alexametrics

Pengembangan Karakter Berbasis Pancasila pada Kurikulum Prototipe

Oleh : Maelani Yunita, S.Pd.SD

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PADA Tahun 2022 ini, Kementerian pendidikan dan kebudayaan riset teknologi (kemendibudristek) telah merancang kurikulum paradigma baru yang disebut dengan Kurikulum Prototipe. Kurikulum Protipe bukanlah kurikulum baru, melainkan kurikulum penyempurna dari kurikulum 2013 (kurtilas) yang sampai saat ini masih tetap berlaku dan dapat digunakan. Kurikulum ini merupakan kurikulum pilihan (opsi) yang dapat diterapkan pada satuan pendidikan mulai tahun ajaran 2022/2023. Kurikulum Prototipe melanjutkan arah pengembangan kurikulum sebelumnya yaitu Kurikulum 2013 atau Kurtilas.

Kurikulum Prototipe ini mendorong pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan siswa, serta memberi ruang lebih luas pada pengembangan karakter dan kompetensi dasar. Kementerian pendidikan dan kebudayaan riset teknologi (kemendibudristek) mencanangkan dalam struktur kurikulum prototipe, 20 – 30 persen jam pelajaran digunakan untuk pengembangan karakter.

Pengembangan karakter pada kurikulum prototipe yang dimaksud adalah Pengembangan karakter Berbasis Pancasila atau yang sering kita kenal dengan pengembangan karakter dengan Profil Pelajar Pancasila melalui pembelajaran berbasis projek. Dalam pembelajaran berbasis projek sangat penting menerapkan pengembangan karakter karena dapat memberi kesempatan untuk belajar melalui pengalaman (experiential learning), mengintegrasikan kompetensi esensial yang dipelajari peserta didik dari berbagai disiplin ilmu, dan struktur belajar yang fleksibel.

Baca juga:  Pembiasaan Menuntun Kebiasaan

Gagasan mencanangkan Profil Pelajar Pancasila dapat dianggap sebagai upaya mencanangkan sebuah visi. Profil Pelajar Pancasila ini dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2020-2024.

Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan enam ciri utama yaitu: Beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia; berkebhinekaan global; bergotong royong; mandiri; bernalar kritis; dan kreatif. Keenam karakteristik tersebut dibentuk melalui penumbuh kembangan nilai-nilai budaya Indonesia dan Pancasila, yang merupakan fondasi bagi arah pembangunan nasional.

Dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis projek yang terintegrasi dengan pendidikan karakter, Kemendikbudristek telah menyediakan 7 tema utama pengembangan karakter yang berlandaskan profil pelajar pancasila. Tema utama ini nantinya perlu dikembangkan menjadi modul dengan topik dan tujuan yang lebih spesifik agar dapat diterpakan di satuan pendidikan. Tema- tema yang dapat dikembangkan meliputi: Bangunlah Jiwa dan Raganya, Berekayasa dan Berteknologi untuk Membangun NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, Gaya Hidup Berkelanjutan, Kearifan Lokal, Kewirausahaan, dan Suara Demokrasi.

Baca juga:  Pembelajaran Jarak Jauh dapat Mempengaruhi Perkembangan Moral Anak

Karakteristik Kurikulum Prototipe 2022 pada jenjang Sekolah Dasar yaitu penguatan kompetensi yang mendasar dan pemahaman holistik. Untuk memahami lingkungan sektar, mata pelajaran IPA dan IPS digabungkan sebagai mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS). Integrasi computational thinking dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPAS.

Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran pilihan Pembelajaran berbasis projek untuk penguatan profil Pelajar Pancasila dilakukan minimal 2 kali dalam satu tahun ajaran. Berdasarkan Karakteristik Kurikulum Prototipe 2022 tersebut, terlihat bahwa Kurikulum Prototipe sama dengan kurikulum yang saat ini sedang diterapkan di program Sekolah Penggerak atau kurikulum PSP.

Dengan adanya penekanan pada pengembangan Karakter Berbasis Pancasila pada Kurikulum Prototipe seperti yang diterapkan di SDN 03 Wanarejan, Pemalang, maka sebagai orang tua dan pendidik, kita dapat memulainya dari lingkungan kita sendiri. Cara paling sederhana yang dapat kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari misalnya dengan: Memberi contoh dan teladan yang baik kepada anak; Mendiskusikan perasaan dan suasana emosional anak; Memberikan anak bacaan yang bermuatan pesan moral dan nilai baik; Mendiskusikan pesan moral dalam bacaan anak; Melibatkan anak dalam perbuatan dengan nilai-nilai baik; Mendiskusikan nilai-nilai yang terkandung dalam suatu kejadian untuk mengasah kemampuannya memahami berbagai karakter. (rn2/zal)

Baca juga:  Bangkitkan Motivasi Belajar dalam Memahami Materi dengan Bergambar

Guru SDN 03 Wanarejan, Pemalang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya