alexametrics

Indahnya Beradiwiyata Bersama Orang Tua Siswa

Oleh : Supriyanto, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SMP Negeri 1 Mungkid melaksanakan Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (PBLHS) sesuai Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.52/MENLHK/SETJEN/KUM.1/9/2019 tentang Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah. Sehingga meraih predikat Sekolah Adiwiyata Kabupaten Magelang dengan piagam penghargaan Nomor 660.1/253/11/2020 tertanggal 10 Februari 2020.

Prestasi ini sekaligus sebagai amanat bahwa sekolah ini harus meraih Adiwiyata Provinsi pada tahun 2022. Atau dua tahun setelah diraihnya prestasi tersebut di tingkat kabupaten.

Gerakan PBLHS bertujuan mewujudkan perilaku ramah lingkungan hidup dari warga sekolah (Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.53/ MENLHK/ SETJEN/ KUM.1/ 9/ 2019 tentang Penghargaan Adiwiyata). Dalam instrumen penilaian Adiwiyata disebutkan bahwa penyusunan rencana, pelaksanaan, dan pemantauan, dan penilaian gerakan PBLHS melibatkan kepala sekolah, dewan pendidik, komite sekolah, peserta didik, dan masyarakat. Di lingkup sekolah, masyarakat yang dimaksud adalah orang tua siswa.

Baca juga:  Supervisi dengan Bim-In Tingkatkan Kemampuan Guru dalam Pembelajaran PBL

Pelibatan orang tua siswa dalam kegiatan sekolah mengacu pada manajemen berbasis sekolah (MBS) yakni model pengelolaan yang memberikan otonomi (kewenangan dan tanggung jawab) lebih besar kepada sekolah, memberikan fleksibilitas/ keluwesan-keluwesan kepada sekolah, mendorong partisipasi secara langsung warga sekolah (guru, siswa, kepala sekolah, karyawan) dan masyarakat (orang tua siswa, tokoh masyarakat, ilmuwan, pengusaha, dan sebagainya) untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional serta peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dengan otonomi tersebut, sekolah diberikan kewenangan dan tanggung jawab untuk mengambil keputusan-keputusan sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, dan tuntutan sekolah, serta masyarakat atau stakeholder yang ada (Kemendiknas 2010: 712).

Pelibatan orang tua siswa dimulai saat perencanaan. Kegiatannya diawali sosialisasi dan pernyataan komitmen untuk berkontribusi dalam kegiatan adiwiyata. Sosialisasi dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup dan dihadiri oleh komite sekolah, pengurus paguyuban kelas, dewan pendidik, tenaga kependidikan, dan perwakilan siswa/OSIS.

Baca juga:  Meningkatkan AKM Numerasi Melalui Media Permainan

Setelah semua warga sekolah memiliki pemahaman yang sama, kegiatan dilanjutkan dengan penyusunan Evaluasi Diri Sekolah (EDS) Adiwiyata dan Penyusunan Identifikasi Potensi dan Masalah Lingkungan Hidup (IPMLH). Langkah selanjutnya penyusunan program adiwiyata berdasarkan keduanya. Pada akhir sesi perencanaan ini, kepala sekolah memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada orang tua siswa untuk berperan aktif dalam kegiatan adiwiyata.

Aksi beradiwiyata dilakukan hampir oleh semua orang tua dan siswa di luar jam pembelajaran. Mereka secara bergotong-royong dan sukarela melakukan pembersihan kelas dan lingkungannya. Membuat taman sekolah, menanam dan merawat pohon, membuat tempat sampah yang terbagi atas organik dan anorganik. Juga membuat slogan dan poster tentang cinta lingkungan. Beberapa orang tua siswa menjadi narasumber untuk kegiatan inovasi dalam gerakan PBLHS di antaranya budidaya magoot yang menjadi bahan nutrisi ikan di kolam sekolah.

Baca juga:  Belajar Gerak Berirama Asyik dengan Metode PBL

Komite dan perwakilan orang tua siswa juga menjadi petugas monitoring pelaksanaan adiwiyata. Berdasarkan instrumen yang ada, mereka mengontrol kegiatan adiwiyata per dua bulan. Hasilnya disampaikan kepada publik sekolah untuk dilakukan perbaikan atau pengadaan aktivitas yang belum terlaksana. Monitoring dan kontroling ini bukan untuk mencari-cari kelemahan, tetapi digunakan sebagai evaluasi diri kontinyu dan melekat yang berfungsi sebagai alat pembinaan. Semua kegiatan dikoordinasikan oleh tim Adiwiyata Sekolah.

Adiwiyata amat senafas dengan program pendidikan karakter utamanya cinta dan peduli lingkungan. Adiwiyata bukan sesuatu yang sulit untuk dilaksanakan. Program ini akan mudah dan murah ketika sekolah memberi kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat sekolah untuk berpartisipasi, terlebih orang tua siswa. (mk2/lis)

Kepala SMPN 1 Grabag, Kabupaten Magelang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya