alexametrics

Peningkatan Kemampuan Membaca Permulaan Siswa Kelas 1 melalui Kartu Huruf

Oleh : Zubaidah, S.Pd.SD

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Rendahnya kemampuan membaca permulaan siswa kelas I SDN Pagersari pada seluruh mata pelajaran merupakan salah satu faktor yang menyebabkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran yang diberikan guru kurang mampu diterima oleh siswa.

Kemampuan membaca siswa rendah juga disebabkan proses pembelajaran menggunakan media konvensional. Yaitu dengan menggunakan papan tulis dan pembelajaran hanya berpusat kepada guru serta membuat siswa pasif.
Membaca permulaan merupakan tahapan proses belajar membaca bagi siswa sekolah dasar kelas awal. Siswa belajar untuk memperoleh kemampuan dan menguasai teknik-teknik membaca dan menangkap isi bacaan dengan baik. Oleh karena itu guru perlu merancang pembelajaran membaca dengan baik sehingga mampu menumbuhkan kebiasan membaca sebagai suatu yang menyenangkan.

Menurut Ana Widyastuti (2017:2), “Membaca merupakan kegiatan yang melibatkan unsur auditif (pendengaran) dan visual (pengamatan). Kemampuan membaca dimulai ketika anak senang mengeksplorasi buku dengan cara memegang atau membolak-balik buku. Bahasa merupakan alat komunikasi utama anak mengungkapkan keinginan maupun kebutuhannya. Sedangkan menurut Nurhadi (2016:2), “Membaca adalah proses pengolahan bacaan secara kritis-kreatif yang dilakukan pembaca untuk memperoleh pemahaman menyeluruh tentang bacaan itu, yang diikuti oleh penilaian terhadap keadaan, nilai, fungsi, dan dampak bacaan itu.

Baca juga:  Tingkatkan Efektivitas Belajar Mencangkok melalui PJBL

Guru mencoba melaksanakan praktik membaca permulaan di kelas I SD dalam dua tahap. Yaitu membaca periode tanpa buku dan membaca dengan menggunakan buku. Pembelajaran membaca tanpa buku dilakukan dengan cara mengajar dengan menggunakan media atau alat peraga selain buku. Misalnya kartu gambar, kartu huruf, kartu kata dan kartu kalimat. Pembelajaran membaca dengan buku merupakan kegiatan membaca dengan menggunakan buku sebagai bahan pelajaran.

Untuk menunjang pembelajaran membaca maka diperlukan alat peraga sebagai sarana yang sangat diperlukan dalam menunjang keberhasilan proses belajar mengajar. Alat peraga menurut Depdiknas (2003) adalah benda/alat yang digunakan untuk memperagakan fakta, konsep, prinsip/prosedur tertentu agar tampak lebih nyata/kongkret.

Jadi alat peraga adalah sarana yang digunakan oleh guru untuk menunjang proses belajar mengajar di dalam kelas agar pembelajaran tampak lebih nyata/kongkret sehingga siswa lebih mengerti.
Guru mencoba menggunakan alat peraga kartu huruf berupa abjad-abjad yang dituliskan pada potongan-potongan kertas. Potongan-potongan huruf tersebut dapat dipindah-pindahkan sesuai keinginan pembuat suku kata, kata maupun kalimat.

Baca juga:  Meningkatkan Kemampuan Guru dalam Membuat Kisi-Kisi Soal melalui Supervisi Klinis

Tujuan penggunaan kartu huruf tersebut untuk merespons kemampuan membaca siswa yang tadinya tidak bisa ataupun tidak lancar menjadi lebih lancar. Menurut Nurhadi Dalman (2014:13) ada beragam tujuan membaca, yaitu memahami secara detail dan menyeluruh isi bacaan, menangkap ide pokok/gagasan utama buku secara cepat. Mendapatkan informasi tentang sesuatu, mengenali makna kata-kata sulit, ingin mengetahui peristiwa penting yang terjadi di seluruh dunia. Ingin mengetahui peristiwa penting yang terjadi di masyarakat sekitar. Ingin memperoleh kenikmatan dari karya fiksi.

Ingin memperoleh informasi tentang lowongan kerja, mencari barang-barang atau produk yang cocok untuk dibeli. Dan ingin menilai kebenaran gagasan pengarang/penulis.

Guru dapat memberikan program pengembangan kemampuan membaca permulaan dengan metode permainan kartu huruf ini. Pelaksanaan metode permainan kartu huruf ini akan lebih efektif apabila tidak dilaksanakan pada awal tahun ajaran baru.

Baca juga:  Pembelajaran Daring Membuat Iklan melalui Aplikasi Whatsapp

Selain itu guru dalam melakukan pembagian kelompok sebaiknya dilaksanakan secara merata. Yaitu anak yang memiliki kemampuan yang belum berkembang dikelompokkan dengan anak yang memiliki kemampuan lebih. Sehingga permainan berjalan seimbang. Kartu huruf yang digunakan juga dapat dibuat lebih besar dan menggunakan gambar-gambar yang lebih dikenali anak sehingga memudahkan anak dalam mengenali huruf yang ada. (mn2/lis)

Guru Kelas 1 SDN Pagersari, Kec. Mungkid Kabupaten Magelang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya