alexametrics

Matre Tingkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif

Oleh: Andri Dian Fantoni, S. Pd.SD

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, KEMAJUAN dan perkembangan pendidikan menjadi faktor penentu keberhasilan suatu bangsa. Melihat tantangan tersebut, maka paradigma pembelajaran juga harus diubah. Dari yang semula hanya “banyak mengajari” menjadi “banyak mendorong anak untuk belajar”, dari yang semula di sekolah hanya diorientasikan untuk menyelesaikan soal menjadi berorientasi mengembangkan pola pikir kreatif.

Dalam semua jenjang pendidikan terutama di SDN 4 Makam Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, pelajaran matematika memiliki porsi terbanyak dibandingkan dengan pelajaran-pelajaran yang lain. Tetapi kenyataan yang terjadi selama ini, siswa malah menganggap matematika sebagai monster yang menakutkan. Matematika didakwa sebagai biang kesulitan dan hal yang paling dibenci dari proses belajar di sekolah. Padahal ketidaksenangan terhadap suatu pelajaran berpengaruh terhadap keberhasilan proses pembelajaran. Ketidaksenangan akan membuat siswa enggan dan malas untuk belajar sehingga secara langsung akan berpengaruh pada prestasi belajar siswa.

Selain itu dengan adanya pembelajaran matematika yang tidak bermakna serta hanya sebatas menghafal rumus dan mengikutinya untuk mengerjakan soal, penalaran siswa menjadi kurang berkembang. Padahal kemampuan penalaran siswa merupakan aspek penting, karena dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah lain, baik masalah matematika maupun masalah kehidupan sehari-hari.

Baca juga:  Bermain Peran Cara Efektif Meningkatkan Kemampuan Bersosialisasi Anak

Dengan adanya penalaran, siswa akan mampu mengaplikasikan hal yang dipelajarinya kedalam dunia nyata. Bahkan menurut Krulik dan Rudnick, kemampuan penalaran merupakan aspek kunci dalam megembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif dari siswa.

Beberapa faktor yang menjadi penyebab rendahnya kemampuan berpikir kreatif siswa, antara lain ditinjau dari tuntutan kurikulum yang lebih menekankan pada pencapaian target. Artinya, semua bahan harus selesai diajarkan dan bukan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep matematika.

Faktor lain yang cukup penting adalah bahwa aktivitas pembelajaran di kelas yang selama ini dilakukan oleh guru tidak lain merupakan penyampaian informasi (metode kuliah) dengan lebih mengaktifkan guru, sedangkan siswa pasif, mendengarkan dan menyalin, guru memberi contoh soal dilanjutkan dengan memberi soal latihan yang sifatnya rutin dan kurang melatih daya nalar, kemudian guru memberikan penilaian. Akhirnya terjadilah proses penghafalan konsep sehingga pemahaman konsep matematika rendah.

Baca juga:  Pembelajaran Kosakata Bahasa Inggris dengan Vocabulary Graphic Organizer

Siswa menjadi robot yang harus mengikuti aturan atau prosedur yang berlaku dan jadilah pembelajaran mekanistik. Tidak heran apabila belajar dengan cara menghafal tersebut tingkat kemampuan kognitif anak yang terbentuk hanya pada tataran yang rendah. Kecenderungan anak terperangkap dalam pemikiran menghafal karena iklim yang terjadi dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru di sekolah.

Untuk mengatasi permasalahan di atas perlu dicari suatu pendekatan yang dapat mendukung proses pembelajaran matematika yang menyenangkan dan bukan menyeramkan sehingga dapat meningkatkan motivasi sekaligus mempermudah pemahaman siswa dalam belajar matematika. Salah satu pendekatan pembelajaran matematika yang dapat diterapkan adalah pendekatan matematika realistik (Mat Re).

Pendekatan Mat-Re ini sesuai dengan perubahan paradigma pembelajaran, yaitu dari paradigma mengajar ke paradigma belajar atau perubahan paradigma pembelajaran yang berpusat pada guru ke paradigma pembelajaran yang berpusat pada siswa. Hal ini adalah salah satu upaya dalam rangka memperbaiki mutu pendidikan matematika.Menurut Ben-Hur (2006,hal 6) menjelaskan bahwa pengetahuan konseptual melibatkan konsep pemahaman dan mengakui aplikasi mereka dalam berbagai situasi.

Baca juga:  Belajar IPS Asyik melalui Nyanyian

Dengan menggunakan pendekatan Mat-Re akan mengubah pembelajaran yang mekanistik menjadi pembelajaran yang bermakna. Melalui pendekatan Mat- Re ini matematika tidak disajikan dalam bentuk hasil jadi (a ready-made product), tetapi siswa harus belajar menemukan kembali konsep-konsep matematika. Siswa membentuk sendiri konsep dan prosedur matematika melalui penyelesaian soal yang realistik dan kontekstual.

Dengan pendekatan Mat-Re siswa banyak diberikan kesempatan dalam situasi belajar dan siswa langsung dapat mengaplikasikan kemampuannya. Dengan mengaplikasikan secara langsung pengalaman yang diperoleh akan dapat menumbuhkan kemampuan berpikir kretif siswa. (pb2/zal)

Guru SDN 4 Makam, Purbalingga.

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya