alexametrics

Studi Komparatif Perbedaan Candi Hindu-Buddha dengan Replika dalam Pembelajaran Sejarah

Oleh : Muhammad Ikhsan, S.S., M.Hum

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Setiap siswa memiliki keunikan masing-masing. Guru perlu mengetahui hakikat pembelajaran inovatif dan interaktif seiring dengan meredanya pandemi Covid-19 serta diperbolehkannya pembelajaran tatap muka terbatas (PTM) atau blended learning. Guru yang kurang inovatif dan interaktif dalam proses belajar pembelajaran membuat siswa jenuh. Untuk itu perlu kreativitas dalam pembelajaran sejarah. Terutama memadukan antara pembelajaran daring dengan luring.

Dalam pengajaran sejarah, metode dan pendekatan serta model yang telah dipilih dan merupakan alat komunikasi yang baik antara pengajar dan siswa, sehingga setiap pengajaran dan setiap uraian sejarah yang disajikan dapat memberikan motivasi belajar.

Salah satu materi kompetensi dasar dalam pembelajaran sejarah Indonesia kelas 10 adalah tentang “proses masuk dan berkembangnya agama dan kebudayaan Hindu – Budha di Indonesia.” Beberapa materi di dalamnya menyangkut peninggalan-peninggalannya seperti candi, arca, relief, serta artefak lainnya. Materi ini sering dianggap sulit oleh sebagian anak. Terutama yang berkaitan dengan membedakan antara candi Hindu dengan Buddha.

Baca juga:  Pentingnya Unggah-Ungguh dalam Penguatan Karakter Siswa

Untuk mempermudah pemahaman digunakan studi komparatif atau membandingkan antara model candi Hindu dan Buddha dengan menggunakan model replika candi. Sehingga anak akan lebih mudah memahami perbedaan yang ada terutama dilihat dari sisi arsitektur atau bentuk bangunannya.

Menurut Barbara Prashnig gaya belajar yang unik sesuai dengan kekuatan pribadi seseorang akan membuat mereka merasa terbantu dalam menyerap dan mengolah informasi sehingga belajar serta berkomunikasi akan lebih mudah (2007: 29). Penggunaan replika ini diharapkan akan membuat anak terbantu untuk memudahkan membedakan candi Hindu dengan Buddha.

Adapun langkah-langkah model pembelajaran studi komparatif dengan replika dapat dilakukan dengan cara menunjukkan beberapa replika candi serta arca-arca peninggalan Hindu-Buddha lebih dahulu. Setelah itu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: pertama, guru membagi kelas dalam beberapa kelompok heterogen terkait. Kedua, guru menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok. Ketiga, guru memanggil ketua kelompok untuk untuk memberikan tugas terkait perbedaan candi Hindu dengan Buddha, tiap kelompok mendapat satu tugas investigasi yang berbeda dengan kelompok lain.

Baca juga:  Modifikasi Mnemonik Belajar Sejarah Melalui Lawatan

Keempat, masing-masing kelompok membahas materi tugas secara kooperatif berisi penemuan hasil investigasi. Kelima, setelah selesai diskusi kelompok, juru bicara kelompok menyampaikan hasil pembahasannya dengan masing-masing membawa replika contoh candi Hindu dengan Buddha. Keenam, guru memberikan penjelasan, kesimpulan, dan penilaian dari hasil diskusi kelompok atas pelaksanaan pengunaan replika sebagai media pembelajaran.

Perbedaan pokok yang dapat terlihat dengan jelas adalah pada puncak candi tersebut. Jika di puncak candi tersebut terdapat stupa, maka candi tersebut merupakan candi Buddha. Jika candi tersebut di puncaknya terdapat ratna, maka candi tersebut merupakan candi bernafaskan agama Hindu.

Disamping itu juga cerita yang tergambar dalam relief. Pada candi Hindu relief biasanya mengkisahkan tentang cerita dalam agama Hindu seperti Garudeya, Ramayana, Mahabharata, Tantrikamandaka. Sedangkan pada candi Buddha mengisahkan cerita tentang Buddha seperti Jataka, Lalitavistara.

Model pembelajaran melalui penggunaan replika candi serta arca peninggalan Hindu-Buddha menjadi salah satu solusi alternatif untuk meningkatkan minat belajar siswa. Khususnya pada mata pelajaran sejarah. Dengan metode ini diharapkan siswa akan senang dan tertarik, kemudian memahami materi pelajaran sejarah itu dengan sendirinya.

Baca juga:  Mengasah Literasi Melalui Narrative Reading Challenge

Untuk mengetahui ketertarikan minat siswa belajar sejarah dapat diukur dari partisipasi aktif siswa mengikuti pembelajaran terutama saat diskusi. Serta ketuntasan belajar siswa pada mata pelajaran sejarah dengan penggunaan model studi komparatif yang menggunakan replika

Keberhasilan peningkatan minat belajar sejarah siswa melalui penerapan pembelajaran menggunakan replika memberi gambaran sebagai berikut : minat siswa untuk belajar sejarah bertambah karena siswa dapat mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan dari teman sendiri. Sehingga kemampuan literasi siswa akan bertambah.

Minat membaca dan rasa percaya diri siswa meningkat karena menggunakan replika menuntut siswa untuk membaca materi dengan baik. Dapat melihat replika bukti sejarah dari materi yang dibahas, dan peran aktif siswa dalam proses pembelajaran. (wa1/lis)

Guru Sejarah SMAN 1 Wonotunggal, Kabupaten Batang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya