alexametrics

Bernalar Kritis dan Kreatif dalam Pembelajaran IPA

Oleh : Nanik Sumarni S.Pd M.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, DALAM mempersiapkan generasi tangguh di masa depan, berbagai metode dan strategi terus dilakukan dan terus diperbaiki. Baik oleh pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) maupun Dinas Pendidikan (Disdik) daerah setempat sebagai pengambil kebijakan. Berbagai uji petikpun dilakukan oleh berbagai pihak yang peduli tentang kemajuan pendidikan maupun guru sebagai garda terdepan pejuang pendidikan.

Menurunnya karakter peserta didik dikarenakan masa pandemi Covid-19 selama hampir 2 tahun ini. Kondisi tersebut menjadi keprihatinan besar bagi seluruh lapisan masyarakat dan akademisi. Sangat sulit mengembalikan kondisi ini seperti sebelumnya pandemi. Peserta didik sudah mengalami proses pembiasaan belajar dari rumah selama hampir dua tahun. Bahkan sebagian mereka sudah merasa nyaman dengan pembelajaran jarak jauh. Guru pun harus lebih jeli dan teliti dalam menentukan strategi pembelajaran yang akan dilaksanakan di kelas sehingga peserta didik menjadi lebih senang belajar di sekolah.

Profil Pelajar Pancasila adalah salah satu produk pendidikan yang sesuai dengan visi dan misi Kemendikbud sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 22 tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2020–2024.

Baca juga:  Atasi Bullying dengan Teknik Role Playing pada Layanan Bimbingan Kelompok

Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan enam ciri utama, yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. Keenam ciri utama tersebut bisa diterapkan dalam kegiatan pembelajaran pada semua mata pelajaran, dengan cara ataupun strategi masing-masing berdasarkan ciri khas dari setiap mata pelajaran.

Dalam tulisan ini, penulis akan mengambil dua ciri utama Pelajar Pancasila yang sudah diterapkan dalam pembelajaran IPA, yaitu bernalar kritis dan kreatif. Banyak kegiatan yang bisa digali dari materi IPA. Bahkan di setiap materi pokok, ada kegiatan-kegiatan yang memunculkan bernalar kritis dan kreatif. Pembelajaran dalam IPA lebih sering menggunakan pendekatan saintifik (Saintific Approach), dimana di dalamnya terdapat tahapan-tahapan yang menuntut peserta didik mampu melakukan analisis, kritis, dan kreatif.

Baca juga:  Pembelajaran Discovery Learning dalam Pembelajaran Tematik Bermuatan IPA

Pelajar yang bernalar kritis mampu secara objektif memproses informasi baik kualitatif maupun kuantitatif, membangun keterkaitan antara berbagai informasi, menganalisis informasi, mengevaluasi dan menyimpulkannya. Elemen-elemen dari bernalar kritis adalah memperoleh dan memproses informasi dan gagasan, menganalisis dan mengevaluasi penalaran, merefleksi pemikiran dan proses berpikir, dan mengambil keputusan. Sedangkan pelajar yang kreatif adalah pelajar yang mampu memodifikasi dan menghasilkan sesuatu yang orisinal, bermakna, bermanfaat, dan berdampak. Elemen kunci dari kreatif terdiri atas menghasilkan gagasan yang orisinal serta menghasilkan karya dan tindakan yang orisinal.

Pada saat peserta didik diberikan suatu masalah, maka mereka akan memproses masalah tersebut dengan cara mengaitkan berbagai informasi yang dapat mendukung permasalahan tersebut. Pada akhirnya peserta didik dapat mengambil simpulan dan solusi. Setelahnya, peserta didik akan melakukan evaluasi dan refleksi proses belajar yang mereka lakukan. Memang tidak semua peserta didik mampu melakukan tahapan ini, tetapi guru sebagai fasilitator memiliki kewajiban untuk mendampingi dan membimbing peserta didik yang mengalami kesulitan dalam bernalar kritis.

Baca juga:  Dengan Metode Eksperimen Pembelajaran IPA Menjadi Bermakna

Peserta didik juga dapat memunculkan daya imajinasi dan kreativitasnya melalui penugasan proyek yang diberikan guru secara berkelompok. Dengan rancangan yang disusun oleh kelompok masing-masing, tetapi dikonsultasikan dengan guru. Peserta didik diberi kebebasan seluas-luasnya merancang proyeknya.

Dengan kebebasan inilah, akan bermunculan kreativitas dan ide hebat mereka, sekaligus terlihat rasa tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan. Memang tidak mudah untuk memberikan tugas proyek kepada peserta didik, tetapi guru tetap harus mencoba walaupun proyek yang sederhana. Jika peserta didik sudah terbiasa dengan tugas proyek, maka tugas-tugas lainnya akan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. (rn2/ida)

Guru IPA SMP Negeri 1 Salatiga

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya