alexametrics

Program “Apem Legi” Tingkatkan Kompetensi Global dan Profil Pelajar Pancasila

Oleh : Renggo Ayu Singgih Prahesti, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pandemi tak selamanya terkesan negatif bagi para guru di SMP Negeri 1 Mungkid. Ketika situasi ini mengharuskan sekolah melakukan pembelajaran secara daring, tidak membuat guru mati gaya. Inovasi pembelajaran dari media pembelajaran hingga alat penilaian harus disesuaikan menjadi serba digital agar kebutuhan siswa dapat terpenuhi secara baik.

Tantangan ini menuntut guru untuk menanamkan pendidikan karakter siswa melalui kegiatan di luar KBM. Hal ini juga merupakan bagian integral nawacita bangsa mengenai penanaman pendidikan karakter dan Pelajar Pancasila sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2020-2024. Bahwa Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka SMP Negeri 1 Mungkid menyusun program pembiasaan.

Pembiasaan merupakan proses pembentukan sikap dan perilaku yang relatif tetap dan bersifat otomatis melalui proses pembelajaran yang berulang, baik dilakukan secara bersama-sama atau individual.

Baca juga:  Kemandirian Finansial Berbasis Pada Aset Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

Kegiatan pembiasaan membaca ditumbuhkan melalui kegiatan rutin, spontan, dan keteladanan yang dilakukan di dalam dan di luar kelas. Pangesti Wiedarti, dkk (2016: 7-8) menjelaskan kebijakan yang dikeluarkan oleh Kemendikbud tentang desain induk gerakan literasi sekolah bahwa GLS adalah gerakan sosial dengan dukungan kolaboratif berbagai elemen.

Upaya yang ditempuh untuk mewujudkannya berupa pembiasaan membaca siswa. Kegiatan pembiasan di SMP Negeri 1 Mungkid dituangkan dalam kegiatan pembiasaan literasi pagi yang dilaksanakan setiap hari secara online (dalam jaringan). Kegiatan pembiasaan literasi pagi disampaikan melalui “Apem Legi” yaitu Aplikasi Pembiasaan Literasi Pagi.

Aplikasi ini merupakan fasilitas yang sudah tersedia di dalam gadget siswa seperti Sway, YouTube, Microsoft form, WhatsApp dan Instagram. Dalam buku Desain Induk Gerakan Literasi, Clay dan Freguson (2001) menjabarkan bahwa komponen literasi informasi terdiri atas literasi dini, dasar, perpustakaan, media, teknologi, dan literasi visual.

Baca juga:  Mengajar Asyik Kelas Online Bahasa Inggris Masa Krisis Covid-19

Dalam konteks Indonesia, literasi dini diperlukan sebagai dasar pemerolehan berliterasi tahap selanjutnya. Literasi Dini menurut Clay dan Freguson (2001), adalah kemampuan untuk menyimak, memahami bahasa lisan, dan komunikasi melalui gambar dan lisan yang dibentuk oleh pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan sosialnya di rumah.

Pengalaman siswa dalam berkomunikasi dengan bahasa ibu menjadi fondasi perkembangan literasi dasar. Literasi dasar (basic literacy), adalah kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung berkaitan dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan, mempersepsikan informasi, mengomunikasikan, serta menggambarkan informasi berdasarkan pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi.

Materi pembiasaan pagi melalui “apem legi” dibagikan kepada siswa melalui aplikasi grup WA kelas oleh tim kesiswaan SMP N 1 Mungkid. Siswa dapat mengakses dan mencermati materi yang diberikan di tautan aplikasi Sway yang dilengkapi bacaan dan video pembelajaran dari YouTube.

Pada tahap ini siswa telah melakukan literasi digital. Karena selain membaca mereka diberi tugas dari menyimpulkan isi bacaan, menafsirkan makna suatu bacaan hingga membuat karya yang tentu saja menambah keterampilan siswa.

Baca juga:  Fungsi Manajerial dan Supervisor Kepala Sekolah di Era New Normal

Siswa mengerjakan tugas lanjutan dari merangkum isi bacaan hingga menjawab pertanyaan HOTS lalu mengirimkan hasinya melalui Microsoft Form yang telah ditautkan di dalam Sway. Selain itu ada pembiasaan literasi yang menuntut siswa menciptakan suatu karya. Mereka dapat mengirim hasil pembiasaannya di aplikasi Instagram dengan memberi tag alamat IG sekolah untuk memudahkan memeriksa hasil karya siswa.

Pembiasaan literasi pagi melalui “apem legi” merupakan salah satu Gerakan Literasi Sekolah yang dilakukan secara online menggunakan beragam aplikasi. Hal ini membantu siswa menyiapkan diri sebelum pembelajaran, menambah wawasan dan membiasakan siswa bernalar kritis dan kompetitif. Siswa menjadi lebih terarah dan bijaksana dalam memanfaatkan teknologi informasi. (mk1/lis)

Guru Bahasa Inggris dan Koordinator SKL SMPN 1 Mungkid, Kabupaten Magelang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya