alexametrics

Pentingnya Memahami Etika Komunikasi dalam Pembelajaran Jarah Jauh

Oleh: Pujiatun, S.Kom

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PANDEMI yang melanda di seluruh dunia menjadikan perubahan kehidupan disetiap lini, termasuk dalam dunia pendidikan. Belajar yang semula dilalui dengan bertatap muka dengan adanya pandemi semua kegiatan pembelajaran melalui daring (dalam jaringan).

Peran orang tua dan guru sangat penting untuk memahami perkembangan jiwa dan psikologi peserta didik dalam menggunakan teknologi, hal ini diharapkan dapat mendukung dalam pendidikan serta pembentukan karakter peserta didik baik di lingkungan sekolah, masyarakat maupun dilingkungan keluarga.

Mencermati perkembangan media sosial (medsos) dan wawancara terhadap orang tua wali yang hadir ke sekolah rata-rata mereka membiarkan peserta didik menggunakan Handphone. Ternyata penggunaan handphone tanpa pendampingan orang dewasa menimbulkan perubahan dampak prilaku-prilaku yang sangat luar biasa dalam menentukan karakter peserta didik.

Dalam pembelajaran jarak jauh ini SMPN 2 Secang menggunakan berbagai media yaitu : Microsoft Teams, Smart School, dan Whatsapp untuk berkomunikasi secara real time dengan peserta didik.

Penggunaan sosial media bisa menjadi positif ataupun berdampak negatif tergantung bagaimana para guru maupun orang tua dalam mengarahkan anak. Penggunaan sosial media dari segi tanggung jawab dan waktu penggunaannya sangatlah penting untuk diperhatikan sehingga butuh banyak peran dari seluruh masyarakat terutama orang dewasa untuk bisa membimbing anak-anak dalam usia sekolah dasar tersebut (Adebiyi, 2015).

Baca juga:  Peran IT pada Pembelajaran Daring di Masa Pandemi Covid-19

Selama pandemi berlangsung beberapa peserta didik punya kebiasaan mengawali percakapan atau berkirim pesan melalui whatsapp hanya dengan menuliskan huruf “P”. Komunikasi tersebut banyak ditiru oleh peserta didik lain tanpa mereka mengetahui makna dari kata tersebut.

Berkaitan dengan permasalahan tersebut kami sebagai guru Pembimbing TIK berkeinginan untuk meluruskan dan menjelaskan cara berkomunikasi yang baik dan benar melalui media digital.

Sebelum masuk dalam dunia digital yang digunakan untuk chating ada istilah PING yang berfungsi untuk ujicoba sebuah computer yang terhubung dengan computer lain atau tidak.

Anak-anak tidak salah hanya saja kurang lengkap dalam menangkap informasi bahwa “P” di maksud dalam dunia digital ada istilah PING yang dipakai pada smartphone Blackberry Messenger (BBM) pada zamannya yaitu berfungsi untuk mengecek keaktifan lawan chat kita, atau agar pesan yang kita kirim bisa direspon lebih cepat oleh penerima.

Baca juga:  Belajar Gerpes Pencak Silat dengan Model Project Based Learning

Sementara para peserta didik menggunakan istilah “P” di awal berkomunikasi dimaksudkan untuk segera mendapatkan balasan atau respon dari penerima. Bahkan anak mengirimkan pesan “P” sampai berkali-kali sehingga terkesan tidak sopan. Terlebih lagi bila hal ini dikirimkan pada guru ataupun orang yang lebih tua.

Hal ini sejalan dengan Perpres nomor 87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter menegaskan bahwa pendidikan karakter bertujuan untuk melindungi anak bangsa, serta mengembangkan nilai-nilai karakter luhur yang ada pada siswa.

Selama pembelajaran daring kita kesulitan untuk melakukan penumbuhan karakter pada anak, tetapi kita masih bisa melakukan dari hal yang sederhana.

Sebagai guru dan juga pendidik, kita perlu mengajarkan adab dan sopan santun terlebih dahulu, sebelum menyampaikan ilmu. Hal ini memang perlu kerja sama dengan orang tua dalam menumbuhkan karakter anak-anak kita agar menjadi lebih baik. Diharapkan orang tua membantu mengajarkan sopan santun dalam berkomunikasi.

Baca juga:  Pembelajaran Daring Materi Pantun melalui Kartu Kata

Adab atau etika yang harus di pahami untuk dapat berkomunikasi dengan baik dan lancar dalam menulis di Whatsapp (WA). Antara lain menulis salam saat memulai percakapan. Tulislah Assalammualikum (bagi yang muslim), dan gunakan huruf kapital sesuai Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

Isi pesan jangan menyuruh guru untuk menggantikan kewajibannya sebagai siswa (mungkin faktor kedekatan dengan gurunya jadi dianggap seperti temannya). Penggunaan tanda titik, seru, dan tanya cukup sekali, jika meminta bantuan kepada orang yang lebih tua, kata “mohon” lebih sopan daripada kata “tolong”.

Melalui pembelajaran daring/online guru tidak hanya sekadar mentransfer ilmu, tapi justru menjadi sarana penumbuhan karakter peserta didik selama proses Belajar Dari Rumah (BDR). Peran komunikasi antara guru dan peserta didik sangat penting untuk menunjang kelancaran dan keberhasilan proses belajar ini. (tt1/zal)

Guru SMPN 2 Secang, Magelang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya