alexametrics

Mengenal Model Pembelajaran Studysaster

Oleh: Zumrotul ISL, S.Pd.I

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PEMBELAJARAN terbatas di akhir tahun ajaran 2021/2022, memaksa sekolah, guru, dan siswa mencermati pola belajarannya, apakah sudah sesuai dengan aturan prokes atau masih perlu di benahi model pembelajaran yang sudah ada? Namun para guru tetap dituntut berperan aktif dan inovatif dalam mencerdaskan anak bangsa. Dengan tetap memberikan kontribusinya dalam pencegahan virus di saat pandemi ini. Hal tersebut dapat dilakukan dengan mengintegrasikan pendidikan tentang bencana kesehatan dalam pendidikan.

Model pembejaran seperti ini disebut sebagai Studysaster yang berperan efektif dalam mengedukasi para siswa melalui hasil karya pembelajaran. Seperti puisi, cerpen, video, foto, poster, komik atau lainnya. Edukasi siswa tersebut tentunya dibimbing secara daring oleh guru pengampu setiap mata pelajaran.

Nama Study saster sendiri diambil dari akronim “study” yang dalam bahasa Indonesia berarti belajar, dan “saster” berarti bencana Seperti ulasan Zakki Fitroni perihal membuat poster menyatakan, studysaster mempunyai enam langkah pembelajaran, yakni identifikasi, mencari, merencanakan, mencipta, membagikan, dan mempraktikkan. “Model pembelajaran ini bisa didefinisikan sebagai tahapan pembelajaran yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar, untuk memaksimalkan pengintegrasian pendidikan kebencanaan (prabencana, tanggap darurat dan pasca bencana) dalam kegiatan pembelajaran.

Baca juga:  Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pelajaran Kewarganegaraan di SD

Pada langkah identifikasi, peserta didik dan guru mempelajari dan berdiskusi tentang definisi dan jenis-jenis bencana dan penyebab terjadinya pandemi Covid-19. Pada tahap mencari, kemudian peserta didik bias melihat tugas pembelajaran tentang Covid-19 di Internet atau sumber lain yang relevan, sambil terus berdiskusi melalui grup WhatsApp, Zoom atau Google Classroom.

Kegiatan tersebut akan memberikan stimulus dalam mencari dan memahami konsep memvisualkan /menuliskan ide sehingga menjadi sebuah karya edukasi berupa poster, komik, video, musik, puisi, cerpen, dan lain-lain. Berikutnya mencari cara pembuatan karya tersebut melalui Google, Youtube, buku, dansumber lain yang relevan.

Setelah peserta didik melakukan proses mencari referensi, selanjutnya muncul ide /imajinasi awal untuk membuat konsep, pesan, tema dan visual. Ide yang abstrak tersebut lalu dituangkan dalam bentuk sketsa kasar atau kerangka tulisan. Kegiatan tersebut akan memberikan stimulus dalam mencari dan memahami konsep memvisualkan /menuliskan ide sehingga menjadi sebuah karya edukasi berupa poster, komik, video, musik, puisi, cerpen, dan lain-lain.

Baca juga:  Torso Permudah Belajar Alat Gerak pada Manusia

Selanjutnya muncul ide atau imajinasi awal untuk membuat konsep, pesan, tema dan visual. Ide yang abstrak tersebut lalu dituangkan dalam bentuk sketsa kasar atau kerangka tulisan. Setelah menemukan ide atau pesan dan rencana karya yang akan dikerjakan, maka peserta didik mulai memvisualkan maupun menuliskan rancangan tersebut dalam media masing-masing. Jika tugasnya berupa pembuatan puisi, maka medianya dapat berupa tulisan buku atau soft file, tugas berupa poster maka medianya di buku gambar, tugas membuat vlog dapat menggunakan handphone.

Peserta didik dapat membagikan karyanya melalui Facebook, Instagram, Twitter, blog, atauYoutube. Harapannya karya tersebut dapat dibaca dan mempengaruhi orang lain untuk ikut melakukan pencegahan Covid-19 dengan tidak melakukan pertemuan yang sifatnya kontak fisik.

Baca juga:  Cara Menghafal Satuan Panjang dengan Cepat

Karya pembelajaran tentang bencana Covid-19 tersebut wajib untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika ada siswa yang membuat karya poster tentang langkah mencuci tangan yang baik dan benar, maka dia harus melakukan cuci tangan dan mendokumentasikan untuk dilaporkan ke guru.

Melalui system study saster yang diterapkan di SDN Kedungmalang, Batang, guru dapat berkontribusi nyata yang berdampak luas dalam pencegahan Covid-19. Satu guru akan membimbing banyak peserta didik untuk mengedukasi dirinya sendiri. Selanjutnya siswa tersebut akan mengedukasi orang di sekitarnya dan masyarakat luas melalui beragam media sosial. (bat1/zal)

Guru SDN Kedungmalang, Batang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya