alexametrics

Nasi Goreng Kecap sebagai Pendukung Pemahaman Konsep Operasi Bilangan Bulat

Oleh: Rasdi, S.Pd.SD

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PERMAINAN tradisional berfokus pada hubungan dua arah atau lebih dengan kerjasama, empati dan tanggung jawa. Kualitas yang baik dapat diturunkan dari permainan tradisional karena munculnya interaksi antara anak dan teman bermain. Permainan tradisional juga mengandung beberapa nilai budaya dan memiliki fungsi melatih pemain dalam hal-hal penting yang akan sangat berguna bagi kehidupan mereka di masyarakat seperti: pelatihan aritmatika pelatihan, berpikir, latihan keberanian latihan kejujuran.

Pada zaman dahulu permainan tradisional sering dimainkan oleh anak-anak sepulang sekolah. Fungsi permainan tradisional umumnya untuk menghibur atau untuk menghilangkan rasa lelah. Indonesia memiliki banyak permainan tradisional dari berbagai daerah yang kini banyak ditinggalkan oleh anak-anak. Begitu juga yang dialami siswa kelas 4 SDN Bodas sudah jarang melakukan permainan tradisional.

Penulis menerapkan pembelajaran matematika yang dianggap sulit oleh siswa. Era revolusi industri 4.0 memiliki dampak besar tehadap beberapa bidang salah satunya pada bidang pendidikan dimana pada era ini terdapat berbagai percepatan dalam hal teknologi. Oleh sebab itu anak-anak zaman sekarang lebih tertarik bermain permainan online dibandingkan memainkan permainan tradisional.

Baca juga:  Alternatif Siswa Curhat di Masa Pandemi dengan WhatsApp Pribadi

Akhirnya kondisi seperti ini penulis berusaha memberikan tantangan baru di kelasnya sebab pendidikan berperan dalam membentuk manusia berbudaya. Menurut Rosikhoh & Abdussakir, 2020 mengembangkan salah satu permainan tradisional dalam pembelajaran yaitu Nasi Goreng Kecap. Nasi Goreng Kecap yang disingkat NGK atau biasa disebut dengan Tong Tong Golitong Ji merupakan salah satu permainan tradisional dari kota Malang.

Nasi Goreng Kecap merupakan singkatan dari beberapa nama hewan yaitu naga, singa, gorila, renggo, kelelawar, dan capung. Permainan ini dimainkan oleh dua sampai enam pemain dengan memiliki lima tahapan permainan, tahap pertama yaitu tahap pilihan dimana setiap pemain memilih salah satu dari enam nama hewan dalam permainan Nasi Goreng kecap dan sebelum memilih guru bisa membagi peserta didik kedalam beberapa kelompok dengan beranggota 4-6 siswa, kemudian semua kelompok memainkan permainan NGK (cuman sampai tahap kedua saja).

Baca juga:  Variasi Stimulus Tingkatkan Motivasi Belajar Siswa

Sedangkan tahap dua merupakan tahap eliminasi, nantinya permainan menggunakan kata kunci na-si-go-reng-ke-cap. Jadi guru membiarkan semua peserta didik bermain NGK seperti biasa dengan menunjuk setiap jari yang dikeluarkan oleh setiap anggota kelompok sembari mengucapkan kata kunci permainan yaitu na-si-go-reng-ke-cap sampai menunjuk jari terkhir yang dikeluarkan dan hingga menemukan nama siapa yang harus keluar dari permaianan. Misal ada 4 anggota satu kelompok kemudian mengeluarkan 9 jari, 5 jari, 3 jari, dan 4 jari maka kata kunci terkhir itu “go” yang berarti gorila, dan anggota yang memilih nama hewan gorila harus keluar dari permainan. Kunci kata diucapkan satu suku kata setiap menunjuk satu jari dan begitu seterusnya hingga tersisa satu pemenang.

Selanjutnya guru memberikan Lembar Kerja Kelompok (LKK) yang berisi beberapa soal, misalnya : Pertama, Berapa banyak suku kata dari kata kunci yang disebutkan dalam proses tahap dua permainan? Kedua, Berapakaah jari yang terulang dalam permainan atau tersebut dengan kata kunci yang sama selama permainan? dan selanjutnya dapat dikombinasikan dengan soal tabel dan soal pertanyaan eliminasi.

Baca juga:  Mengembangkan Kreativitas dan Kecerdasan Anak Sejak Dini

Kemudian tahap terakhir yaitu membuat kesimpulan, nantinya setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi dan kerja kelompoknya. Sedangkan guru dan kelompok lain juga ikut menanggapi hasil presentasinya. Setelah akhir pembelajaran guru menjelaskan ulang tujuan dan maksud permainan tersebut.

Penggunaan permainan Nasi Goreng kecap dalam proses pembelajaran dapat membuat peserta didik lebih memahami konsep bilangan bulat, serta dengan pola pembelajaran seperti ini dapat membentuk kepribadian yang berbudaya, jadi tidak hanya belajar matematika dengan menyenangkan tapi juga ikut melestarikan budaya lokal. (cd3/zal)

Guru SDN Bodas, Kab. Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya