alexametrics

Strategi Unik dan Menarik Belajar Rumus-Rumus Trigonometri

Oleh: Sudriyah, S.Pd.,M.Si

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pembelajaran merupakan sistem, maka pada saat merencanakan pembelajaran harus mempertimbangkan berbagai komponen-komponen pokok yang mendukung proses pembelajaran. Seperti komponen pendidik, peserta didik, bahan ajar, dan sarana prasarana di lingkungan pembelajaran. Ini untuk mensinergikan masing-masing komponen dengan tujuan pembelajaran yang penuh kreatif.

Pembelajaran unik adalah suatu pembelajaran tersendiri, baik bentuk maupun jenisnya yang lain dari pada yang lain. Atau dengan kata lain tidak ada persamaan dan jarang dijumpai. Suatu pembelajaran yang menarik adalah suatu pembelajaran yang semua komponen-komponen di dalamnya ikut ambil peran dan bagian, sehingga tercipta situasi yang aktif dan kondusif.

Trigonometri diambil dari bahasa Yunani, trigonon = “tiga sudut” dan metron = “mengukur”. Jadi, trigonometri adalah sebuah cabang matematika yang mempelajari hubungan yang meliputi panjang dan sudut segitiga. Bidang ini muncul pada abad ke-3 SM dari penggunaan geometri untuk mempelajari astronomi. (https://id.wikipedia.org/wiki/Trigonometri).

Materi rumus-rumus Trigonometri pada kurikulum 2013 ada pada kelas XI Peminatan Semester Ganjil, di mana pada materi tersebut kita mempelajari mengenai rumus-rumus trigonometri yang merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang jumlah dan selisih dua sudut, perkalian sinus dan cosinus sampai dengan jumlah dan selisih sinus dan cosinus beserta sudut ganda/rangkap. Materi rumus trigonometri sebetulnya bukan materi yang sulit untuk kita pelajari. Namun pada materi rumus trigonometri akan kita jumpai banyak rumus – rumus, mulai jumlah dan selisih dua sudut sampai rumus sudut ganda/rangkap.

Baca juga:  Belajar Menyenangkan dengan Picture and Picture

Proses demi proses kita jalani. Para siswa kita didik secara langsung dengan mengambil penerapan pada bentuk akronim. Sehingga mereka dengan sendirinya tahu bentuk akronim yang digunakan untuk mempelajari bentuk rumus yang ada. Misalnya 2 Sin ∝ Cos β = Sin (∝ +β)+ Sin ( ∝ -β) kita buat akronim 2 Sin Cos = Sin Jumlah + Sin Selisih, 2 Cos ∝ Sin β = Sin (∝ +β)- Sin ( ∝ -β) kita buat akronim 2 Cos Sin = Sin Jumlah – Sin Selisih.

Berbagai upaya dilakukan sekolah untuk mendidik para peserta didiknya mau disiplin. Baik disiplin menuju, saat, dan setelah pulang sekolah. Salah satunya dengan menghidupkan bentuk hukuman mendidik/punisment. Seperti halnya di sekolah tempat penulis mengabdikan diri di SMA Negeri 1 Comal, Kabupaten Pemalang, sebuah sekolah besar dengan latar belakang para peserta didik yang beraneka ragam.

Baca juga:  Dengan Membuat Video Pembelajaran Matematika Lebih Mudah

Secara kumulatif, tingkat kedisiplinan siswa tergolong masih dalam batas yang wajar. Dari sini penulis berinisiatif merubah mindset peserta didik secara bertahap mulai dari hal-hal yang kecil. Dimulai dari saat pembelajaran yang kita terapkan di kelas agar para peserta didik selalu terkesan di benak memori otaknya. Dengan tujuan mengena, tepat sasaran, sekaligus melatih mereka agar memiliki pola pikir bahwa tidak ada yang susah dalam pelajaran matematika selagi kita mau berusaha dengan sungguh- sungguh.

Usaha untuk mengubah mindset peserta didik terbawa dengan sendirinya. Dibuktikan dari hasil PAS, hasil yang diperoleh para peserta didik banyak yang mencapai di atas KKM yang ditetapkan. Ini menggambarkan, ternyata menyadarkan arti penting menerapkan sesuatu yang unik dan yang menarik bukan perkara yang sulit kalau memang niat kita mampu mewujudkan. Sambil belajar kita dapat menerapkan pesan-pesan moral yang bisa diambil sisi positifnya untuk para peserta didik.

Nah, sekarang tinggal tugas dari diri kita selaku pendidik, apakah kita akan berdiam diri atau berbuat yang terbaik untuk kehidupan kita sendiri selama menjadi pendidik? Jawabannya ada pada hati kita yang lebih mengetahuinya.

Baca juga:  Mengembangkan Literasi Numerasi Berbasis HOTS

Bagi sekolah, tidak ada salahnya membangun citra. Bahkan citra baik harus diperjuangkan. Citra bukan hanya perkara keluar, tetapi juga hingga ke dalam. Citra adalah yang tertangkap di luar. Memulainya dari dalam, dan diawali sekian tahun sebelum citra itu terhembus keluar. Sesuatu terlihat biasanya mencerminkan yang tidak terlihat.

Dalam lingkup sekolah, citra itu dibangun melalui sistem yang baik. Dijalankan melalui sistem yang baik. Dijalankan dengan benar, disiplin, konsekuen, konsisten, dan dipahami serta dijalani seluruh komponen baik pimpinan, guru, siswa, hingga petugas administrasi. Seiring waktu, maka akan berbunga menjadi prestasi. Baru banyak orang menoleh keelokannya. Artinya apa? Seluruh sekolah memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh. Sekolah yang baik akan selau dipandang tidak mengenal waktu.

Citra yang baik itu menimbulkan gengsi. Bagi orang yang di dalam, yang ikut berproses, maka gengsi sama dengan kebanggaan. Seseorang merasa bangga menjadi bagian dari sekolah itu. Di mana-mana nama sekolah yang bergengsi ditunjukkan. Maka, jika reputasi sudah seperti ini, banyak orang yang ingin menjadi bagian dari sekolah itu. (ump2/aro)

Guru Matematika SMA Negeri 1 Comal, Pemalang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya