alexametrics

Belajar Penyakit pada Sistem Reproduksi Manusia dengan Study Lapangan

Oleh: Umi Haniin, S.Pd.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pembelajaran di era sekarang menuntut adanya keterampilan abad 21 yaitu 4C (Critical and Creative Thinking, Collaboration, Communication). Pembelajaran tidak harus dilakukan di dalam ruang kelas ataupun informasi searah yang diberikan dari guru.

Pembelajaran bisa diperoleh di luar ruang kelas. Guru yang merupakan falitator dalam pembelajaran harus mampu memunculkan ide-ide kreativitas peserta didik. Bagaimana pembelajaran tidak hanya menjadikan peserta didik faham akan materi, tetapi juga menjadikan peserta didik yang berkarakter. Religiusitas, Nasionalis, Kemandirian dan Integritas harus dimiliki oleh peserta didik.

Sistem reproduksi pada manusia merupakan salah satu materi yang harus dikuasai oleh kelas IX pada semester gasal. Pada materi ini terdapat sub materi yang mempelajari tentang penyakit pada sistem reproduksi manusia. Peserta didik kelas IX yang kurang lebih berumur 15-16 tahun merupakan umur usia remaja.

Baca juga:  Menumbuhkan Sikap Sosial Religius Anak dengan Pembiasaan Infak

Pada usia ini masa peralihan antara anak dan dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek. Masa remaja ini cenderung meningkatnya emosi sehingga sulit menerima nasehat dan pengarahan orang tua. Hal inilah yang kadang menyebabkan para remaja terjerumus ke pergaulan yang salah.

Penulis yang merupakan guru IPA SMP Negeri 3 Batang mengalami beberapa kendala dalam mengajarkan materi sistem reproduksi pada manusia, terutama pada penyakit sistem reproduksi manusia karena bagi peserta didik hal ini masih dianggap tabu. Oleh karena itu, penulis mengambil metode study lapangan agar pembelajaran pada materi ini lebih bermakna.

Peserta didik menentukan sendiri sumber yang akan diwawancarai atau dimintai data maupun keterangan. Sumber dapat mengambil dari tenaga kesehatan yang ada dilingkungan peserta didik. Sumber tersebut meliputi dokter spesialis kebidanan, dokter umum, perawat, bidan dan tenaga medis lainnya.

Baca juga:  Belajar Perkembangbiakan Hewan dengan Kooperatif Learning

Peserta didik menyusun daftar pertanyaan secara kelompok tentang penyakit pada sistem reproduksi dan mengunjungi nara sumber untuk mengadakan wawancara. Dalam hal ini guru yang merupakan fasilitator mengkondisikan hal yang akan dipelajari peserta didiknya antara satu kelompok dengan kelompok lainnya berbeda.

Dengan data yang berbeda menjadikan khasanah wawasan peserta didik lebih banyak. Data yang diperoleh berupa keterangan-keterangan sesuai dengan daftar pertanyaan yang disusun yang diperkuat dengan foto dan video.

Data tersebut diolah menjadi sebuah laporan dan powerpoint yang nanti akan dipresentasikan di dalam kelas. Guru beserta peserta didik membuat kesepakatan tentang waktu dalam pelaksanaan study lapangan tersebut. Sehingga dengan batas waktu tertentu laporan dapat dipresentasikan di depan kelas.

Baca juga:  Alat Peraga Sederhana Efektif untuk Memahami Hukum I Newton

Masing-masing kelompok mempelajari penyakit yang berbeda-beda sehingga dengan presentasi ini akan menambah wawasan kelompok lain. Dengan peserta didik belajar secara mandiri dari nara sumber menjadikan pemahaman peserta didik meningkat dan adanya pembelajaran yang menyenangkan.

Melalui pembelajaran penyakit pada sistem reproduksi dengan study lapangan secara langsung pada nara sumber menjadikan pemahaman peserta didik lebih maksimal dan menyenangkan. Dengan peserta didik memahami hal tersebut, menjadikan peserta didik untuk berhati-hati terutama dalam pergaulan. Sehingga tujuan pembelajaran tercapai yaitu tidak hanya menguasai secara kognitif tetapi peserta didik menjadi berkarakter. (bat1/aro)

Guru IPA SMP Negeri 3 Batang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya