alexametrics

Kemampuan Hard Skill dan Soft Skill, Guru Tingkatkan Kesiapan Hadapi Era Pendidikan 4.0

Oleh : Suprapti, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Perubahan dramatis yang datang dari industrial revolution 4.0 menjadi tantangan baru bagi dunia pendidikan. Revolusi industri ini mempersyaratkan kualitas sumber daya manusia yang lebih mumpuni, agile, adaptif dan responsif terhadap perubahan yang cepat. Dunia pendidikan menghadapi perubahan ekonomi, sosial, politik dan teknologi yang demikian cepat.

Oleh karenanya, sekolah harus fleksibel untuk beradaptasi dengan situasi dan konteks yang berubah. Sekolah dan lembaga pendidikan lainnya membutuhkan lingkungan yang terus tumbuh positif dan kondusif dalam kompetisi sumber daya manusia global.

Pengetahuan individu guru dan sekolah menjadi modal intelektual yang dengan cepat menjadi ikon baru yang menggambarkan nilai ekonomis sebuah sekolah. Inilah paradigma baru yang diadaptasi dari industrial revolution 4.0. Ketergantungan pada aset produktif tradisional seperti gedung, bangunan, tanah dan tangible asset lainnya tidak lagi menjadi sumbangan investasi utama masa depan. Aset produktif dan berkelanjutan di masa depan adalah aset intangible dalam bentuk pengetahuan yang melekat pada guru.

Baca juga:  Membentuk Karakter dengan Penerapan Budaya 5S

Hard skills adalah salah satu jenis pengetahuan yang mudah didokumentasikan dan dibentuk, mudah diartikulasikan dan biasanya merupakan pengetahuan yang melekat pada sekolah. Selain itu, hard skills dapat dibuat, ditulis dan ditransfer di antara unit kegiatan sekolah. Transfer hard skills di antara guru lebih mudah didorong oleh mekanisme dan budaya sekolah yang kondusif.

Hard skills dapat digambarkan secara umum dan juga didasarkan pada konteks khusus dimana keterampilan ini digunakan. Rainsbury et al mendefinisikan hard skill keterampilan yang berkaitan dengan aspek teknis untuk melakukan beberapa tugas dalam pekerjaan. Karena itu, hard skills pada dasarnya bersifat kognitif dan dipengaruhi oleh intelectual quotient (IQ).

Hard skill menggambarkan perilaku dan keterampilan yang dapat dilihat di mata (eksplisit). Hard skill adalah keterampilan yang dapat menghasilkan sesuatu yang terlihat dan langsung. Keterampilan keras dapat dinilai dari tes teknis atau tes praktis. Unsur-unsur keterampilan keras dapat kita lihat dari kecerdasan quotient thinking yang memiliki indikator untuk menghitung, menganalisis, merancang, wawasan dan pengetahuan yang luas, pembuatan model dan kritis.

Baca juga:  Metode Bidak Tingkatkan Aktivitas Belajar Materi Pola Bilangan

Hard skill terkait dengan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan keterampilan teknis terkait dengan bagian pengetahuan. Seorang guru harus memiliki keterampilan dalam membuka pelajaran, mengelola kelas, merancang diskusi kelompok, mengatur ruangan, dan menulis yang baik.

Hard skill adalah keterampilan yang relatif lebih mudah untuk diukur. Menurut Widoyoko, E.P. (2009) hard skill dibedakan menjadi dua, yaitu keterampilan akademik dan kejuruan mereka. Keterampilan akademik adalah kemampuan untuk menguasai berbagai konsep dalam bidang ilmu yang dipelajari, seperti keterampilan untuk mendefinisikan, menghitung, menjelaskan, menggambarkan, mengelompokkan, mengidentifikasi, menggambarkan, memprediksi, menganalisis, membandingkan, membedakan, membedakan, dan menarik kesimpulan dari suatu berbagai konsep, data dan fakta-fakta terkait mata pelajaran.

Soft skills knowledge diklasifikasikan menjadi dua jenis meliputi: soft skills dan hard skills. Soft skills adalah pengetahuan yang masih berada dalam benak manusia dan bersifat sangat personal. Sulit dirumuskan dan dibagi secara natural sehingga dalam transformasinya membutuhkan interaksi personal.

Baca juga:  Asyiknya Belajar Recount Text melalui Three Mekota

Soft skills berada dan berakar di dalam tindakan maupun pengalaman seseorang, termasuk idealisme, nilai-nilai, maupun emosionalnya. Berdasarkan pengertiannya, soft skills dikategorikan sebagai personal knowledge atau dengan kata lain pengetahuan yang diperoleh dari individu atau perorangan.

Pengalaman yang diperoleh tiap guru berbeda-beda berdasarkan situasi dan kondisi yang tidak dapat diprediksi. Soft skills sifatnya tidak mudah diartikulasikan dan dikonversi menjadi hard skills.

Setiap lembaga pendidikan sekolah harus memanfaatkan soft skills gurunya dengan mendorong untuk berbagi pengetahuan dan terus belajar. Lembaga pendidikan sekolah seperti ini akan menjadi lebih kreatif, inovatif dan memimpin di era education 4.0. (*/lis)

Guru IPA SMP Negeri 1 Salam, Kabupaten Magelang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya