alexametrics

Meningkatkan Pembelajaran Kearifan Lokal melalui Pentas Seni Budaya

Oleh : Indah Purwani, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Siapa sih yang tidak kenal dan tidak senang dengan kebudayaan? Secara kodrat hampir semua manusia menyenangi segala sesuatu yang memiliki nilai estetika. Menurut Koentjaraningrat kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan cara belajar (http://estetika-indonesia.blogspot.com).

Setiap daerah pasti memiliki kebudayaan sebagai hasil karyanya baik berbentuk material maupun immaterial. Wujud budaya immaterial antara lain dapat berupa lagu,pantun, cerita, tari dan perilaku-perilaku manusia dalam masyarakat. Sedang budaya material merupakan budaya yang berbentuk kebendaan. Agar setiap budaya yang dimiliki masyarakat sebagai identitasnya tidak hilang karena pengaruh perubahan dan perkembangan zaman maka perlu ada usaha untuk melestarikannya.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan merupakan salah satu sarana pewarisan budaya yang paling efektif dan efisien. Melalui kegiatan pembelajaran baik intrakurikuler, ekstrakurikuler maupun kokurikuler peserta didik akan diajarkan bagaimana mencintai budaya dan bagaimana menumbuhkan jiwa handuweni, handarbeni terhadap budaya derahnya. Di SMAN 1 Dukun, setiap tahun kesiswaan memiliki program untuk melakukan pementasan terhadap kesenian dan lagu daerah. Program kesiswaan ini penulis manfaatkan untuk mendukung pembelajaran materi sosiologi pada KD Pemberdayaan Komunitas dengan Mengedepankan Nilai-Nilai Kearifan Lokal.

Baca juga:  Video Pembelajaran Tingkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik

Pembelajaran pada K.D ini sebenarnya tidak hanya menuntut peserta didik cerdas secara pengetahuan tetapi lebih diharapkan secara sikap dan perilaku dapat memberdayakan segala kemampuannya dengan tidak meninggalkan nilai-nilai kedaerahannya.

Peserta didik saat ini hidup dalam era globalisasi dan era digital tentunya dapat berinteraksi dengan dunia luas, termasuk dalam memahami dan menyerap budaya dari manapun. Agar tidak seperti kacang yang lupa kulitnya, maka program kesiswaan digulirkan untuk menumbuhkan dan sekaligus merevitalisasi budaya daerah, agar budaya lokal tersebut tetap mendapat tempat di hati para generasi mudanya.

Pada K.D kearifan lokal penulis mengalami kesulitan untuk memahamkan pengertian dan makna kearifan lokal pada peserta didik, karena pengertiannya sangat kompleks dan banyak makna yang terkandung dalam kearifan lokal. Maka, penulis berusaha memahamkan kearifan lokal melalui salah satu bentuk kearifan lokal yakni melalui ajang pentas seni budaya.

Baca juga:  Cooperatif Learning Tingkatkan Aktivitas Belajar Peserta Didik

Salah satu bentuk kearifan lokal antara lain budaya daerah baik dalam bentuk tari, lagu, puisi, gagasan atau ide, maupun nilai-nilai yang dipedomani dalam kehidupan bersama di masyarakat. Pada saat pentas seni sekolah dilaksanakan penulis meminta kepada seluruh siswa kelas XII untuk berpartisipasi, baik menjadi pelaku pentas atau menjadi pengamat. Pada saat jam pembelajaran sosiologi dilaksanakan, melalui kegiatan literasi penulis meminta kepada semua peserta didik untuk mempelajari materi hakikat dan pengertian kearifan lokal pada buku paket sosiologi.

Kemudian menulis materi kearifan lokal bila dikaitkan dengan pentas seni sekolah. Kegiatan pembelajaran yang penulis lakukan ternyata mampu membantu peserta didik membuat definisi tentang kearifan lokal tanpa meninggalkan unsur-unsur dalam kearifan lokal dengan berpedoman pada kaidah keilmuan.

Baca juga:  Pemkab Magelang Belum Cawe-cawe, Manajer Persikama: Kami Tidak Berharap

Pembelajaran dengan model menjadi pelaku dan pengamat pentas seni ternyata tanpa disadari telah membawa peserta didik ke dalam materi kearifan lokal dan sekaligus menumbuhkan sikap dan semangat mencintai budayanya sendiri di tengah-tengah era globalisasi.

Dengan demikian penggunaan media pembelajaran yang menarik dan cocok dengan materi ajarnya bisa mempermudah peserta didik menguasai materi pelajaran yang sulit sekalipun. Dalam kegiatan ini penulis juga dapat melakukan penilaian dalam tiga ranah. Yakni penilaian pengetahuan melalui resume yang dibuat peserta didik, penilaian sikap dan keterampilan, saat mereka sebagian menjadi pelaku dan pendukung dari kegiatan pentas seni di sekolah. (mn2/lis)

Guru Sosiologi SMAN 1 Dukun, Kabupaten Magelang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya