alexametrics

Sejarah dan Pendidikan Sejarah sebagai Pembentuk Identitas Bangsa

Oleh : Yularti, M.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Sejarah dan pendidikan sejarah berperan serta mendukung bersama-sama dengan disiplin ilmu lain untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Karena sejarah memuat hal-hal pemenuhan aspek-aspek kognitif dan afektif dari tujuan pendidikan nasional. Selain itu, dapat menjadi landasan pembentukan identitas bangsa.

Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, menjadi warga negara yang demokratis, serta bertanggung jawab (UU Sisdiknas, 2003: 6).

Pengetahuan sejarah diperoleh dari rekaman sejarah pada peninggalan masa lampau, yang disebut sumber sejarah. Sumber sejarah berupa peninggalan masa lampau tidak selalu utuh. Sehingga tidak semua informasi dari peristiwa masa lalu itu lengkap dari sumber sejarah. Tidak semua peristiwa yang terjadi pada masa lampau dapat diamati, dan diteliti.

Baca juga:  Estafet Writing Tingkatkan Kemampuan Menulis Syair Tembang Macapat

Berkaitan dengan pengetahuan sejarah yang dapat diperoleh dari rekaman sejarah masa lalu, maka sejarah memiliki nilai guna yang menuju kepada fungsi dan peranan sejarah dalam pendidikan (historical education) yang sekaligus pembentuk identitas bangsa.

Pendidikan sejarah di masa mendatang harus dapat mempersiapkan peserta didik untuk kehidupan yang mampu menguasai informasi beragam dengan akses yang luas. Oleh karena itu, peserta didik harus terlatih baik untuk menghadapi dan hidup dalam situasi itu dan dapat mengatasi keadaan yang tidak diinginkan. Serta memiliki kemampuan membangun kehidupan yang tidak terganggu oleh berbagai macam ancaman tersebut. Materi pendidikan sejarah memiliki kualitas dan karakteristik yang mampu mengembangkan kualitas yang dimaksudkan.

Proses pendidikan sejarah harus mendekatkan dan menghubungkan dengan apa yang dipelajari peserta didik dari buku pelajaran sejarah dengan lingkungan sekitarnya. Pendidikan sejarah di masa mendatang harus memberikan kesempatan kepada peserta didik dalam mengembangkan wawasan bahwa cerita sejarah yang mereka baca di buku pelajaran dan buku sejarah lainnya adalah hasil rekontruksi para ahli sejarawan. Rekontruksi tersebut dilakukan berdasarkan kaidah-kaidah ilmu sejarah. Sebagaimana layaknya ilmu-ilmu lain, hasil rekontruksi sejarah sangat ditentukan oleh kelengkapan fakta yang dimiliki.

Baca juga:  Mudah Pahami Sistem Tata Surya dengan Rotating Trio Exchange

Pendidikan sejarah di sekolah secara tradisional mengarah pada pengembangan pengetahuan dan pemahaman terhadap berbagai peristiwa sejarah, pengembangan cara berpikir kronologis, pengembangan nilai-nilai nasionalisme, patriotisme, dan toleransi.

Kehidupan di zaman prasejarah yang dipelajari dimulai sejak adanya manusia tertua di tanah air ini. Pengembangan pengetahuan dan pemahaman tentang peristiwa sejarah di wilayah Nusantara diikuti dengan pengembangan semangat patriotisme, nasionalisme, dan toleransi.

Dalam konteks ini peristiwa-peristiwa sejarah tersebut dilihat sebagai titik awal perkembangan kehidupan kehadiran bangsa Indonesia pada masa ini dengan wawasan dan pandangan bahwa pertumbuhan dan perkembangan berbangsa dan bernegara sekarang adalah suatu kelanjutan dari kehidupan masa lalu di batas wilayah tanah air Indonesia masa ini.

Baca juga:  Outdoor Learning di Kelas IPA dengan Pembelajaran Berbasis Proyek

Dengan kata lain dalam belajar sejarah wawasan kesejarahan, rasa patriotisme, dan semangat nasionalisme peserta didik sebagai generasi penerus kehidupan bangsa dibangun atas dasar pemahaman dan pewarisan kehidupan dengan wilayah.

Sejarah merupakan ilmu yang mempelajari peristiwa masa lampau, masa kini, dan masa yang akan datang, serta berfungsi sebagai landasan bagi pembentukan identitas bangsa. Pendidikan sejarah akan membentuk dan membangun cara berpikir kronologis, pengembangan nilai-nilai nasionalisme, patriotisme, dan toleransi.

Oleh karena itu pengetahuan sejarah, khususnya sejarah nasional merupakan condition sine qua non bagi proses penyadaran seluruh warga negara (Kartodirdjo, 1998: 16). Pengembangan kemampuan berpikir secara kronologis dalam pendidikan sejarah dibangun mulai dari lingkungan terdekat yaitu keluarga. Apabila dari sisi pendidikan formal, pendidikan sejarah mulai diberikan pada peserta didik yang berada pada tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. (mn2/lis)

Guru SMA Negeri 2 Wonosobo

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya