alexametrics

Pendidikan dan Keadaban Bangsa

Oleh : ENY SOFIYAH, S.Pd, SD

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Berawal dari kata Iqro’ yang merupakan wahyu pertama yang diturunkan merupakan perintah belajar . Hal ini harus sudah diterapkan pada anak-anak kita dari ayunan sampai ajal menjemput. Oleh karena itu tradisi pendidikan dalam dunia Islam tidak dapat dipisahkan dengan ajaran Islam itu sendiri. Dari segala proses pendidikan inilah seluruh budaya berkemajuan dapat disemai.

Kamus besar bahasa Indonesia mendefinisikan pendidikan sebagai proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Definisi ini membawa korelasi semakin tinggi pendidikan seseorang, maka seseorang itu akan semakin dewasa. Karakternya pun akan semakin terbentuk. Sikap dan tata lakunya juga akan semakin mulia.

Baca juga:  Implementasi Penugasan Proyek Berbasis Lingkungan di Masa Pandemi

Sejarah bangsa di dunia juga menunjukkan hal yang sama. Nyaris semua kebudayaan yang sempat menjadi mercusuar dunia selalu ditopang dengan budaya keilmuan bangsa tersebut.

Dari kisah kejayaan Abbasiyah kita dapat serpihan cerita tentang perpustakaan mereka yang menakjubkan. Begitu juga dengan kisah Sriwijaya dan Majapahit di Nusantara. Yang menyelipkan cerita tentang asrama para pelajar yang dibangun pada masa itu.

Tapi sekarang, terutama bagi bangsa Indonesia dan juga umat Islam pada khususnya, postulat tentang korelasi pendidikan dan kedewasaan seakan perlu diuji kembali. Bangsa ini sudah merdeka lebih dari tiga perempat abad. Namun karakter utama kita sebagai bangsa semakin tidak jelas. Kaum terdidik bangsa ini semakin banyak yang gagal menunjukkan tata laku yang utama.

Baca juga:  Whiteboard Animation Solusi Sulitnya Pembelajaran Perkembangbiakan Tumbuhan

Belum genap satu tahun menjadi pejabat di kementerian, seorang guru besar yang seharusnya dapat menjadi teladan tiba-tiba menjadi pesakitan kasus korupsi. Ini tidak hanya satu tapi jumlahnya cukup banyak. Demikian pula dalam kasus hoax dan ujaran kebencian.

Idealnya, kelompok terdidik dan berpendidikan tinggi dengan kedewasaan dan kejernihan penalaran, tidak akan menjadi korban apalagi meneruskan pesan berantai yang tidak terkonfirmasi tersebut. Namun kenyataannya banyak pula tokoh agama, dosen, bahkan yang bergelar doktor atau profesor menjadi korban sekaligus pelaku penyebaran hoax dan ujaran kebencian.

Ada apa sesungguhnya dengan bangsa ini? Mengapa pendidikan seakan gagal meningkatkan kedewasaan dan keadaban bangsa ini?

Jawabannya adalah bahwa beragama yang mencerahkan dengan khazanah iqra’. Menyebarluaskan penggunaan media sosial yang cerdas disertai kekuatan literasi berbasis tabayyun atau mencari kebenaran atas sesuatu, ukhuwah, kedamaian dan ta’aruf yang menunjukkan akhlak mulia. Ini adalah panduan dalam kasus penyebaran hoax dan budaya iqra’ tersebut.

Baca juga:  Video Baca Puisi untuk Melatih Keberanian Berekspresi

Sebaliknya menjauhkan diri dari sikap saling merendahkan, su’udhan, memberi label buruk, menghardik, menebar kebencian, bermusuhan ,dan perangai buruk lainnya menggambarkan akhlak tercela yang harus kita hindari. (ump1/fth)

Guru SDN Podosoko 1 Sawangan Kabupaten Magelang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya