alexametrics

Creative Problem Solving Tingkatkan Kemampuan Berpikir Kritis

Oleh : Rini Sumiarsih, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Paradigma pembelajaran di abad 21 menuntut peserta didik untuk memiliki kemampuan berpikir kritis dalam memahami dan memecahkan masalah yang kontekstual. Kemampuan berpikir ktitis ini begitu penting dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk memecahkan persoalan kehidupan.

Guru berkewajiban meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik melalui kreativitas dalam penerapan model pembelajaran. Dengan demikian kegiatan pembelajaran tetap berdasarkan keterampilan abad 21 seperti Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dan 4C (literasi, critical, thinking, creative thinking, collaboration dan communication) serta keterampilan berpikir lebih tinggi (higher order thinking skills). Keterampilan berpikir lebih tinggi ini sangat diperlukan dalam mempersiapkan peserta didik dalam menghadapi tantangan global atau dengan kata lain mmpu bersaing dengan negara lain.

Kecakapan abad 21 yang terintegrasi dalam kecakakapan pengetahuan, keterampilan dan sikap serta penguasaan TIK dapat dikembangkan melalui: kecakapan berpikir kritis dan pemecahan masalah (critical thinking and problem solving skill; kecakapan berkomunikasi (comunication skills); kecakapan kreativitas dan inovasi (creativity and innovation), dan kecakapan kolaborasi (collaboration). Keempat kecakapan tersebut telah dikemas dalam proses pembelajaran kurikulum 2013.

Baca juga:  SMA Negeri 5 Magelang Budayakan Literasi Sekolah

PPKn merupakan salahsatu mata pelajaran wajib yang tercantum dalam komponen strukutur kurikulum 2013. Menurut Zuriah dalam Sutiyoso (2010: 2-3) kemampuan dasar yang perlu dibekalkan kepada peserta didik melalui pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan adalah pertama berpikir kritis, mampu mengambil keputusan.

Kedua, memegang teguh aturan yang adil. Ketiga, menjalankan kewajiban dan menghormati hak orang lain. Keempat, bertanggung jawab atas ucapan dan perbuatannya. Kelima, mempunyai iman dan takwa. Keenam, berpendapat, berorganisasi, demokratis. Ketujuh, aktif dan partisipatif dalam kehidupan masyarakat. Kedelapan, memiliki komitmen yang tinggi.

Untuk mencapai kompetensi di atas diperlukan upaya-upaya antara lain guru harus menggunakan model pembelajaran yang dapat mengoptimalkan kemampuan berpikir kritis sehingga pembelajaran lebih menarik, salah satunya dengan penerapan model pembelajaran Creative Problem Solving (CPS). Menurut Huda (2016) Creative Problem Solving mempunyai karakteristik yang membedakan secara khusus dibanding teknik pembelajaran yang lain.

Baca juga:  Mudah Menganalisis Struktur dan Kebahasaan Teks Editorial melalui Membaca Koran Digital

Beberapa karakteristik antara lain adanya masalah yang akan dibahas, adanya langkah/strategi pemecahan masalah. Pemecahan masalah dengan berpikir kreatif. Model pembelajaran CPS pertama kali diperkenalkan oleh Alex Osborn sebagai metode untuk memecahkan masalah secara kreatif.

Parnes (Huda, 2016) menjelaskan enam langkah CPS yang disingkat OFPISA. Langkah-langkah tersebut adalah Objektif Finding : pembagian peserta didik dalam kelompok-kelompok. Fact Finding : pengumpulan fakta yang relevan dengan sasaran dan solusi permasalahan.
Problem Finding : mendefinisikan permasalahan yang diberikan agar peserta didik bisa lebih dekat dengan masalah yang dipecahkan. Idea Finding : pengelompokan gagasan-gagasan peserta didik agar dapat dicari kemungkinan solusi yang diambil dalam pemecahan masalah.

Solution Finding : peserta didik diminta sudah mempunyai berbagai cara untuk memecahkan masalah secara kreatif. Acceptence Finding : peserta didik diharapkan sudah mempunyai langkah-langkah riil dalam memecahkan maasalah. Sani (2015) memaparkan langkah pemecahan masalah secara kreatif sebagai berikut : menyajikan permasalahan, mengidentifikasi permasalahan, mencari alternatif pemecahan masalah, menilai setiap alternatif pemecahan masalah dan menarik kesimpulan.

Baca juga:  Renovasi Pembelajaran 4C Berwawasan Literasi Digital

Model pembelajaran CPS mempunyai kelebihan dan kelemahan. Kelebihannya antara lain membantu peserta didik lebih memahami konsep sebelumnya, mengembangkan kemampuan berpikir dan meningkatkan keaktifan dalam proses belajar mengajar. Sedangkan kelemahannya, adanya perbedaan level pemahaman peserta didik terhadap masalah dan membutuhkan waktu yang cukup untuk menerapkan langkah-langkah di atas.

Model pembelajaran ini telah diimplementasikan dalam mata pelajaran PPKn dalam materi kasus pelanggaran HAM dan sosiologi dalam materi perubahan sosial di SMA Negeri 5 Magelang. Dan terbukti mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan keaktifan peserta didik melalui penelitian tindakan kelas. (lm1/lis)

Guru PPKn SMA Negeri 5 Magelang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya