alexametrics

Membedakan Berbagai Jenis Segitiga Menggunakan Media Bangkopi

Oleh: Ratna Dwi Kusumawati, S.Pd.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Matematika adalah mata pelajaran mendasar yang akan selalu ditemui di bangku mana saja kita menempuh pendidikan. Sejak kita duduk di bangku TK, SD, SMP, SMA/SMK sampai dengan Perguruan Tinggi sekalipun, kita tidak bisa lari dari mata pelajaran matematika. Matematika merupakan Regina Scientiarum, yaitu “ratunya ilmu pengetahuan” atau modal dari berbagai mata pelajaran yang lain. Matematika mengajarkan kita untuk selalu bersikap sabar, berpikir cermat, teliti, hati-hati, sistematis dan rasional.

Kline (1973) mengatakan bahwa matematika itu bukan pengetahuan yang menyendiri dan dapat sempurna karena dirinya sendiri, tetapi keberadaannya itu untuk membantu manusia dalam memahami dan menguasai permasalahan sosial, ekonomi dan alam. Ilmu matematika itu dapat diterapkan untuk mempelajari ilmu-ilmu lainnya seperti kimia, fisika, biologi, ekonomi, sosial, kedokteran, arsitektur, dan teknik. Azmi Muhammad (2020) mengatakan bahwa matematika adalah proses berpikir, bukan proses berhitung. Ironisnya, mayoritas peserta didik merasa bahwa matematika merupakan cabang ilmu paling sulit dan tidak menarik untuk dipelajari.

Baca juga:  Belajar Adjective Asyik dengan WordWall

Teorema phytagoras adalah salah satu materi esensial dalam pembelajaran matematika, karena materi ini menjadi landasan dalam beberapa materi yang lain, seperti materi bangun datar, bangun ruang sisi datar, bangun ruang sisi lengkung dan sebagainya. Oleh karena itu, materi teorema phytagoras ini hendaknya dapat dikuasai dengan baik oleh seluruh peserta didik agar pada pembelajaran selanjutnya tidak mengalami banyak kendala. Adapun kebalikan dari teorema phytagoras pada dasarnya merupakan cara untuk menentukan jenis segitiga jika panjang sisi – sisinya diketahui. Dengan kata lain, kebalikan teorema phytagoras digunakan untuk melihat apakah segitiga itu termasuk jenis segitiga siku-siku, segitiga lancip ataukah segitiga tumpul.

Agar konsep jenis-jenis segitiga ini tertanam kuat dalam benak peserta didik dan tidak hanya sebatas hafalan semata, penulis mencoba menggunakan media Bangkopi, yaitu media menggunakan batang korek api sebagai suatu alat bantu penyelidikan yang digunakan oleh peserta didik di SMP Negeri 4 Kalibening tempat penulis bertugas. Sebelum memulai pembelajaran, peserta didik membaca literasi tentang jenis-jenis segitiga berdasarkan sudutnya, dan syarat terbentuknya suatu segitiga. Setelah itu, bersama dengan pasangan semeja mengerjakan lembar kerja dari guru yang berisi berbagai ukuran segitiga.

Baca juga:  Dongkrak Semangat Belajar dengan Diktat Digital

Dengan menggunakan media batang korek api ini, peserta didik secara berpasangan menyusun berbagai jenis segitiga dan menuliskan hasil segitiga yang terbentuk pada lembar kerja yang disediakan guru. Sebagai contoh, peserta didik supaya menyusun sebuah segitiga yang sisi-sisinya terdiri atas tiga batang, lima batang dan delapan batang. Dari percobaan tersebut, segitiga apakah yang akan terbentuk, atau bahkan sebaliknya, tidak bisa tersusun menjadi sebuah segitiga.

Melalui kegiatan tersebut, peserta didik melakukan pengamatan dan menemukan beberapa kesimpulan, di antaranya: jika a,b,c sembarang bilangan bukan nol, dengan a<b<c, a+b ≤ c maka tidak bisa terbentuk segitiga. Jika a,b,c sembarang bilangan bukan nol dengan a<b c2 maka yang terbentuk adalah segitiga lancip. Jika a,b,c sembarang bilangan bukan nol dengan a<b<c, a2+b2 < c2 maka yang terbentuk adalah segitiga tumpul. Jika a,b,c sembarang bilangan bukan nol dengan a<b<c, a2+b2 = c2 maka yang terbentuk adalah segitiga siku-siku.

Baca juga:  Penerapan Aplikasi pada Pembelajaran Daring

Dari kegiatan tersebut, peserta didik kelas VIII dapat lebih mudah membedakan berbagai janis segitiga tumpul, lancip, maupun siku-siku. Oleh karena itu, sangat penting untuk menyesuaikan pengajaran dengan jenjang pendidikan setiap peserta didik, dan memberikan dukungan akademik yang mereka butuhkan, untuk mengembangkan ketrampilan belajar yang tepat. Bagi para siswa, matematika bisa terlihat abstrak dan terlalu rumit ketika tidak dikaitkan dengan kehidupan nyata ataupun benda-benda konkret. (tt1/aro)

Guru SMP Negeri 4 Kalibening

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya