak sopan, bahkan cenderung kasar, seperti yang sering kita temui dalam Facebook, Instagram, Youtube, ataupun di Twitter yang biasa disebut netizen, yang sering menghujat dengan bahasa yang sangat tidak sopan bahkan cenderung kasar.

Baca juga:  Pembelajaran Sistem Peredaran dengan Modul Berbasis DBUS

Hal ini perlu mendapatkan perhatian khusus. Sebab, jika dibiarkan akan membentuk suatu budaya komuniksi yang tidak sehat, bahkan dapat melunturkan karakter bangsa Indonesia, yang dikenal sebagai bangsa timur yang santun dan berbudaya tinggi, menjadi bangsa yang sarkastik. Terlebih umumnya pengakses sosial media adalah kalangan remaja, termasuk siswa sekolah mulai SD hingga SMA. Hal ini menjadi perhatian khusus dari penulis yang mengajar mapel Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Gubug, Kabupaten Grobogan.

Seharusnya kita sebagai pengguna media sosial bisa bersikap bijak dalam menggunakan bahasa di media sosial. Jangan sampai bahasa yang kita gunakan menyakiti perasaan orang lain.

Harapan penulis dengan apa yang disampaikan bisa menjadi renungan kita bersama, agar dengan terjadinya hal tersebut tidak membuat jati diri bangsa kita luntur. Karena bangsa Indonesia sudah terkenal sejak nenek moyang kita sebagai bangsa yang santun. (*/aro)

Baca juga:  Aplikasi Sensor pada Motor Diesel Meningkatkan Efisiensi Bahan Bakar

Guru Bahasa Indonesia SMA Negeri I Gubug

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya