alexametrics

Index Card Match, Meningkatkan Pemahaman Materi Identifikasi OPT

Oleh : IDA ADIAWATI, S.P.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Budidaya tanaman merupakan kegiatan yang rutin dilakukan peserta didik jurusan ATPH di SMKN H. Moenadi Ungaran. Kegiatan ini merupakan bagian dari mata pelajaran agribisnis tanaman hias. Pada mata pelajaran ini, terdapat materi yang mempelajari tentang identifikasi Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).

OPT merupakan hal yang tidak asing bagi peserta didik. OPT adalah semua organisme yang menyebabkan penurunan potensi hasil secara langsung. Karena menimbulkan kerusakan fisik, gangguan fisiologi, dan biokimia atau kompetisi hara terhadap tanaman budidaya (Djojosumarto, 2008). OPT juga diartikan sebagai faktor biotik yang menyebabkan gangguan pada tanaman.

Pemberian materi identifikasi OPT bertujuan agar peserta didik mampu mengklasifikasikan karakteristik maupun ciri OPT. Berdasarkan morfologi dan gejala serangan yang ditimbulkan pada tanaman budidaya. Pada pembelajaran materi ini, peserta didik diharapkan tidak hanya memahami secara teori. Tetapi bisa mempraktekkan bagaimana proses melakukan identifikasi OPT.

Baca juga:  Mengembangkan Pembelajaran Dinamika Hidrosfer dengan Inkuiri

Materi identifikasi OPT cukup sering membuat peserta didik sulit memahami. Karena peserta didik harus menguasai jenis OPT, memahami tentang ciri morfologi, serta membedakan bagaimana kenampakan gejala yang dimunculkan pada setiap tanaman yang terserang. Kesulitan yang dihadapi peserta didik, membuat pendidik harus melakukan inovasi pembelajaran.

Upaya pembaruan dalam penerapan inovasi pembelajaran diharapkan dapat memberikan motivasi bagi peserta didik untuk mengikuti proses belajar dengan baik, mudah dalam memahami materi, serta meningkatkan hasil belajar. Salah satu upaya yang dilakukan adalah penerapan model pembelajaran yang kreatif, inovatif, serta mampu meningkatkan semangat dan aktivitas peserta didik. Yaitu Index Card Match (ICM). Strategi untuk mengatasi masalah belajar dengan mencocokkan kartu indeks.

Menurut Silberman (2009), ICM adalah cara menyenangkan dan aktif untuk meninjau ulang materi pelajaran. Dimana peserta didik diperbolehkan berpasangan dan memainkan kuis dengan kawan sekelas. ICM dapat diterapkan untuk materi baru dengan syarat peserta didik mempelajari topik yang akan diajarkan terlebih dahulu.

Baca juga:  Melatih Siswa Cermat Belajar Kenampakkan Alam dengan Index Card Match

Penerapan ICM dilakukan dengan cara belajar dan bermain untuk dapat merangsang peserta didik agar melakukan aktivitas belajar secara bertanggung jawab dan disiplin. Menurut Zaini (2008), langkah – langkah dalam model pembelajaran ICM yaitu; 1) Guru membuat potongan kartu sebanyak jumlah peserta didik di kelas. Kemudian kartu dibagi menjadi dua kelompok; 2) Guru menulis pertanyaan tentang materi yang akan diajarkan. Setiap kartu berisi satu pertanyaan dan jawaban; 3) Kartu diacak agar soal dan jawaban tercampur; 4) Setiap peserta didik diberi satu kartu. Sebagian mendapat soal dan sebagian mendapat jawaban; 5) Peserta didik diminta mencari dan menemukan pasangan. Disini guru menjelaskan agar peserta didik tidak saling memberitahu materi yang mereka dapatkan; 6) Setelah peserta didik menemukan pasangan dan duduk berdekatan, setiap pasangan diminta bergantian membacakan soal yang diperoleh dengan keras kepada yang lain. Selanjutnya soal tersebut dijawab pasangan yang lain; 7) Pembelajaran diakhiri dengan membuat klarifikasi dan kesimpulan.

Baca juga:  Berlatih Berbahasa Inggris dengan Menulis Caption di Medsos

Model pembelajaran ICM ternyata memberikan hasil yang lebih baik. Model ICM membuat peserta didik lebih kreatif, mandiri, serta lebih paham dalam mempelajari materi OPT. Sebagai contoh peserta didik dapat melakukan identifikasi OPT dengan mencocokkan gejala serangan yang ditemukan pada tanaman dengan kunci determinasi.

Indikator ini dapat menggambarkan peningkatan dan penguasaan peserta didik pada materi. Baik aspek pengetahuan maupun keterampilan. Peningkatan aspek pengetahuan dan keterampilan dapat menggambarkan capaian kompetensi peserta didik secara maksimal. (tt1/fth)

Guru Agribisnis Tanaman SMKN H. Moenadi Ungaran

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya