alexametrics

Mendidik Anak, Bagai Mengukir di Atas Batu

Oleh : Dian Indrihartani S.Sos, MPd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Anak titipan Allah Swt yang harus dijaga, dirawat serta dididik sepenuh hati dan segenap jiwa raga. Anak amanah tidak terkira dan tidak ternilai. Sehingga anak harus diberikan yang terbaik, spesial dan teristimewa. Berbicara tentang anak banyak sekali peristiwa dan fenomena yang membuat kalbu tersentuh dan pikiran melayang. Kehadiran anak merupakan keadaan yang harus disyukuri. Ditindaklanjuti dengan hal-hal positif dan memberikan bekal untuk mencapai sebutan sebagai makhluk sempurna ciptaan Allah SWT.

Bekal anak-anak harus kita persiapkan sebaik mungkin. Cara mendidik anak sesuai Sunnah dan Al-Qur’an antara lain : 1. Memperdengarkan Al-Qur’an sejak dalam kandungan hingga lahir. Ini sebagai fondasi agar anak mengenal Firman Allah sejak sejak di kandungan. Jika anak sudah diperdengarkan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an maka akan berpengaruh dan korelasi kuat antara makhluk dengan sang pencipta. 2. Mengajarkan dasar-dasar Islam. Ibu harus punya action nyata dalam mendidik anak untuk mengajarkan dasar-dasar Islam. Ibu atau Umi merupakan Madrasatul Ula (sekolah pertama bagi anak-anaknya).

Ibu figur yang dapat memberikan pendidikan dasar-dasar Islam kepada anak-anaknya sejak kecil. Mulai mengenalkan rukun Islam serta rukun Iman. Sehingga terbentuk akidah yang kuat tentang keislaman. Ibu harus memahami karakter dan bagaimana caranya memberikan pengajaran terbaik. Mendidik anak sejak dini merupakan hal penting dan tidak bisa ditoleransi lagi. Maka sebagai orang tua kita harus memberi contoh yang baik. 3. Memberi contoh dan mengajarkan salat kepada anak-anak. Anak laki-laki baligh ketika sudah dikhitan. Sedangkan anak perempuan memasuki usia baligh ketika mendapatkan datang bulan.

Baca juga:  SSPS Hindu-Buddha dengan Model Outdoor Learning Berbasis Perkemahan Sejarah

Saat inilah kita harus memberikan contoh dan mengajarkan anak-anak tentang salat lima waktu. Anak-anak tentu akan menurut ketika orang tuanya memberikan teladan. Sehingga tidak sekadar bicara tetapi langsung kepada action termasuk salat sunah. Kiranya ini termasuk cara yang jitu untuk mendidik anak-anak agar menjadi pribadi berakhlak mulia. Karena salat adalah tiang agama, kalau tiangnya kokoh, tentu bangunan akan kokoh. Sementara bila tiangnya rapuh, maka tidak akan dapat menyangga bangunan sekecil apa pun.

4. Mengajarkan tauhid kepada anak-anak. Tauhid adalah aqidah bawaan manusia. Tauhid sebagai ilmu yang mempelajari tentang sifat keesaan Allah. Allah itu satu, dzat yang memiliki kesempurnaan dan tidak ada satupun yang bisa menggantikannya. Allah Swt tidak beranak dan diperanakkan. Kita didik anak-anak agar jangan sampai menyekutukan Allah. Ini merupakan fundamen penting untuk bekal anak-anak agar tahan banting dan tahan uji serta tahan godaan di sekelilingnya. Mengingat dunia semakin maju semakin mengglobalisasi maka semakin banyak pula hal-hal yang membuat anak-anak menjadi terpengaruh dan melakukan hal-hal negatif.

Baca juga:  Penerapan Disiplin Positif untuk Mengurangi Angka Keterlambatan pada Siswa

Rukun Islam keempat adalah mengajarkan puasa kepada anak-anak. Anak-anak yang melihat sosok kedua orang tuanya melaksanakan puasa maka dalam jiwa anak akan tertanam sebuah keyakinan kuat. Bahwa puasa adalah ibadah yang dilakukan oleh makhluk Allah yang dipersembahkan khusus untuk sang pencipta. Puasa mengajarkan kepada anak-anak menahan segala Jiwa nafsu yang menyelimuti kalbu manusia. Kita tanamkan kepada anak-anak bahwa puasa adalah wujud nyata kecintaan kita kepada Allah.

Yang memberikan nikmat kepada seluruh makhluk di bumi termasuk manusia. Anak-anak akan merasakan betapa hebat perjuangan orang yang berpuasa. Lebih bagus lagi kita berikan contoh kepada anak-anak tidak hanya sekedar melaksanakan ibadah puasa. Tetapi memberikan makanan untuk berbuka bagi orang-orang di sekitar yang sedang berpuasa. Jika semuanya dilakukan dengan tulus ikhlas pasti janji Allah akan terwujud.

Sebagai akhir tulisan saya tentang mendidik anak sejak kecil ibarat mengukir di atas batu adalah dengan memberi nama panggilan yang baik kepada anak-anak. Sering terdengar istilah apa artinya sebuah nama. Tetapi sungguh kita tidak boleh main-main terhadap hal ini. Nama yang kita berikan kepada anak-anak akan membawa pengaruh positif terhadap mereka. Sehingga berilah nama yang paling baik untuk anak-anak kita.

Baca juga:  Mudah Pahami Geometri dengan Wingeom

Energi positif akan muncul kepada anak-anak ketika mereka diberi nama yang membuat mereka percaya diri, merasa dihargai, dan diperhitungkan keberadaannya. Nama yang baik adalah nama penuh makna, mempunyai arti dan yang bisa dimaknai sebagai sebuah pribadi yang pantas mendapat sebutan sebagai makhluk ciptaan Allah.

Kesimpulannya jika kita mendidik anak sejak kecil maka hasilnya sesuai dengan yang diharapkan. Agar kelak terbentuk pribadi yang betul-betul bisa menjadi teladan dan tumpuan bagi kita semuanya. Utamanya untuk kedua orangtuanya. Paling akhir, ada dua buah pantun

Anak-anak yang terlahir ke dunia
Adalah titipan sang maha kuasa
Oleh karenanya harus kita jaga
Dengan segenap hati dan sepenuh jiwa raga

Anak-anak yang di hadapan mata kita
Adalah anak-anak yang mengharap bimbingan dan uluran tangan kita
Oleh karenanya berikan pendidikan yang terbaik kepada mereka
Agar kelak mereka bahagia dunia akhiratnya. (*/fth)

Guru SMA 3 Salatiga

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya