alexametrics

Cegah Radikalisme dengan Pendidikan Agama Islam

Oleh : Ruiyati, S.Pd.I

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pendidikan menjadi salah satu fokus utama di setiap negara. Untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas baik dibutuhkan guru-guru yang profesional dan kompeten dalam bidang masing-masing. Maka setiap negara mewajibkan pendidikan kepada masyarakatnya agar kebutuhan perkembangan teknologi maupun modernisasi terpenuhi. Sehingga di setiap negara berlomba-lomba memperbaiki kualitas pendidikannya.

Ilmu agama tidak hanya didapatkan pendidikan yang formal saja, tetapi dapat juga ditemukan di masyarakat melalui dakwah oleh da’i, kiai, ulama-ulama terkenal dengan mazhab yang benar. Bahkan dari kerabat dekat atau keluarga. Pendidikan juga dapat melalui madrasah-madrasah setempat, pondok pesantren dan lain sebagainya.

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 yang menjelaskan tentang pendidikan nasional, “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suatu pemahaman mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki spiritual kekuatan keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasaan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.

Baca juga:  Asyiknya Belajar melalui Model Pembelajaran Bamboo Dancing

Namun banyak persoalan-persoalan yang mucul di balik keseriusan pemerintah di dalam meningkatkan kualitas pendidikan tersebut baik dari persoalan kesejahteraan guru, dan pemerataan pendidikan kepada semua golongan masyarakat dan kesadaran masyarakat itu sendiri terhadap pentingnya pendidikan bagi dirinya.

Maka perlu langkah-langkah kongkrit yang harus dilakukan dalam mencegah pertumbuhan pemahaman yang bertentangan denga syara’ atau paham radikalisme dalam dunia pendidikan yang bukan hanya tugas pemerintah saja tapi setiap kepala satuan pendidikan bahkan masyarakat pun harus ikut andil dalam mencegah pemahaman ini.

Lingkup internal sekolah yang berada dalam ruang pendidikan menajadi salah satu pencegahan pertama paham radikalis. Untuk mencegah pemahaman radikal pada sektor pendidikan sekolah dapat melalui beberapa komponen, dari kepala sekolah , guru maupun peserta didik.

Baca juga:  Memupuk Gairah Belajar melalui Metode Fun Learning

Maka seyogyanya peserta didik mengajarkan pemahaman yang sesuai dengan syara’ dan tidak bertentangan dengan aturan Undang Undang Dasar Tahun 1945, mengajarkan nilai nilai Pancasila dan budi pekerti yang baik. Mengajarkan pula nilai-nilai keberagaman suku dan budaya sehingga dapat hidup berdampingan dapat bertoleransi tanpa harus mempersoalkan agama. Penentuan kurikulum dan bahan ajar harus diawasi langsung oleh kepala satuan pendidikan dan masyarakat lingkungan sekitar pendidikan. Dengan pemahaman yang benar dan pengawasan oleh pemerintah dan kepala satuan pendidikan serta masyarakat yang kuat akan mampu menangkal paham radikalis.

Sehingga anak-anak dapat memahami budaya bangsa yang dapat hidup berdampingan, saling tolong menolong, dan nilai luhur akan budi pekerti yang baik yang menjadi sikap pada diri peserta didik. Dengan itu semua anak-anak akan menolak ajaran-ajaran yang mengandung kekerasan, kebencian serta paparan yang berbasis pada radikalisme. (ips2/lis)

Baca juga:  Pembelajaran Gerak Overhead Backhand Bulutangkis dengan PBL

Guru SD Negeri 02 Sragi, Kabupaten Pekalongan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya