alexametrics

Tingkatkan Pembelajaran IPA melalui Model Pembelajaran PBL

Oleh : Andika Mardiansah S.Pd.SD

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, KEHADIRAN Kurikulum 2013 tidak lepas dari kurikulum 2006. Perubahan kurikulum adalah perubahan pola pikir. Dapat dikatakan perubahan budaya mengajar guru dalam melaksanakan pendidikan di sekolah serta menjadikan siswa lebih aktif dalam mengonstruksi pengetahuan dan keterampilannya. Akibatnya, proses pembelajaran yang awalnya berpusat pada guru berubah menjadi berpusat pada siswa.

Pola pembelajaran dalam kurikulum 2013 menggunakan pola pembelajaran tematik-integratif. Artinya pembelajaran berdasarkan tema yang mencakup seluruh mata pelajaran beserta kompetensinya. Dengan demikian tidak ada pemisah antarmata pelajaran (mapel).

Model Problem Based Learning (PBL) atau model pembelajaran berbasis masalah adalah pembelajaran yang menghadapkan siswa pada situasi masalah di dunia nyata. Dalam penerapan model ini, siswa diminta untuk mengobservasi suatu fenomena dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian tugas guru merangsang siswa untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah, memancing siswa untuk bertanya, membuktikan asumsi, dan mendengarkan pendapat yang berbeda.

Menurut Ibrahim (2002:22) PBL atau pembelajaran berbasis masalah meliputi pengajuan pertanyaan atau masalah, memusatkan pada keterkaitan antar disiplin, penyelidikan autentik, kerjasama dan menghasilkan karya serta peragaan. Pembelajaran berbasis masalah tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya pada siswa. Pembelajaran berbasis masalah bertujuan untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir dan keterampilan pemecahan masalah.

Baca juga:  Belajar Asyik Proses Pencernaan Hewan dengan Google Sites

Muatan pelajaran IPA sangat erat kaitannya dengan kehidupan harian siswa. Sehingga model problem based learning sangat tepat digunakan dalam proses pembelajaran IPA di kelas V SDN 2 Bobotsari, Korwilcam Dindikbud Bobotsari. Walaupun tepat digunakan dalam pembelajaran IPA, namun osel PBL juga memiliki kekurangan, sebagai berikut, 1) realistik dengan kehidupan siswa. 2) Konsep sesuai dengan kebutuhan siswa. 3) Memupuk sifat inquiry siswa. 4) Retensi konsep jadi kuat. Dan 5) memupuk kemampuan Problem Solving.

Sementara kekurangan model PBL adalah, 1) persiapan pembelajaran (alat, problem, konsep) yang kompleks. 2) Sulitnya mencari problem yang relevan. Dan 3) sering terjadi miss-konsepsi.

Agar tujuan pembelajaran dengan model PBL tercapai, maka guru harus melakukan langkah-langkah sebagai berikut, 1) orientasi siswa terhadap masalah. 2) Mengorganisasikan siswa. 3) Membimbing penyelidikan individu dan kelompok. 4) Mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Dan 5) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.

Baca juga:  Asyiknya Belajar Teknik Penelusuran Search Engine dengan Metode Take and Give

Contoh penerapan model PBL menurut Badan Penyegaran Instruktur Nasional (2014: 34) yaitu, 1) memanfaatkan lingkungan siswa untuk memperoleh pengelaman belajar. Guru memberikan penugasan yang dapat dilakukan di berbagai konteks lingkungan siswa, antara lain di sekolah, keluarga dan masyarakat. 2) Penugasan yang diberikan oleh guru memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar diluar kelas. Siswa diharapkan dapat memperoleh pengalaman langsung tentang apa yang sedang dipelajari. Pengalaman belajar merupakan aktivitas belajar yang harus dilakukan siswa dalam rangka mencapai penguasaan standar kompetensi, kemampuan dasar dan materi pembelajaran. 3) Sebelum memulai proses belajar-mengajar di dalam kelas, siswa terlebih dahulu diminta untuk mengobservasi suatu fenomena terlebih dahulu. Kemudian siswa diminta mencatat masalah-masalah yang muncul. Dan 4) Setelah itu tugas guru adalah merangsang siswa untuk berfikir kritis dalam memecahkan masalah yang ada. Tugas guru adalah mengarahkan siswa untuk bertanya, membuktikan asumsi, dan mendengarkan pendapat yang berbeda dari mereka.

Baca juga:  Belajar dan Bermain dengan Monopoli Pesawat Sederhana

Dalam pelaksanaan pembelajaran menggunakan model PBL, guru harus membuat persiapan yang lengkap dan menyiapkan rekayasa masalah yang berkaitan dengan materi dan kondisinya harus sesuai dengan kehidupan nyata siswa. Dengan demikian, tahapan-tahapan pembelajaran menggunakan model ini dapat dipahami siswa.

Sementara menurut Aris Shoimin (2014:132) model PBL juga memilki kelemahan yaitu proses belajar mengajar tidak dapat diterapkan untuk setiap materi pelajaran, ada bagian guru berperan aktif dalam menyajikan materi. Serta dalam suatu kelas yang memiliki tingkat keragaman siswa yang tinggi akan terjadi kesulitan dalam pembagian tugas.

Dalam membuat laporan hasil diskusi, guru sebaiknya selalu membimbing siswa sehingga dapat membuat laporan hasil karyanya dengan baik. (pb2/ida)

Guru SDN 2 Bobotsari, Korwilcam Dindikbud Bobotsari

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya