alexametrics

Mind Mapping Tingkatkan Pemahaman Belajar IPS

Oleh : Hindah Wasis Hardaningtiastuti, M.Pd.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Materi ‘kehidupan masyarakat Indonesia pada masa praaksara’ yang terdapat dalam pelajaran IPS salah satu materi ajar yang membutuhkan pemahaman yang lebih bagi siswa. Banyak sekali istilah-istilah baru serta urutan periodisasi kehidupan yang sangat kompleks. Siswa perlu memahami urutan kehidupan kapan dimulainya masa praaksara dan kapan waktu berakhirnya, peninggalan setiap periodisasi serta perkembangan masyarakat praaksara.

Menurut R. Sukmono (1990) masa praaksara adalah masa sebelum manusia mengenal bentuk tulisan. Masa pra-sejarah dan pra-aksara disebut juga dengan masa nirleka (nir artinya tidak ada, dan leka artinya tulisan), yaitu masa tidak ada tulisan. Mempelajari kehidupan masyarakat Indonesia pada masa praaksara sangat bermanfaat bagi siswa untuk memahami berbagai hal mulai dari mengenal masa praaksara, periodisasi kehidupan masyarakat Indonesia pada masa praaksara, nilai-nilai budaya serta peninggalan masyarakat Indonesia pada masa praaksara.

Mind mapping dijadikan solusi guru sebagai media pembelajaran IPS di kelas VII SMP Negeri 4 Batang. Pemilihan mind mapping dianggap pas karena merupakan salah satu teknik pemanfaatan keseluruhan potensi kerja otak siswa untuk memiliki kemampuan memetakan sebuah pikiran dapat berbentuk suatu percabangan dari bagan-bagan. Bisa juga diartikan sebagai sebuah metode untuk mengelola informasi secara keseluruhan melalui pemetaan peta pikiran berbentuk percabangan yang dituangkan langsung ke dalam media tulis kertas maupun digital.

Baca juga:  Mind Mapping Solusi Pembelajaran IPS di Masa Pandemi Covid-19

Manfaat pembuatan mind mapping dapat mempercepat proses pencatatan karena hanya menggunakan kata kunci. Meningkatkan kemampuan untuk mengingat hal-hal penting serta menemukan gambaran utuh dari informasi membaca buku atau sumber-sumber lain yang dikumpulkan menjadi satu menggunakan mind mapping. Melatih siswa lebih konsentrasi serta teliti mengelompokkan sub-sub tema.

Mengasah kreativitas dan imajinasi siswa dalam rangkuman materi yang menarik. Siswa terdorong untuk sering membaca kembali sehingga meningkatkan ingatan, sehingga menghemat waktu dalam mempelajari dan memahami materi ajar. Kemudahan dan perasaan senang menyebabkan siswa terbiasa membuat mind mapping yang berdampak pada efisiensi waktu memahami materi ajar.

Sehari sebelum pembelajaran siswa diminta membawa alat yang dibutuhkan berupa kertas HVS ataupun kertas gambar serta pulpen atau spidol warna warni. Pada saat pembelajaran guru meminta siswa merancang model peta konsep. Model rancangan tergantung kreativitas masing-masing siswa. Menurut Arends (1997:258), dalam penyusunan peta konsep ada langkah-langkahnya.

Baca juga:  Wisata Virtual, Alternatif Media Pembelajaran Kepariwisataan di Masa Pandemi

Pertama mengidentifikasi ide utama, kedua menetukan konsep sekunder/sub-sub tema, ketiga menentukan ide utama diletakkan tengah atau atas halaman kertas, keempat meletakkan ide sekunder mengelilingi ide utama. Siswa diarahkan membuat peta konsep dengan tema masyarakat Indonesia pada masa praaksara di buku tulis.

Selanjutnya mencari sub-sub tema yang terkait dengan tema utama. Catatan siswa yang berisi tema dan sub-sub tema dituangkan dalam kertas HVS. Kertas diberi garis tepi dan ditulis identitas diri. Judul atau tema utama diletakkan pada bagian tengah halaman yang dilingkupi lingkaran atau persegi maupun bentuk lain. Garis cabang ditambahkan terhubung tema utama untuk setiap ide dan anak gagasan utamanya. Banyaknya jumlah garis cabang tergantung jumlah cabang atau sub dari ide utama dan diwarnai berbeda untuk tiap garis cabangnya. Setiap garis cabang ditulis kata kunci sebagai inti dari gagasan dan memicu ingatan siswa. Memudah siswa mengingat ditambah singkatan yang familiar, simbol-simbol dan ilustrasi-ilustrasi menarik.

Baca juga:  Discovery Learning dengan Media Puzzle Kehidupan 2 Zaman

Bentuk atau model serta pemahaman alur peta konsep merupakan implemetasi pembelajaran berorientasi pada keterampilan berpikir tinggi (HOTS) melibatkan 3 aspek keterampilan yaitu transfer of knowledge terkait kemampuan siswa berupa keterampilan pengetahuan, afektif berhubungan dengan nilai, emosi, sikap dan perasaan, dan psikomotorik, yang berhubungan dengan kemampuan fisik atau keterampilan. (bat1/ton)

Guru IPS SMP Negeri 4 Batang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya