alexametrics

Kendala Pembelajaran Jarak Jauh dan Solusinya di Masa Pandemi Covid-19

Oleh : Siti Musrifah, M.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Sejak kasus pertama Covid-19 diumumkan oleh Presiden Joko Widodo pada awal Maret 2020 lalu, Indonesia dihadapkan pada masa pandemi. Banyak sektor kehidupan yang lumpuh, termasuk bidang pendidikan. Mulai Senin, 16 Maret 2020 hingga saat ini, kegiatan belajar mengajar tidak berlangsung dengan tatap muka di sekolah, tetapi dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Pada awal pandemi, media (aplikasi) yang digunakan untuk pembelajaran daring adalah WhatsApp. Namun video grup WhatsApp hanya bisa diikuti oleh empat orang. Sehingga tidak bisa digunakan untuk pembelajaran langsung yang maksimal. Sehingga perlu dicari alternatif yang lain.

Kemendikbud menayangkan program Belajar dari Rumah (BDR) yang disiarkan TVRI pada pertengahan April 2020. Program ini diisi dengan berbagai tayangan edukatif dan menyenangkan sebagai alternatif pembelajaran bagi peserta didik, orangtua, dan guru.

Meski peserta didik tinggal menonton dari TVRI didampingi orangtua untuk meringkas materi yang disampaikan, tidak semua peserta didik di rumah ada televisi. Ada juga yang mempunyai televisi, tapi tidak dapat menangkap siaran TVRI.

Baca juga:  Mengupas Unsur Pidato dengan Think Pair Share

Pembelajaran daring yang bisa digunakan antara lain Zoom meeting, Google meet , Google Classroom, Google Form. Kendala yang dihadapi adalah keterbatasan SDM, keterbatasan sarana prasarana seperti laptop atau HP yang dimiliki orangtua peserta didik. Kesulitan akses internet, kondisi listrik yang tidak stabil, dan keterbatasan kuota internet yang bisa disediakan oleh orangtua.

Menteri Pendidikan pada kegiatan webinar Penyesuaian Kebijakan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19, yang dilaksanakan secara virtual melalui Zoom dan disiarkan langsung dari kanal YouTube Kemendikbud RI menyatakan terdapat beberapa kendala yang dihadapi guru, orangtua, dan peserta didik selama PJJ meliputi: guru mengalami hambatan dalam PJJ dan cenderung fokus kepada penuntasan kurikulum.

Waktu pembelajaran menjadi berkurang, sehingga guru tidak dapat memenuhi beban jam mengajarnya. Guru mengalami kesulitan komunikasi dengan orangtua sebagai pembimbing peserta didik di rumah. Belum semua orangtua mampu mendampingi anak belajar di rumah karena harus bekerja, urusan rumah, dan sebagainya.

Baca juga:  Pramuka Tetap Jaya di Masa Pandemi

Orangtua mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran dan memotivasi anak saat mendampingi belajar di rumah. Peserta didik mengalami kesulitan untuk konsentrasi dalam belajar dari rumah dan mengeluhkan banyaknya penugasan soal dari guru.

Meningkatnya rasa stres dan jenuh akibat isolasi di rumah secara berkelanjutan berpotensi menimbulkan rasa cemas dan depresi bagi anak. Solusi yang bisa diambil di antaranya guru mengikuti program Guru Berbagi, Seri Bimtek Daring, dan Seri Webinar, penyediaan kuota gratis, relaksasi BOS dan BOP, “Belajar dari Rumah” di TVRI. Belajar di radio, Rumah Belajar, dan kerja sama dengan platform pembelajaran daring. Langkah yang dapat ditempuh adalah menyusun kurikulum darurat. Kurikulum darurat merupakan penyederhanaan jumlah KD yang mengacu pada K-2013.

Kurikulum darurat diharapkan akan memudahkan proses pembelajaran di masa pandemi dengan adanya pemilihan KD esensial. Implementasi pelaksanaan kurikulum darurat menuntut guru mengubah paradigma pada perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, serta pada penilaian hasil belajar karena kegiatan pembelajaran tidak lagi dilaksanakan di sekolah, tetapi dilaksanakan dari rumah.

Baca juga:  Gak Boring Belajar Adjective Pakai Role Playing

Kegiatan belajar dari rumah (BDR) menuntut adanya kerja sama antara guru, orangtua dan peserta didik. Belajar dari rumah tidak hanya untuk memenuhi tuntutan kompetensi (KI-KD) pada kurikulum, tetapi lebih ditekankan pada pengembangan karakter, akhlak mulia, dan kemandirian peserta didik.

Guru harus bisa lebih kreatif dan inovatif dalam menyajikan materi pelajaran dan memberi tugas kepada peserta didik. Agar terwujud kegiatan pembelajaran yang lebih bermakna, menginspirasi, dan lebih menyenangkan.

Peran serta orang tua dalam pelaksanaan pembelajaran dari rumah (daring) sangatlah besar. Hampir 50% tugas yang diberikan guru kepada anak orang tualah yang ikut berperan mengerjakan terutama anak sekolah kelas rendah.

Maka, guru membagikan LK untuk satu minggu ke depan. Orang tua secara bergantian mengambil LK ke sekolah dengan menjaga protokol kesehatan. Semoga pandemi ini segera berlalu dari bumi Indonesia, anak- anak bisa belajar secara normal di sekolah. (*/lis)

Kepala SD Negeri Dukuh 03, Salatiga

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya