alexametrics

Menghafal Rumus dengan Kartu Identitas Trigonometri (KIT)

Oleh : Nanang Yulianto S.Pd M.Sc

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, MATERI Trigonometri diberikan di kelas X semester II, termasuk di dalamnya adalah rumus-rumus identitas trigonometri. Rumus-rumus Identitas Trigonometri seringkali dianggap sulit bagi siswa jurusan MIPA, IPS maupun Keagamaan karena banyak rumus yang harus dipahami dan dihafalkan. Terbukti dari hasil Penilaian Harian matematika siswa yang masih jauh dari harapan.

Konsep dasar yang harus dipahami oleh siswa adalah suatu kesamaan trigonometri disebut identitas trigonometri apabila berlaku untuk sembarang sudut yang diberikan. Kebenaran suatu identitas trigonometri dapat ditunjukkan dengan cara, mengubah bentuk ruas kiri sehingga diperoleh bentuk yang sama dengan ruas kanan atau mengubah bentuk ruas kanan sehingga diperoleh bentuk yang sama dengan ruas kiri.

Berikut adalah beberapa rumus dasar identitas trigonometri: sin A = 1/cosec A, cos A = 1/sec A, tan A = 1/cotg A, tan A = sin A/cos A, cotg A = cos A/sin A, sin2A+cos2A=1, cotg2A+1=cosec2A, dan tan2A+1=sec2A. Rumus-rumus identitas trigonometri tersebut dapat dibuktikan kesamaannya dengan rumus-rumus dasar trigonometri segitiga siku-siku pada sumbu kartesius yaitu: sin=y/r, cos=x/r, tan=y/x, cosec=r/y, sec=r/x, dan cotg=x/y, hal ini dapat membantu siswa untuk memahami, mengingat atau menghafal rumus-rumus identitas trigonometri.
Pada umumnya siswa MAN 1 Gunungkidul masih kesulitan dalam mengingat atau menghafal rumus-rumus identitas trigonometri di atas, oleh sebab itu guru dituntut untuk mengembangkan model pembelajaran yang menarik dan menyenangkan sehingga membekas di benak pikiran para siswa.

Baca juga:  Pembiasaan sebagai Basis Penanaman Nilai-Nilai Islam

Salah satu model pembelajaran yang menarik dan menyenangkan selama mendampingi siswa belajar di MAN 1 Gunungkidul adalah model pembelajaran Kartu Identitas Trigonometri (KIT) yang terdiri atas 17 pasang kartu. Kartu warna merah untuk rumus identitas yang ditanyakan dan kartu warna biru untuk kesamaannya. Model KIT merupakan kombinasi dari model pembelajaran card sort dan make a match.
Menurut Marjuki (2020:204) model card sort adalah suatu pembelajaran yang menekankan keaktifan siswa berupa pemberian kartu yang berisi informasi terkait materi pelajaran yang sedang dibahas. Selanjutnya siswa mencari induk kelompok sesuai dengan kategori kartu indeks yang dimilikinya.

Sedangkan make a match menurut Rusman (2011:223) adalah bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen.

Baca juga:  Konversikan Satuan Panjang dan Berat Berbantukan Bagan Tangga

Langkah-langkah permainan KIT secara berkelompok adalah sebagai berikut, siswa membentuk kelompok yang terdiri atas lima orang. Kelima siswa tersebut mengundi urutan untuk memperoleh nomor 1 sampai dengan nomor 5. Seorang siswa yang lain membagikan KIT tersebut kelima siswa dengan cara satu–satu secara adil kartu warna merah dulu setelah habis baru kartu warna biru. Setelah terbagi, maka kartu akan tersisa 2 kartu merah dan 2 kartu biru untuk diletakkan secara tertutup di atas meja permainan. Siswa yang mempunyai nomor urut 1 meletakkan sebuah kartu yang dipegang di atas meja. Siswa yang lain atau dia sendiri meletakkan kartu yang merupakan pasangan kartu yang telah dijatuhkan oleh pemain 1.

Baca juga:  Dengan Joyfull Learning Belajar Matematika Semakin Asyik dan Menyenangkan

Siswa yang mempunyai pasangan kartu yang diletakkan oleh pemain 1 berhak meletakkan kartu berikutnya untuk dijawab siswa bahkan boleh dia sendiri. Jika pada permainan ternyata kelima siswa tidak mempunyai pasangan kartu yang dijatuhkan, maka siswa mengambil kartu yang diletakkan secara tertutup dengan terlebih dahulu mengundi. Siswa yang kartunya telah habis duluan maka diberi nilai 100, dan seterusnya sampai siswa yang terakhir dengan nilai dikurangi 5 untuk tiap siswa.

Melalui permainan KIT penulis menyimpulkan bahwa model pembelajaran ini dapat menarik perhatian siswa dalam proses pembelajaran matematika, merangsang siswa agar matematika menyenangkan baginya, mendorong siswa untuk lebih aktif, kreatif serta bersemangat dalam belajar, tidak membosankan dan akan lebih terkesan dalam benaknya daripada hanya sekedar menghafalkan rumus. (rn2/ida)

Guru Matematika MAN 1 Gunungkidul

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya