alexametrics

Sekolah Merupakan Rumah Kedua

Oleh : Yuli Ernawati, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Situasi pendidikan saat ini sangat memprihatinkan akibat pandemi Covid-19. Namun dengan semangat juang, semua akan bisa terlewati. Dampak pandemi sangat dirasakan siswa dan juga guru. Guru terpaksa harus bisa menggunakan media elektronik supaya bisa memberi materi secara daring.

Setelah keluar surat edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan dan Menteri dalam Negeri Nomor 03/KB/2021, Nomor 384 tahun 2021, Nomor HK .01.08/Menkes/4242/2021 dan Nomor 440-717 tahun 2021 tentang PTMT, bahwa kita sudah diperbolehkan pembelajaran tatap muka terbatas, sedikit angin segar bagi dunia pendidikan. Walau harus dengan protokol kesehatan yang sangat ketat. Kita sebagai akar rumput dalam pendidikan berupaya bagaimana anak-anak tetap semangat dalam mengikuti pembelajaran.
Sebagian anak semangat namun ada yang telanjur tidak mau masuk, mungkin di rumah bisa membantu orang tua, bisa bermain dengan bebas dan sebagainya.

Nah bagaimanakah trik atau cara mengatasi siswa yang seperti di atas? Terkadang tiba giliranya masuk untuk luring pun mereka malas dalam mengikuti pelajaran. Alasannya berbagai macam, di sekolah tidak boleh jajan, tidak ada waktu istirahat, harus memakai masker. Banyak alasan sehingga sekolah mengajak para dewan guru untuk mengubah cara berpikir siswa agar siswa merasa butuh ilmu. Siswa merasa nyaman yaitu dengan menciptakan situasi sekolah sebagai rumah kedua bagi warga sekolah. Dengan harapan tidak hanya siswanya saja yang nantinya akan merasa nyaman dan merasa butuh untuk datang di sekolah tetapi juga para guru.

Baca juga:  Meningkatkan Prestasi dengan Bersaing Menggunakan Kahoot

Penulis mengukuti program Gerakan Sekolah Menyenangkan secara daring lewat Zoom meeting. Bertemu dengan orang-orang hebat antara lain Muhammad Nur Rizal, PhD dan istrinya Novi Poespita Candra yang tinggal di Australia untuk menempuh studi doktoralnya (https://sekolahmenyenangkan.or.id/tentang-kami/) Dari pengalaman-pengalaman merekalah yang mengajak penulis untuk berubah, berbagi dan berkolaborasi.

Perlahan tapi pasti serta yakin dengan niat kita akan mengadakan perubahan anak- anak didik, guru-guru juga akan selalu rindu sekolahnya. Merasa sangat senang berangkat ke sekolah serta tidak ada lagi kata malas dan ogah-ogahan untuk berangkat sekolah.
Bagaimana anak tidak suka kelas yang biasanya bersih sekarang banyak karya mereka dipajang. Sehingga kelas tampak beragam dan berwarna. Memang untuk menciptakan suasana seperti di atas tidak semudah membalikkan tangan. Kita membutuhkan kerja sama dari semua pihak. Komite juga tak kalah pentingnya dengan dukungan pembiayaan. Dari merekalah bisa mewujudkan program-program sekolah.

Baca juga:  Siswa Dipantau mulai Masuk Kelas hingga Pulang Rumah

Untuk menciptakan ekosistem sekolah yang menyenangkan yang akan menjadi sebagai rumah kedua, ada empat strategi perubahan. Pertama membentuk tim Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) yang terdiri dari tiga guru yang ikut dalam POP GSM.

Kedua, menciptakan lingkungan positif dan keterhubungan sosial. Ketiga, kepemimpinan yang transformatif. Keempat adalah menciptakan pembelajaran yang membangun penalaran dan kesadaran diri atau dengan berbagi pengembangan praktik bersama dengan guru-guru lain.
Dalam pembelajaran yang positif dan menyenangkan hukuman pada siswa bisa diganti menjadi konsekuensi.

Konsekuensi adalah hal-hal yang memang harus dilakukan oleh siswa jika tindakannya merugikan orang lain, atau merusak lingkungan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), konsekuensi adalah akibat dari suatu perbuatan, pendirian, dan sebagainya. Konsekuensi adalah hasil akhir atau dampak dari suatu perbuatan jika hal tersebut dilakukan.

Baca juga:  Anak-Anak Lebih Rentan Kena Covid-19, Belum Terbangun Kesadaran dengan Baik

Konsekuensi bisa ditentukan dengan berdiskusi mengenahi dampak dan kerugian dari kesalahan siswa dan memintanya berkomitmen untuk memperbaiki dampak dari kesalahanya. Nah inilah maksudnya tindakan guru yang nantinya anak tidak merasa dihukum namun dengan kesadaran sendiri bisa melakukan, merevisi juga memperbaiki atas kesalahan dengan tanggung jawab. (ms1/lis)

Kepala SDN Mojolegi, Teras, Kabupaten Boyolali

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya