alexametrics

Mengaktifkan Pembelajaran Aritmatika Sosial melalui Blended Learning

Oleh: Sri Mulyani, S.Pd., M.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pembelajaran Aritmatika Sosial merupakan salah satu kompetensi dasar dalam mata pelajaran Matematika yang mencermati kegiatan-kegiatan sehari-hari berkaitan dengan transaksi jual beli, kondisi untung, rugi, dan impas. Pembelajaran Aritmatika Sosial yang dilakukan secara daring mengalami berbagai kendala yang utamanya adalah banyak peserta didik kurang mengerti dan memahami materi. Meskipun dalam pembelajaran daring, antara guru dan peserta didik dapat meet melalui Google Meet, namun tetap saja banyak peserta didik yang tidak paham dengan materi.

Model pembelajaran Aritmatika Sosial yang dianggap efektif saat ini adalah kombinasi antara model luring dengan model daring. Pembelajaran luring masih menjadi cara terbaik untuk kegiatan pembelajaran. Kelebihan utamanya adalah kuatnya interaksi yang terjadi antara guru dan peserta didik yang dapat menghadirkan lingkungan ideal untuk belajar. Sedangkan pembelajaran daring sendiri memiliki kelebihan dalam kekayaan sumber belajar yang diberikan, dimana guru dan peserta didik dapat mencapai sumber-sumber belajar yang sangat luas. Interaksi antara guru dengan peserta didik juga merupakan interaksi langsung dengan virtual.

Unsur-unsur nonverbal dalam interaksi selama proses pembelajaran Aritmatika Sosial daring umumnya tidak tersampaikan secara sempurna. Penyajian materi Aritmatika Sosial tidak dapat optimal karena berbagai hambatan, sehingga hasil belajar Aritmatika Sosial pada peserta didik juga tidak dapat maksimal.

Baca juga:  STM Tingkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Belajar IPS

Interaksi secara langsung antara guru dengan peserta didik dalam proses pembelajaran Aritmatika Sosial merupakan hal yang signifikan karena meskipun peserta didik dapat belajar seluas-luasnya dengan online, namun demikian tidak setiap peserta didik dapat bertahan lama belajar di depan komputer ataupun smartphone tanpa interaksi.

Peserta didik membutuhkan feedback dari guru dan sebaliknya guru juga membutuhkan feedback dari peserta didik, sehingga dengan hal ini akan diperoleh hasil belajar Aritmatika Sosial sesuai yang diharapkan. Selain itu, dalam latihan-latihan soal Aritmatika Sosial tidak sedikit peserta didik yang kurang mengerti dan kurang paham. Sehingga banyak sekali yang jawaban dari soal atau tugasnya belum sesuai.

Melalui Blanded Learning dapat menghilangkan kesan kesendirian, sehingga semakin terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Peserta didik tidak monoton melakukan proses pembelajaran dengan memanfaatkan internet, tetapi peserta didik juga dapat belajar bersama guru secara bertatap muka langsung tanpa sekat tempat dan waktu.

Baca juga:  Audio Visual Tingkatkan Minat Belajar Aksara Jawa

Blended Learning sebagai suatu proses mempersatukan beragam model pembelajaran yang dapat dicapai dengan penggabungan sumber-sumber virtual dan fisik. Blended Learning mengintegrasikan atau menggabungkan program belajar dalam format yang berbeda dalam mencapai tujuan umum. Blended Learning juga sebagai sebuah kombinasi dan berbagai strategi didalam pembelajaran. Sehingga dapat dikatakan bahwa Blended Learning merupakan model pembelajaran yang menggabungkan dua atau lebih metode dan strategi dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan dari proses pembelajaran. Guru dapat sekreatif mungkin dalam memilih model, metode, ataupun strategi pembelajaran yang sesuai. Hal ini merupakan poin plus dari model Blended Learning.

Pembelajaran Aritmatika Sosial melalui Blended Learning diharapkan akan mengoptimalkan pengalaman belajar bagi guru dan juga peserta didik. Pelaksanaan model Blended Learning ini memungkinkan penggunaan sumber belajar online, terutama yang berbasis web/blog, tanpa meninggalkan kegiatan tatap muka. Sebagai salah satu bentuk aktivitas model Blended Learning ini adalah individualized learning yaitu peserta didik dapat belajar mandiri dengan cara mengakses informasi atau materi pelajaran secara online.

Baca juga:  Paternalistik Jitu untuk Waskat

Belajar mandiri ini juga bukan berarti belajar sendiri, karena orang kadang seringkali salah arti mengenai belajar mandiri sebagai belajar sendiri. Belajar mandiri berarti belajar secara berinisiatif, dengan ataupun tanpa bantuan orang lain dalam belajar. Peserta didik yang belajar mandiri mempunyai kebebasan dan otonomi yang luas dalam belajar. Kemandirian itu perlu diberikan kepada peserta didik agar mempunyai tanggung jawab dalam mengatur dan mendisplinkan diri dalam mengembangkan kemampuan belajar atas kemauannya sendiri.

Model Blended Learning mengubah peran guru sebagai instruktur menjadi fasilitator atau perancang proses belajar. Sebagai fasilitator, seorang guru sangat diharapkan mampu membantu peserta didik mengatasi kesulitan belajar, atau dapat menjadi mitra belajar untuk materi tertentu pada program tutorial. Dan juga tugas perancang proses belajar mengharuskan guru untuk mengubah materi ke dalam format yang sesuai dengan pola belajar mandiri. Besar harapan dengan penerapan model pembelajaran yang kreatif dan inovatif mampu untuk meningkatkan hasil belajar Aritmatika Sosial dan keaktifan belajar peserta didik SMP Negeri 3 Salatiga.(igi1/aro)

Guru SMP Negeri 3 Salatiga

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya