alexametrics

Konsep Bimbingan Konseling Islami di Sekolah

Oleh : Dwi Purwantiningsih, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Dampak dari perubahan pembelajaran daring ke tatap muka secara penuh ternyata memunculkan banyak permasalahan yang sangat banyak dan mengejutkan bagi orang dewasa terutama guru dan orangtua. Setelah dua tahun berjalan dirasakan pembelajaran secara daring dan tatap muka separuh siswa (kelompok A; absen 1-16, dan kelompok B;17-32, permasalahan yang muncul di SMPN 1 Warungasem di antaranya adalah faktor kedisiplinan sebagai berikut : kehadiran di sekolah banyak siswa tidak hadir tepat waktu) sesuai tata tertib siswa hadir 15 menit sebelum pembelajaran. Sebagian siswa hadir 5-10 menit tiba di halaman sekolah.

Presensi siswa di kelas; beberapa siswa tidak hadir di sekolah tanpa surat izin atau tanpa keterangan. Membolos : ditemukan kasus siswa berangkat sekolah, tetapi dia tidak sampai di sekolah. Membawa HP ke sekolah tanpa ada keperluan yang diperintahkan guru dalam pembelajaran.

Menyalahgunakan media sosial untuk pornografi dan memfitnah teman meski dengan alasan bercanda. Sering melanggar tata tertib dalam penanpilan (seragam dan sepatu maupun potongan rambut untuk siswa putra). Tidak mengerjakan tugas baik secara manual maupun daring.

Baca juga:  Penerapan Metoder SOLE pada Materi Aritmatika Sosial

Melalui metode bimbingan klasikal secara Islami dengan menggunakan teori Conditioning and Modelling dari Mortensen dan Schmoeller (Bimbingan dan Konseling Islami, Dr. H. Abdul Choliq Dahlan, M.A., 2007: 26) dasar penjabarannya adalah bahwa dalam ajaran Islam dituliskan tentang pentingnya sikap istikamah dalam melakukan kebaikan. Dalam Alquran Surah Al-Jin ayat 16 disebutkan artinya, “Dan bahwasannya jikalau mereka tetap berjalan terus diatas jalan itu (agama Islam,benar-benar kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak)”.

Teori Conditioning and Modeling Mortensen dan Shmoeller mengungkapkan pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah setidaknya dipengaruhi oleh tiga faktor. Yakni administrasi dan pengawasan, pengajaran (kurikulum), serta pelaksanaan bimbingan dan konseling itu sendiri.

Baca juga:  Menanamkan Budaya Demokrasi di Sekolah Melalui Education Roleplay

Peran guru pembimbing akan lebih maksimal pada saat pelaksanaan bimbingan klasikal di kelas karena bisa mengontrol dan mengawasi serta mendukung program pembiasaan di sekolah khususnya di dalam kelas dengan cara lebih menegaskan kepada siswa akan kepatuhan terhadap tata tertib sekolah karena hal tersebut termasuk tindakan yang bernilai ibadah atau menjalankan sunatullah.

Jadi tidak sekadar hanya karena kewajiban sebagai siswa atau karena rasa takut kepada pihak sekolah contoh; takut pada guru/wali kelas atau pihak-pihak yang berkaitan dengan petugas di sekolah).

Melalui bimbingan konseling secara klasikal yang berkonsep islami dengan metode Conditioning and Modeling maka siswa berlatih mematuhi peraturan yang berkaitan dengan prokes dan tata tertib secara keseluruhan akan memunculkan konsep pada diri siswa tentang kepatuhan dan kedisiplinan dengan dasar nilai ibadah dan bukan semata-mata takut melanggar tata tertib saja karena takut kena sanksi atau hukuman dari konsekuensi pelanggaran yang dilakukannya.

Baca juga:  Asiknya Belajar IPS melalui Word Search

Proses pembiasaan yang dilaksanakan oleh siswa di antaranya adalah berdoa bersama. Dilanjutkan membaca suat-surat pendek dengan juz amma, menyanyikan Lagu Indonesia Raya, dilanjutkan dengan tepuk ABITA dan yel-yel semangat pagi. Guru BK memberikan penekanan pada pelaksanaan PROKES yaitu memakai masker, cuci tangan, dan membawa bekal dari rumah. Pencatatan siswa melanggar prokes dicatat setiap awal bimbingan dibantu siswa pengurus kelas (ketua/sekretaris). Sebagai proses pembiasaan diberikan reward dengan pujian bagi siswa yang tertib dan diberikan sanksi bagi siswa yang melanggar dengan sanksi kebersihan dan pernyataan tentang kepatuhan terhadap aturan.

Selanjutnya bagi siswa yang sering melanggar ditindaklanjuti dengan konseling individu dan kelompok yang berkonsep islami dengan dasar pemahaman Alquran dan Hadist dan sejarah peradaban Islam sendiri. (wa1/lis)

Guru SMPN 1 Warungasem

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya