alexametrics

Tumbuhkan Kesadaran Politik Pemilih Pemula melalui Pembelajaran SIMAKPOL

Oleh : Suhada S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PESERTA didik tingkat SLTA yang telah berusia 17 tahun merupakan pemilih pemula. Pada umumnya memiliki karakter rasa ingin tahu, idealis dan rasionalitas tinggi dalam menentukan pilihan atau mengambil keputusan. Pada umumnya mereka belum memiliki kepentingan-kepentingan yang bermotif ekonomi, politik, atau jabatan tertentu. Di sisi lain pelajar sebagai pemilih pemula belum memiliki pengetahuan dan informasi yang cukup tentang politik.

Pemilih pemula yang baru memasuki usia hak pilih juga belum memiliki jangkauan politik yang luas untuk menetukan kemana harus memilih. Terkadang apa yang mereka pilih tidak sesuai dengan yang diharapkan. Alasan ini yang menyebabkan pemilih pemula sangat rawan didekati melalui pendekatan kepentingan partai-partai politik. Ketidaktahuan dalam politik praktis baik dalam pemilihan umum atau pemilihan kepala daerah, membuat para pemilih pemula tidak berpikir rasional dan lebih memikirkan kepentingan jangka pendek.

Pemilih pemula sering dimanfaatkan partai politik dan politisi untuk kepentingan politiknya. Misalnya digunakan untuk penggalangan massa atau pembentukan organisasi underbow partai politik.

Baca juga:  Penyelesaian Matematika Meningkat dengan Pembelajaran Metodel TSTS Berbantuan Quipper School

Jumlah usia pemilih pemula dari kalangan pelajar sangatlah besar sehingga cukup potensial untuk meningkatkan perolehan suara bagi peserta pemilihan umum. Upaya untuk meningkatkan kesadaran politik peserta didik SLTA dapat dipandang sebagai upaya mutlak dalam meningkatkan kualitas pelaksanaan dan hasil pemilihan umum.

Kesadaran politik adalah keadaan kesadaran seseorang secara penuh akan pengetahuan berbagai hal terkait proses politik dalam masyarakat. Menurut Almond dan Verba (1984:55), seseorang dianggap memiliki kesadaran politik apabila ia telah menyadari dan mengetahui hal-hal yang terkait dengan sistem politik baik dari segi output maupun input.

Sedangkan menurut Miriam Budiardjo (2010:368), kesadaran politik merupakan perasaan bahwa dirinya diperintah dan percaya bahwa mereka dapat sedikit banyak mempengaruhi pemegang kekuasaan atau percaya bahwa mereka memiliki efek politik.

Secara akademis Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dapat didefinisikan sebagai bidang kajian yang memusatkan telaahnya pada seluruh dimensi psikologis dan sosial budaya kewarganegaraan individu, dengan menggunakan ilmu politik, ilmu pendidikan sebagai landasan kajiannya atau penemuan. Intinya yang diperkaya dengan disiplin ilmu lain yang relevan, dan mempunyai implikasi kebermanfatan terhadap instrumentasi dan praksis pendidikan setiap warga negara dalam konteks sistem pendidikan nasional (Wiranaputra, 2004).
Menurut Malik Fajar (2004: 6-8), PPKn sebagai wahana untuk mengembangkan kemampuan, watak, dan karakter warganegara yang demokratis dan bertanggung jawab. PPKn memiliki peranan yang amat penting, mengingat banyaknya permasalahan mengenai pelaksanaan PPKn sampai saat ini. Maka arah baru PPKn perlu segera dikembangkan dan dituangkan dalam bentuk standar nasional, standar materi serta model-model pembelajaran yang efektif dalam mencapai tujuannya.

Baca juga:  Peran Orang Tua dalam Pendampingan Belajar di Masa Pandemi

Salah satu metode pembelajaran PPKn yang dikembangkan penulis sebagai upaya untuk menumbuhkan kesadaran politik pemilih pemula di kalangan peserta didik adalah Pembelajaran SIMAKPOL. Yakni akronim dari Simulasi Aktivitas Politik. Proses pembelajaran dalam metode ini, peserta didik dibagi dalam beberapa kelompok. Dari kelompok yang ada, dibagi perannya yaitu sebagai partai politik, penyelenggara pemilhan umum, dan pemilih.

Beberapa kelompok yang berperan sebagai partai politik, menentukan nama partai, lambang, serta visi dan misinya. Nama dan lambang partai politik harus mencerminkan visi dan misi partai politik, serta mengampanyekan program serta visi dan misinya.

Satu kelompok yang berperan sebagai penyelenggara pemilihan umum mempersiapkan dan melaksanakan pemilhan umum sesuai ketentuan pelaksanaan pemilihan umum. Sedangkan satu kelompok yang berperan sebagai pemilih akan memilih partai politik yang dikehendaki setelah mengamati program serta visi dan misi partai politik.

Baca juga:  Asyik Belajar Kingdom Plantae dengan Media Realita melalui Jelajah Lingkungan

Melalui metode ini, para peserta didik akan lebih memahami proses berpolitik dalam bingkai sistem politik di Indonesia, serta menumbuhkan kesadaran politik peserta didik sebagai pemillih pemula yang harus memahami hak dan kewajibannya sebagai warga negara. Tidak kalah penting adalah menumbuhkan etika dalam berpolitik yang dilandasi nilai-nilai Pancasila. (cd2/ida)

Guru SMAN 1 Kajen, Kabupaten Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya