alexametrics

Tingkatkan Pemahaman Siswa dengan Metode Pembelajaran Concept Mapping

Oleh : Khusnul Khotimah, S.Pd.SD

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Berdasarkan undang-undang tujuan pendidikan nasional di Indonesia ialah sebagai berikut, “Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Sebagai pendidik harus kreatif dalam mengembangkan metode pembelajaran. Secara umum keberhasilan proses belajar mengajar dapat dilihat dari efisiensi, keefektifan, relevansi dan produktivitas proses belajar mengajar dalam mencapai tujuan-tujuan pengajaran. Efisiensi berkenaan dengan usaha yang relatif kecil dengan hasil yang optimal. Keefektifan berkenaan dengan jalan, upaya, teknik dan strategi yang digunakan dalam mencapai tujuan secara cepat dan tepat. Relevansi berkenaan dengan kesesuaian antara apa yang dilaksanakan dengan yang seharusnya dilaksanakan. Produktivitas berkenaan dengan pencapaian hasil baik secara kualitatif maupun kuantitatif.

Baca juga:  Belajar tentang Museum secara virtual di Masa Pandemi Covid-19

Salah satu cara untuk menguatkan pengetahuan dan pemahaman peserta didik terhadap bahan-bahan yang telah dibacanya adalah metode atau model pembelajaran concept mapping (peta konsep). Concept mapping merupakan model pembelajaran yang dapat melatih keterampilan siswa dalam belajar sehingga siswa dapat dengan mudah memahami dan menguasai materi pelajaran.

Concept mapping dapat membantu siswa dalam mengorganisasikan informasi-informasi yang masuk dalam fikirannya.

Hal-hal yang perlu dipersiapkan adalah potongan potongan kartu yang bertuliskan konsep-konsep utama. Selanjutnya guru membagikan potongan potongan kartu yang telah bertuliskan konsep utama kepada para peserta didik. Berikan kesempatan kepada peserta didik untuk mencoba beberapa kali membuat suatu peta yang menggambarkan hubungan antar konsep.

Pastikan peserta didik membuat garis penghubung antar konsep-konsep tersebut. Di setiap garis penghubung diharapkan peserta didik menulis kata atau kalimat yang menjelaskan hubungan antarkonsep. Kalimat-kalimat itu menunjukkan asumsi yang dibangun peserta didik dalam menjelaskan hubungan antar konsep.

Baca juga:  Belajar Sistem Pencernaan Menyenangkan melalui Make A Match

Kumpulkan hasil pekerjaan peserta didik sebagai bahan perbandingan. Tampilkan satu peta konsep yang Anda buat. Hasil pekerjaan peserta didik yang telah dikumpulkan bahaslah satu per satu. Ajaklah seluruh kelas untuk melakukan koreksi atau evaluasi terhadap peta-peta konsep yang dipresentasikan. Di akhir pembelajaran ajaklah seluruh kelas merumuskan beberapa kesimpulan terhadap materi yang dipelajari melalui peta konsep tersebut.

Peta konsep yang dikembangkan oleh seseorang akan tidak sama dengan peta konsep yang dikembangkan oleh orang lain, sebab dalam fikiran seseorang akan banyak konsep-konsep, dan konsep-konsep itu yang akan kita tuangkan secara individu. Neisser menjelaskan mekanisme proses perkembangan “kamus mental”. Komponen yang menentukan dalam proses ini adalah skemata seseorang. Skemata dikatakan sebagai “pengantisipasi” karena ia dipersiapkan menerima informasi dan mengolah informasi yang ada seperti konsep-konsep yang terdapat dalam fikiran seseorang.

Baca juga:  Pendidikan Karakter Anak Usia Dini untuk Membangun Peradaban Bangsa

Skemata akan berubah manakala mendapat informasi baru, dan informasi itu merupakan bagian dari skemata. Manakala kita melihat dialog di TV banyak sekali konsep yang lahir dari pemikiran seseorang, akan tetapi kala kita simak dialog yang lain, dengan aspek yang sama akan muncul lagi konsep yang berbeda. Sebagai pemirsa atau pendengar hanya dapat mengatakan bagus atau tidak bagus konsepnya tersebut, karena kita menerjemahkan dengan konsep-konsep yang ada di pikiran kita.

Tingkat keberhasilan siswa dalam menyerap pengetahuan sangat beragam, maka diperlukan alat ukur yang beragam. Peta konsep dapat digunakan untuk mengetahui pengetahuan siswa sebelum guru mengajarkan suatu topik, menolong siswa bagaimana belajar, untuk mengungkapkan konsepsi salah (mikonsepsi) yang ada pada anak, dan sebagai alat evaluasi. (bat1/lis)

Guru SDN Gondo 01 Kec.Tersono, Kabupaten Batang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya