alexametrics

Kurikulum Merdeka Optimalkan Pembelajaran yang Menarik, Menyentuh, dan Relevan

Oleh: Supanggih, S.Pd., M.M.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, WABAH Covid-19 yang datang tanpa permisi dan kapan akan berakhir juga belum ada yang bisa menjawab secara pasti, telah mebuat kalang kabut semua pihak, khususnya dunia Pendidikan. Bencana ini telah memaksa semua pelaku Pendidikan terutama guru dan peserta didik untuk “dewasa” mengahadapinya, yang sebelumnya kita belajar tatap muka dengan segala kelengkapannya, tiba-tiba harus melakukan pembelajaran online atau daring dengan dengan teknologi informasi dan komunikasi yang belum semua guru dan peserta didik mampu memiliki dan menggunakanya. Wajar jika saat itu terjadi “kegaduhan” yang luar biasa.

Kurikulum 2013 telah kita laksanakan beberapa tahun dan kita telah mengetahui dampak dan hasilnya, demikian juga dengan Kurikulum Darurat (yaitu Kurikulum 2013 yang disederhanakan oleh Kemendikbudristek) kita pun juga sudah mejanakannya meskipun kita belum merasakan dampak dan hasil yang mantap. Dan sekarang Kemendikbudristek menyampaikan kurikulum baru yaitu Kurikulum Merdeka. “Kurikulum opo meneh kui? (kurikulum apa lagi itu)” sering kita dengar.

Kurikulum Merdeka adalah kurikulum dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam di mana materinya akan lebih optimal agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi. Guru memiliki keleluasaan untuk memilih berbagai perangkat ajar sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan belajar dan minat peserta didik.

Baca juga:  Tingkatkan Keterampilan Bertanya dengan Everyone Is A Teacher Here

Pembelajaran ini terdiri dari 80% intrakurikuler atau pembelajaran tatap muka, dan 20 % pembelajaran mandiri peserta didik melalui projek, disertai pencapaian profil pelajar Pancasila, yang dikembangkan berdasarkan tema tertentu dan sudah ditetapkan oleh pemerintah. Projek tersebut tidak diarahkan untuk mencapai target capaian pembelajaran tertentu, sehingga tidak terikat pada materi mata pelajaran. Di sini guru dituntut untuk lebih giat lagi memotivasi peserta didik dalam memahamkan konsep materi pelajaran tertentu yang didukung dengan literasi dan numerasi yang baik.

Struktur kurikulum merdeka yang diterapkan SMPN 43 Semarang terdiri dari kegiatan intrakurikuler, projek penguatan profil pelajar Pancasila, dan ekstrakurikuler. Alokasi jam pelajaran pada struktur kurikulum dituliskan secara total dalam satu tahun dan dilengkapi dengan saran alokasi jam pelajaran jika disampaikan secara mingguan. Selain itu, terdapat penyesuaian dalam pengaturan mata pelajaran yang secara terperinci dijelaskan dalam daftar tanya jawab per jenjang. Untuk SMP perubahan terjadi pada mata pelajaran Informatika menjadi mata pelajaran wajib, sedangkan mata pelajaran Prakarya menjadi salah satu pilihan bersama mata pelajaran Seni (Seni Musik, Seni Tari, Seni Rupa, Seni Teater). Untuk Bimbingan konseling (BK) tidak ada jam pelajaran khusus BK di kelas, namun guru Bimbingan Konseling memegang peranan penting dalam proses penelusuran minat dan bakat peserta didik.

Baca juga:  Alat Peraga Papan RUKI, Tingkatkan Motivasi Belajar Siswa

Waktu pelaksanaan kegiatan ini ditetapkan berdasarkan kesepakatan. Pembelajaran muatan lokal dapat dilakukan melalui tiga metode, yaitu: Mengintegrasikan muatan lokal ke dalam mata pelajaran lain. Mengintegrasikan muatan lokal ke dalam tema projek penguatan profil pelajar Pancasila. Sebagai contoh, projek dengan tema wirausaha dilakukan dengan mengeksplorasi potensi kerajinan lokal, projek dengan tema perubahan iklim dapat dikaitkan dengan isu-isu lingkungan di wilayah tersebut, dan sebagainya. Mengembangkan mata pelajaran khusus muatan lokal yang berdiri sendiri sebagai bagian dari program intrakurikuler.

Penjelasan: satuan pendidikan dan/atau pemerintah daerah dapat mengembangkan mapel khusus muatan lokal yang berdiri sendiri sebagai bagian dari program intrakurikuler. Sebagai contoh, mata pelajaran bahasa dan budaya daerah, kemaritiman, kepariwisataan, dan sebagainya sesuai dengan potensi masing-masing daerah. Dalam hal satuan pendidikan membuka mata pelajaran khusus muatan lokal, beban belajarnya maksimum 72 JP per tahun atau 2 JP per minggu.

Baca juga:  Kolaborasi Guru, Orang Tua dan Siswa di Masa Covid-19

Struktur kurikulum tidak akan berpengaruh pada jam mengajar guru, projek tetap dihitung sebagai beban mengajar guru. Pada dasarnya untuk struktur kurikulum merdeka pada jenjang SMP tidak ada perubahan jam mengajar yang berarti. Tidak ada perubahan total jam pelajaran, hanya saja JP (jam pelajaran) untuk setiap mata pelajaran dialokasikan untuk 2 kegiatan pembelajaran: pembelajaran intrakurikuler dan projek penguatan profil pelajar Pancasila. Jadi, jika dihitung JP kegiatan belajar rutin di kelas (intrakurikuler) saja, memang seolah-olah JP-nya berkurang dibandingkan dengan Kurikulum 2013. Namun, selisih jam pelajaran tersebut dialokasikan untuk projek penguatan profil Pelajar Pancasila. (bat1/zal)

Guru SMPN 43 Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya