alexametrics

Simulasi Bikin Koperasi, Bikin Siswa Paham Perizinan Usaha

Oleh: Joko Suryanto

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Salah satu perubahan mata pelajaran yang tercantum dalam kurikulum pendidikan 2013 adalah pelajaran Pengantar Ekonomi Bisnis menjadi Mata Pelajaran Ekonomi Bisnis. Dimana sebenarnya mata pelajaran ini pernah masuk dalam kurikulum KTSP dengan nama Mata pelajaran Ekonomi. Namanya sama dengan mata pelajaran Ekonomi untuk SMA. Salah satu materi dalam pembelajaran kelas X adalah menganalisa bentuk-bentuk badan usaha.

Badan Usaha menurut Undang-Undang No. 3 tahun 1982 pasal 1, Usaha didefinisikan sebagai setiap tindakan, perbuatan atau kegiatan apapun dalam bidang perekonomian, yang dilakukan setiap pengusaha untuk tujuan memperoleh keuntungan dan atau laba. Dalam bidang ekonomi secara singkat bisa dikatakan usaha adalah kegiatan apapun yang tujuannya mendapatkan penghasilan.

Sedangkan ekonomi asal Amerika Serikat, Dominick Salvatore, pengertian dari badan usaha merupakan suatu organisasi yang mengkoordinasi dan mengkombinasi berbagai jenis sumber daya dengan tujuan untuk memproduksi atau menghasilkan barang atau jasa yang dapat dijual.

Baca juga:  Sukseskan Perubahan Paradigma Pembelajaran pada Guru

Bentuk badan usaha sendiri bermacam-macam. Ada yang berbadan hukum, ada yang tidak berbadan hukum. Yang berbadan hukum seperti Perseroan Terbatas (PT) dan Koperasi. Sementara yang tidak berbadan hukum pilihannya Persekutuan Komanditer, atau yang dikenal dengan Comanditaire Venootschap (CV), Persekutuan Perdata, Firma, Perusahaan Perorangan (PO), dan Usaha Dagang (UD).

Namun, saat penulis mengajarkan materi pembelajaran ini kepada siswa kelas X SMK Negeri 2 Semarang hampir sebagian besar atau lebih dari 95 persen anak didik mengalami kesulitan memahami perizinan usaha. Yang merupakan syarat dalam mendirikan badan usaha.

Untuk memudahkan dalam memahami alur pembuatan perizinan sebuah badan usaha, saya mencoba metode pembelajaran simulasi. Menurut Pusat Bahasa Depdiknas (2005) simulasi adalah satu metode pelatihan yang memperagakan sesuatu dalam bentuk tiruan (imakan) yang mirip dengan keadaan yang sesungguhnya; simulasi: penggambaran suatu sistem atau proses dengan peragaan memakai model statistik atau pemeran.

Baca juga:  Metode Pembelajaran Berbasis Sumber Daya di Masa Pandemi

Oleh penulis, kemudian siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dan mendapat tugas serta peran masing-masing dalam setiap kelompok. Ada yang bertugas mendirikan badan usaha, ada yang bertugas sebagai lembaga yang mengeluarkan izin.

Misal kelompok A diminta untuk berpura-pura mendirikan badan usaha Koperasi. Kemudian anggota kelompok mengumpulkan bahan-bahan atau syarat-syarat yang dibutuhkan jika ada kelompok masyarakat yang hendak mendirikan badan usaha koperasi.

Sementara kelompok lain memerankan sebagai lembaga yang meneliti dan mengecek kelengkapan syarat. Sekaligus mengesahkan jika syarat yang terkumpul sudah benar atau mengembalikan pada kelompok A jika syaratnya kurang. Kelompok ini, sebelumnya juga diminta untuk mencari tahu syarat-syarat pendirian koperasi.

Demikian juga kelompok siswa lain, saya minta untuk berpura-pura mendirikan badan usaha berbentuk Perseroan Terbatas (PT). Sama kelompok dengan kelompok koperasi, penulis meminta kelompok ini memerankan hal yang sama. Mengumpulkan syarat pendirian PT, untuk kemudian diajukan kelompok lainnya. “Waahh asyik ini pak guru, saya seolah-olah benar mau ngurus bikin koperasi!” begitu celetukan siswa saat melakukan simulasi.

Baca juga:  Belajar Relasi dan Fungsi dengan Wawancara

Hasilnya, siswa menjadi lebih memahami mengenai perizinan badan usaha. Apa saja yang mesti disiapkan syarat-syaratnya dan kendala-kendala yang biasa muncul dalam perizinan usaha.

Meningkatnya pemahaman siswa akan materi pembelajaran, dengan metode simulasi ini, karena siswa dapat melakukan interaksi sosial dan komunikasi dalam kelompoknya. Aktivitas siswa cukup tinggi dalam pembelajaran. Sehingga terlibat langsung dalam pembelajaran, imajinasi siswa bangkit. Karena mereka diminta penulis untuk seolah-olah memerankan menjadi pelaku badan usaha.

“Pak Guru, ini ada yang minta uang, kalau mau surat izin usahanya keluar, bagaimana ini pak guru?” begitu gurauan siswa saat melakukan simulasi di ruang kelas. (*/fth)

Guru Ekonomi Bisnis SMK Negeri 2 Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya