alexametrics

Mendongkrak Pemahaman Teks Bacaan dengan Metode Kobe

Oleh : Sujoko, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Kurikulum 2013 hampir berakhir seiring munculnya kurikulum prototipe. Pembelajaran bahasa Indonesia yang diharapkan siswa mempunyai kompetensi utuh dalam aspek kebahasaan seperti membaca, menulis, mendengarkan, berbicara, menumbuhkan minat baca dan berpikir tingkat tinggi serta menumbuhkan kecerdasan spiritual, emosional, sosial, masih menyisakan pekerjaan rumah.

Mata pelajaran bahasa Indonesia yang diharapkan bisa menjadi penghela pengetahuan dan pendorong kearifan untuk menuntun siswa menguasai kompetensi penguasaan teks sastra dan nonsastra dalam rangka mendongkrak kemampuan literasi yang jeblok, juga belum optimal.

Paling tidak itulah yang terjadi di SMP Negeri 2 Sawangan, dilihat dari kaca mata pelajaran bahasa Indonesia. Kemampuan Efektif Membaca (KEM) anak-anak SMP Negeri 2 Sawangan pada umumnya menunjukkan perolehan angka yang rendah. Bahkan masuk kriteria buruk, yakni di bawah 120 kata per menit. Padahal angka ideal seharusnya 200 kata per menit.

Hasil penelitian Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi/Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) dalam Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 yang diterbitkan Maret 2019 menyebutkan kemampuan membaca, sains, dan matematika, skor Indonesia tergolong rendah di urutan ke-74 dari 79 negara.

Baca juga:  Menulis Teks Prosedur Lebih Mudah dengan Media Audio-Visual

Kemampuan dan kelancaran membaca menurut Prof. Dr. Amitya Kumara, M.S. dalam pidato pengukuhan Guru Besar Fakultas Psikologi Univertas Gadjah Mada (UGM) sangat penting. Menurutnya, kelancaran membaca adalah dasar kesuksesan akademik anak. Anak-anak yang terampil membaca sejak usia dini dan selalu dipaparkan dengan bahan cetakan akan memiliki rasa ingin tahu lebih besar dan senantiasa ingin memperluas pengetahuannya. (https://blognyadwee.blogspot.com.) . Sebaliknya, anak-anak yang lambat dalam penguasaan keterampilan membaca disebabkan jarang mendapat latihan, akan kehilangan kesempatan mengembangkan kemampuan membaca dengan lancar. (Depdikbud, 2016: 4).

Penulis menerapkan metode kognitif behaviour (Kobe), untuk mengatasi rendahnya pemahaman literasi siswa SMP Negeri 2 Sawangan khususnya KD berkaitan dengan literasi. Kognitif behaviour adalah metode yang menggabungkan dua teknik pembelajaran. Yakni kognitif dan behaviour. Terapi kognitif behaviour ini memfasilitasi individu belajar mengenali dan mengubah kesalahan.

Baca juga:  Mengenali Situs Brokoh Tingkatkan Pengetahuan Sejarah Siswa

Pendekatan ini diarahkan pada modifikasi fungsi berpikir, merasa, bertindak, bertanya, bertindak, dan memutuskan kembali (https://www.scribd.com/doc/Pendekatan-Kognitif-Behavioral).

Dalam praktiknya metode ini dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut: pertama, siswa diberikan teks literasi secara mandiri. Teks berupa fragmen bagian kecil dari buku, koran, tulisan di internet, data, grafik, diagram dan lain-lain sumber.

Kemudian dievaluasi secara mandiri atas pemahaman materi literasi. Selanjutnya, teks yang telah dibaca pada langkah pertama dibagikan kembali. Siswa berdiskusi menemukan kosakata sulit, asing, atau belum paham baik secara denotatif maupun konotatif, leksikal atau gramatikal, dan sebagainya.

Langkah ketiga, kata-kata yang belum dipahami dan didiskusikan dalam kelompok, membuka kamus umum, atau kamus istilah, ensiklopedi dan dan sumber lain. Siswa dapat dengan aktif belajar dan berlatih menggunakan, mengganti, dan membuat kalimat dengan kata yang mirip.

Baca juga:  Meningkatkan Pengelolaan UKS dengan Sistem SIDOLIK

Kemudian siswa akan dievaluasi kembali atas pemahaman materi literasi. Soal evaluasi berbentuk pengembangan dapat juga berupa pemahaman global materi literasi dengan membuat graphic organizers atau peta konsep dan sejenisnya.

Berdasarkan data dan pengamatan penulis, dengan metode kognitif behavoiur mampu meningkatkan pemahaman rerata skor materi literasi 1 sampai dengan 7 sebesar 2,02 poin dengan persentase hingga 20,02 persen. Kenaikan senada juga terdapat pada capaian skor peta konsep yang mencapai rerata 87,5.

Peningkatan itu disebabkan pemahaman kosakata anak sudah bertambah. Kemampuan literasi siswa merupakan kunci dalam pembelajaran. Siswa yang mempunyai tingkat literasi yang tinggi, kemampuan pada mata pelajaran lainnya juga tinggi. (mn1/lis)

Guru Bahasa Indonesia, SMPN 2 Sawangan, Kabupaten Magelang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya