alexametrics

Mengembangkan Socio-Ecopreneurship di Sekolah dengan SOPAN

Oleh : Beny Sukandari, M.Pd.B.I

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Beban kerja seorang kepala sekolah menurut Permendikbud No 6 Tahun 2018 yaitu melaksanakan tugas pokok manajerial, supervisi kepada guru dan tenaga kependidikan, serta pengembangan kewirausahaan.

Kepala sekolah perlu memperkuat jiwa kewirausahaan yang ada pada dirinya untuk menciptakan berbagai inovasi, bekerja keras, memiliki motivasi tinggi, pantang menyerah. Dan memiliki naluri kewirausahaan.

Semua itu akan sangat bermanfaat untuk pengembangan sekolah secara optimal sehingga dapat mengatasi permasalahan yang muncul. Dengan demikian dapat meningkatkan kualitas sekolah yang dipimpinnya sesuai kondisi sekolah dan lingkungan serta situasi yang terjadi saat ini.

Pandemi Covid-19 membatasi gerak langkah semua sendi kehidupan. Termasuk dunia pendidikan khususnya sekolah. Banyak program sekolah yang tidak dapat dilaksanakan meskipun sudah direncanakan dengan matang pada tahun ajaran baru. Apa dilakukan kepala sekolah untuk mengemban tugas pokoknya terutama pada pengembangan kewirausahaan?

Sebuah gebrakan baru di bidang kewirausahaan yang dapat dijalankan oleh sekolah berbasis pada kelestarian alam dan kearifan lokal tanpa meninggalkan masyarakat sekitar. Dengan SOPAN strategi membangun socio-ecopreneurship sekolah terutama pada masa pandemi Covid-19 menjadi tonggak sejarah adanya transformasi sekolah from zero to hero.

Entrepreneurship atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah kewirausahaan menurut Suryana (2003) adalah kemampuan dalam berpikir kreatif dan berperilaku inovatif yang dijadikan dasar, kiat, dan sumber, daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat dalam menghadapi tantangan hidup untuk mencari peluang menuju sukses.

Baca juga:  Asyiknya Belajar IPA Menggunakan Baper TTS

Inti dari kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (create new and different) melalui berpikir kreatif dan bertindak inovatif untuk menciptakan peluang. Sedangkan ecopreneurship berasal dari dua kata yaitu ecology dan entrepreneurship.

Anih (2015) menjelaskan bahwa ecology atau ecological mengandung arti ilmu yang mempelajari interaksi antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Kewirausahaan tidak hanya dapat dilakukan dengan pemanfaatan lingkungan, namun ada juga kewirausahaan yang menggandeng masyarakat dalam menjalankan usahanya. Pemberdayaan masyarakat dalam menjalankan usaha disebut sebagai sosio-ecopreneurship.

Prosedur pelaksanaan SOPAN dalam mengembangkan socio-ecopreneurship mempunyai lima langkah tahapan. Yaitu sosialisasi, organisasi, program, analisis dan evaluasi serta negosiasi.

Berikut adalah jabaran dari SOPAN. Pertama, sosialisasi. Sebelum program pengembangan sosio-ecopreneurship benar-benar dijalankan di SMA Negeri 1 Ngluwar, tahap awal yang dilakukan adalah melakukan sosialisasi. Sosialisasi dilakukan dengan mengumpulkan seluruh wakil kepala sekolah dan stake holders untuk memberikan gambaran tentang program SOPAN. Selanjutnya sosialisasi kepada seluruh guru dan karyawan untuk membantu menjalankan program sekolah tersebut. Sosialisasi kepada siswa karena terkendala karena wabah Covid-19 dilakukan dengan perwakilan OSIS dan Pramuka di bidang lingkungan.

Baca juga:  Potret Pendidikan di Masa Pandemi Covid-19 (Suatu Tinjauan Sosiologis)

Kedua, organisasi. Langkah organisasi ini sangat penting, dimana langkah ini untuk memberikan wadah yang jelas agar pelaksanaan program berjalan lancar. Organisasi yang terbentuk untuk menggawangi atau mengorganisasikan pengembangan socio-ecopreneurship adalah adanya Tim Cemerlang, TIM 7K, Pramuka dan OSIS serta dipandu guru mata pelajaran kewirausahaan dan ekonomi di bawah arahan kepala sekolah.

Ketiga program. Pada pengembangan socio-ecopreneurship dibutuhkan program unggulan apa saja yang akan dijalankan untuk mendukung berjalannya kegiatan socio-ecopreneurship di SMA Negeri 1 Ngluwar.

Keempat, analisis dan evaluasi. Analisis dan evaluasi sangat penting dijalankan untuk mengetahui apakah program yang dijalankan memberikan dampak positif dan manfaat. Apabila program yang dijalankan kurang maksimal, namun masih dipandang ada peluang untuk berhasil, maka diperlukan evaluasi menyeluruh atas program tersebut. Diharapkan dengan analisis dan evaluasi seluruh program yang dijalankan terkontrol dengan baik dan maksimal.

Kelima negosiasi. Bentuk pengembangan socio-ecopreneurship dalam menjalin kerja sama kewirausahaan dengan pihak luar. Disamping memperhatikan keadaan alam sekitar, kewirausahaan yang ditonjolkan di SMA Negeri 1 Ngluwar adalah berbasis sosial. Selain itu, kewirausahaan berbasis sosial juga mengajarkan siswa pentingnya bersosialisasi dengan masyarakat luar.

Hasil dari pengembangan soci-ecopreneurship dengan SOPAN antara lain: berdirinya minimarket di sekolah, adanya pom mini yang menyediakan bahan bakar pertalite. Berdirinya kafetaria di sekolah, budidaya bunga anggrek serta tanaman hias lainnya. Budidaya tanaman bunga telang dan pemanfaatan bunga telang sebagai sirup, teh serta wedang uwuh bunga telang. Pengadaan air mineral bekerja sama dengan Armio.

Baca juga:  Belajar Sirkulasi Darah dengan Video Animasi Cells at Work

Kerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Magelang dalam pembuatan dan pemeliharaan taman sekolah; penanaman sayur dan buah dalam pot (tabulampot). Kerja sama dengan lingkungan sekitar SMA Negeri 1 Ngluwar dengan memanfaatkan produk lokal yaitu slondok. Pemeliharaan ikan lele dan nila dengan memanfaatkan lahan kosong, pengolahan sampah organik dan anorganik. Pembagian bibit tanaman buah kepada warga sekitar SMAN 1 Ngluwar.

Sedangkan dampak yang diperoleh dari program SOPAN dalam pengembangan socio-ecopreneurship adalah lingkungan sekolah menjadi tertata, hijau, asri, bersih, sehat. Sekolah ditunjuk oleh direktorat untuk menjadi sekolah kewirausahaan. Selain itu warga sekolah pun menjadi lebih peduli terhadap lingkungan.

Semoga program SOPAN dalam pengembangan socio-ecopreneurship dapat diterapkan di sekolah manapun. Sehingga akan tercipta kondisi sekolah yang nyaman, sehat, hijau, bersih, sehat namun kewirausahaan juga berjalan dengan baik. Intinya adanya sinergi antara kewirausahaan, kelestarian alam dan lingkungan tanpa meninggalkan kearifan lokal dan masyarakat. (ng1/lis)

Kepala SMAN 1 Ngluwar, Kabupaten Magelang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya