alexametrics

Tercipta Interaksi Edukatif antara Guru dan Siswa dengan Metode Drill

Oleh: Elviana, S.Pd.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang menuntut setiap guru untuk melakukan kegiatan pembelajaran yang aktif dan menarik di dalam kelas. Pada kurikulum 2013, siswa dituntut untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran dan guru berperan lebih banyak sebagai fasilitator.

Pembelajaran yang monoton yang hanya berisikan ceramah dari guru sudah harus dirubah menjadi pembelajaran yang lebih mengedepankan aktivitas siswa. Penggunaan model pembelajaran yang menarik, penggunaan media dan alat peraga adalah hal yang mutlak harus dilakukan oleh setiap guru dalam setiap pembelajaran. Dengan pembelajaran yang menarik, maka akan meningkatkan semangat belajar siswa, dengan semangat belajar yang tinggi tentunya prestasi belajar siswapun juga akan dapat meningkat.

Penulis melihat situasi peserta didik dalam masih rendah dan kurang lancarnya membaca. Seorang guru harus bisa memilih metode pembelajaran yang tepat agar dapat membangkitkan motivasi belajar dan keaktifan siswa yang kemudian akan berdampak pada prestasi belajar siswa dan kualitas pembelajaran. Salah satunya adalah melalui metode pembelajaran drill. Metode drill juga disebut metode latihan. Kata latihan mengandung arti bahwa sesuatu itu selalu diulang-ulang. Akan tetapi bagaimanapun juga antara situasi belajar yang pertama dengan situasi belajar yang realistis, ia akan berusaha melatih keterampilannya.

Baca juga:  Pandemi, Pengawas “Superman Shoping” Administrasi Kepala Sekolah

Bila situasi belajar itu diubah-ubah kondisinya, sehingga menuntut respons yang berubah, maka keterampilan akan lebih disempurnakan. Menurut Pasaribu dan B. Simandjuntak (1986: 112) tujuan metode drill adalah untuk memperoleh suatu ketangkasan, keterampilan tentang sesuatu yang dipelajari anak dengan melakukannya secara praktis pengetahuan-pengetahuan yang dipelajari anak itu dan siap dipergunakan bila sewaktu-waktu diperlukan.

Langkah-Langkah metode drill antara lain: pertama, menjelaskan maksud dan tujuan latihan terbimbing pada siswa. Kedua, guru harus lebih menekankan pada diagnosa, karena latihan permulaan belum bisa mengharapkan siswa mendapatkan keterampilan yang sempurna. Ketiga, mengadakan latihan terbimbing, sehingga timbul response siswa yang berbeda-beda untuk peningkatan keterampilan dan penyempurnaan kecakapan siswa. Keempat, memberi waktu untuk mengadakan latihan yang singkat agar tidak meletihkan dan membosankan dan guru perlu memperhatikan response siswa apakah telah melakukan latihan dengan tepat dan cepat.

Baca juga:  Menstimulasi Aktivitas Senam Irama dengan Rangku Alu

Kelima, meneliti hambatan atau kesukaran yang dialami siswa dengan cara bertanya kepada siswa, serta memperhatikan masa latihan dengan mengubah situasi. Sehingga menimbulkan optimisme dan rasa gembira pada siswa yang dapat menghasilkan keterampilan yang baik. Keenam, guru dan siswa perlu memikirkan dan mengutamakan proses-proses yang pokok dan tidak banyak terlibat pada hal-hal yang tidak diperlukan. Ketujuh, guru perlu memperhatikan perbedaan individual siswa, sehingga kemampuan dan kebutuhan siswa masing-masing dapat berkembang.

Dengan metode ini diharapkan siswa kelas 1 SD Negeri 03 Gebangkerep, Kecamatan Sragi, Kabupaten Pekalongan tumbuh aktif dalam mengikuti pembelajaran dapat menumbuhkan kegiatan belajar siswa, dan sesuai dengan kondisi pembelajaran. (cd2/aro)

Guru Kelas 1 SD Negeri 03 Gebangkerep, Kecamatan Sragi, Kabupaten Pekalongan

Baca juga:  Peningkatan Keterampilan Berpikir Kritis Melalui Model Problem Based Learning

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya