alexametrics

Peran Home Visit dalam Mengatasi Masalah Peserta Didik

Oleh : Purwiyanto, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Di dalam layanan Bimbingan dan Konseling (BK) di sekolah ada 17 jenis layanan yang harus dilaksanakan oleh guru BK. Terkenal dengan sebutan pola 17 layanan. Di antara pola 17 layanan adalah layanan home visit. Home visit adalah kegiatan kunjungan ke rumah peserta didik yang bermasalah. Dari kegiatan tersebut diharapkan guru BK dapat memperoleh data-data yang diperlukan guru dari orang tua dan lingkungannya. Sehingga guru bisa memberikan bantuan, arahan yang tepat dan benar.

Kata “home visit” mulai marak baik dalam pembicaraan atau dalam tulisan saat PJJ (pembelajaran jarak jauh) pada masa pandemi Covid 19. Hal ini bisa dimengerti karena pada masa pandemi lebih banyak peserta didik yang bermasalah bila dibandingkan dengan pembelajaran tatap muka. Permasalahan itu antara lain, tidak memiliki hand phone, bad habit (kebiasaan buruk) peserta didik, dan sinyal lemah internet yang membuat pelajaran PJJ menjadi terganggu.

Ketiga masalah yang sangat serius untuk ditangani hasil dari kunjungan penulis adalah bad habit peserta didik. Kebiasaan buruk ini seperti malas, main games, suka merokok, dan berani terhadap orangtua. PJJ membuat peserta didik tidak takut dan tidak merasa terbebani untuk tidak aktif dalam pembelajaran dan atau dalam mengerjakan tugas yang dibebankannya. Salah satu dari solusi masalah ini adalah melakukan home visit yang dilaksanakan oleh guru BK.

Baca juga:  Mencipta Puisi Mengalir dengan Respons Alam

Mengutip pendapat Indah Perdana Sari mengenai tujuan home visit adalah pertama, untuk memperoleh berbagai keterangan atau data yang diperlukan dalam memahami lingkungan dan peserta didik. Kedua, untuk mengubah dan memecahkan permasalahan peserta didik yang mengalami kesulitan. Pada tujuan kedua inilah solusi dari pemecahan masalah kemalasan peserta didik (https://almaata.ac.id).

Setelah menerima pemetaan dari peserta didik yang harus dikunjungi, guru BK bersama wali kelas menemui orangtua dan menyampaikan evaluasi peserta didik selama mengikuti KBM. Ketidakhadiran dalam KBM dari setiap mata pelajaran, dan tugas-tugas yang tidak dikerjakan oleh peserta didik.

Pada umumnya dalam tahap ini, orangtua hanya mengangguk. Mereka akan berubah raut mukanya manakala guru BK menyampaikan bahwa ketidakaktifan peserta didik akan mempengaruhi kenaikan kelas. Raut muka orangtua peserta didik semakin berubah lagi ketika ditekankan tugas-tugas keterampilan yang belum dikerjakan akan berdampak nilai nol di rapor pada kolom nilai keterampilan.

Baca juga:  Optimalkan LKPD Mengurangi Learning Loss

Tidak jarang, guru BK justru mendapat data yang mencengangkan ketika home visit. Data ini bisa didapat karena laporan dari orang tua yang bersangkutan atau situasi dan kondisi yang dilihat guru BK saat home visit. Peserta didik bangun siang, malam begadang, suka membentak orangtua, segala keinginannya harus dipenuhi, tidak mau membantu orangtua. Keberadaan peserta didik yang seperti ini membutuhkan home visit yang lebih sering. Guru BK yang juga merupakan guru profesional harus melayani peserta didik.

Peserta didik yang bermasalah merupakan klien/pasien bagi guru. Hal ini diungkapkan oleh Nur Cholid, M.Ag., M.Pd. dalam buku Menjadi Guru Profesional (2017). Home visit yang dilakukan guru BK secara berulang-ulang dan konstan mulai membuahkan hasil. Peserta didik yang tidak ada sinyal, atau sinyal internet kurang kuat, dijemput untuk mengerjakan tugas/mengikuti KBM di sekolah. Peserta didik yang dididik kurang tegas oleh orangtuanya, guru BK memberi penguatan fondasi dalam hal kedisiplinan ini. Sedikit informasi nilai rendah dan bisa tidak naik kelas akan membuat peserta didik “terpaksa” mengikuti KBM dan mengerjakan tugas.

Baca juga:  Membentuk Karakter Siswa di Masa Pandemi

Untuk peserta didik yang tergolong parah, guru BK menggandeng guru Agama dan Budi Pekerti untuk memberikan nasihat beserta ajaran-ajaran agama yang dianut peserta didik. Terkadang, home visit yang dilakukan guru BK menjadi berkah sendiri bagi peserta didik yang ternyata kurang beruntung dalam hal ekonomi. Sekolah yang mendapat laporan dari hasil home visit segera memberikan bantuan. Keberhasilan peserta didik dalam menuju cita-citanya merupakan tugas dari semua tenaga pendidik dan pendidik di SMPN 1 Grabag. Tidak terkecuali guru BK. (gr1/lis)

Guru SMPN 1 Grabag, Kabupaten Magelang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya