alexametrics

Pembelajaran Praktikum Kimia dengan Small Scale Laboratory

Oleh: Sri Utami, S.Pd., M.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pembelajaran yang dilakukan oleh setiap manusia yang unik tentulah tidak selalu seragam. Bahkan keseragaman pembelajaran seringkali tidak akan dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Menurut Edgar Dale, pembelajaran mengutamakan partisipasi aktif siswa dalam berinteraksi dengan situasi belajarnya melalui panca indranya melalui penglihatan, pendengaran, sentuhan, penciuman dan rasa. Sehingga modus tindakannya adalah say it and do it pada siswa yang dapat diklasifikasikan ke dalam kategori tertentu. Mereka menyimpulkan bahwa setiap siswa belajar dengan caranya sendiri, yang disebut gaya belajar.

Kerucut pengalaman yang didapatkan dari hasil belajar adalah 10% dari yang kita baca, 20% dari yang kita dengar, 30% dari yang kita lihat, 50% dari yang kita lihat dan dengar, 70% dari yang kita katakan, dan 90% dari yang kita katakan dan lakukan (Succesful Learning Comes from Doing, Wyatt S Looper, 1999).

Oleh sebab itu pengalaman belajar yang didapatkan dari melakukan sendiri akan lebih kuat terpatri didalam ingatan dan juga menjadi self skill bagi yang telah melakukannya.

Pembelajaran praktikum di sekolah, adalah salah satu upaya untuk memberikan pengalaman yang berarti pada siswa untuk memahami konsep secara holistik dan lebih mendalam. Selain itu juga mendorong sikap positif dan ketertarikan siswa kepada pelajaran, serta dapat mengembangkan keterampilan komunikasi dan kolaborasi.

Baca juga:  Praktikum Sel Volta dengan Mudah dari Rumah

Namun tidak semua sekolah dapat menyelenggarakan praktikum (kimia) seperti yang diharapkan. Banyak kendalanya antara lain kurang atau tidak adanya anggaran untuk kegiatan praktikum. Kurang layak atau malah tidak ada infrastuktur laboratorium, kurangnya peralatan dan bahan praktikum. Tidak adanya laboran serta tidak adanya atau belum optimalnya managemen pengelolaan laboratorium.

Kendala-kendala ini sebenarnya bisa diatasi dengan melakukan beberapa trik atau beberapa hal yang menjadikan seolah-olah siswa melakukan praktikum. Misalnya melakukan demonstrasi, pembelajaran praktikum di laboratorium virtual atau dengan melihat video, film atau ilustrasi tentang praktikum.

Belajar sains adalah sesuatu yang harus peserta didik kerjakan (students do). Pada pembelajaran sains, peserta didik mendeskripsikan objek dan kejadian, mengajukan pertanyaan, memperoleh pengetahuan, mengonstruksi fenomena alam, menguji penjelasan dalam berbagai cara. Serta mendiskusikan ide-ide yang dimiliki kepada yang lainnya agar menjadi sesuatu yang baru, inovatif, bermanfaat (Natural Science Education Standards, National Research Council, USA, 1996). Maka, dengan melakukan sendiri melalui pembelajaran praktikum di laboratorium, diharapkan pembelajaran sains akan menjadi lebih efektif.

Tujuan pembelajaran laboratorium adalah memperoleh keterampilan dasar laboratorium, mengembangkan keterampilan komunikasi dan recording skill, mendewasakan dan meningkatkan tanggung jawab, pemahaman terhadap konteks sains, mengintegrasikan pengetahuan dan pengalaman. Namun kendala-kendala yang sepertinya klise kita dengar itulah yang menyebabkan tidak berjalannya pembelajaran praktikum seperti yang diharapkan.

Baca juga:  Metode ENE Tingkatkan Keterampilan Menulis Teks Negosiasi

Namun kini ada terobosan baru untuk tetap dapat melaksanakan pembelajaran praktikum meski dengan bermacam-macam kendala yang ada. Terobosan ini adalah Small Scale Laboratory (SSL) atau Small Scale Chemistry atau Microscale Chemistry. Dengan SSL ini praktikum kimia yang dilaksanakan di sekolah, dilakukan pada skala kecil, dikurangi penggunaan bahan kimianya. Serta sering kali menggunakan peralatan yang sederhana dengan pergeseran dari bahan gelas kaca ke bahan plastik dengan ukuran yang lebih mini.

Alat-alat yang digunakan lebih mini dari pada alat yang umumnya digunakan. Pipet tetes kaca diganti dengan pipet tetes kecil dari plastik, tabung reaksi kaca diganti dengan tabung mini, beaker glass yang ukurannya biasanya 100 ml, 500 ml, 1000 ml diganti dengan beaker glass kecil-kecil berukuran 10 ml atau 5 ml. Gelas ukur digantikan dengan pipet tetes plastik, pelat tetes juga diganti dengan yang kecil, sendok pengaduk bisa digantikan dengan tusuk gigi dan lain-lain. Karena ukuran alatnya yang mini, maka bahan yang dibutuhkan juga akhirnya menjadi mini alias menjadi lebih sedikit. Sehingga dapat dikatakan mengirit bahan yang digunakan untuk praktikum.

Baca juga:  Pembelajaran Keragaman Budaya Asyik dengan Metode Bermain Peran

Namun yang perlu diperhatikan adalah perlunya melakukan kalibrasi dari alat yang digunakan. Biasanya kita menggunakan bahan dengan ukuran ml, sekarang bisa dengan menggunakan ukuran tetes dari pipet mini yang digunakan. Maka, harus dihitung lebih dulu, 1 ml itu berapa tetes, sehingga praktikum yang dilakukan dengan bahan sekian mili sekian mili dapat dilakukan dengan benar dengan menggunakan hitungan sekian tetes sekian tetes.

Manfaat SSL ini antara lain menghemat biaya dan waktu, meningkatkan keselamatan, mudah digunakan dan ramah lingkungan. Menanamkan etika konservasi sumber daya, meningkatkan pemahaman siswa tentang konsep-konsep ilmiah, mempertahankan minat siswa terhadap subjek, melibatkan siswa secara langsung.

Pengalaman belajar, dan eksperimen dirasakan oleh siswa sebagai hal yang mudah dan menyenangkan. Dapat membantu mengatasi banyak tantangan yang dihadapi guru ketika merencanakan kerja praktik termasuk kekurangan peralatan dan bahan kimia, kurangnya ruang laboratorium, kurangnya asisten laboratorium, kekurangan waktu. Dan kurangnya kepercayaan diri guru. Saat ini sudah tersedia tool kit praktikum dengan menggunakan SSL di toko-toko kimia atau penyedia alat peraga dan praktikum. (pm2/lis)

Guru Kimia SMKN 7 Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya