alexametrics

Belajar Pengurangan dengan Teknik Menghitung Mundur

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PADA operasi hitung pengurangan bilangan sampai dengan sepuluh, dengan menggunakan media jari tangan anak telah memahami dan menguasainya dengan baik terbukti dari hasil memuaskan yang dicapai oleh siswa ketika mengerjakan soal-soal pengurangan yang diberikan. Namun ketika memasuki materi pengurangan bilangan dimana bilangan yang dikurangi lebih dari sepuluh para siswa terlihat bingung karena jumlah jarinya tidak mencukupi untuk melakukan operasi pengurangan tersebut. Dari persoalan tersebut maka guru harus mencari cara atau media yang tepat untuk mengatasinya.

Media belajar tak perlu mahal. Manfaatkan alam dan benda di sekitarnya atau bahkan anggota tubuh kita misalnya jari tangan. Yang penting anak senang dan paham materi apa yang akan kita sampaikan. Dalam pemilihan media harus diperhatikan karakteristik dari siswa.

Sebagai seorang guru harus memahami karakteristik peserta didiknya.Karakter peserta didik di kelas rendah tentu berbeda dengan karakteristik peserta didik kelas atas.

Baca juga:  Two Truths and a Lie Permudah Belajar Personal Recount Text

Adapun karakterisrik anak kelas rendah menurut Sumantri dan Nana Syaudih (2006) adalah : Pertama senang bermain. Pada umunya anak kelas usia sekolah dasar terutama anak kelas rendah senang bermain. Kedua senang bergerak. Ketiga senang bekerja dalam kelompok, keempat senang melakukan atau melaksanakan sesuatu secara langsung .

Menurut jean piaget usia siswa SD (7-12 tahun) ada pada stadium operasional konkrit. Oleh karena itu guru harus mampu merangsang pembelajaran yang dapat membangkitkan siswa, misalnya penggalan waktu belajar tidak terlalu panjang, peristiwa belajar harus bervariasi, dan yang tidak kalah pentingnya sajian harus dibuat menarik bagi siswa.Hal ini dilakukan karena perhatian anak pada tingkat usia tersebut masih mudah beralih, artinya dalam jangka waktu tertentu perhatian anak dapat tertarik pada banyak hal, tetapi waktu tetentu pula perhatian anak berpindah-pindah.

Pembelajaran dikatakan efektif apabila seluruh peserta didik terlihat secara aktif, baik mental, fisik maupun sosialnya [ Mulyasa 2003 : 101 ]. Dari karaktiristik siswa kelas rendah ini, seorang guru harus pandai mencari metode dan media yang menarik agar pembelajaran dapat berjalan secara efektif dan menyenangkan.

Baca juga:  Peran Guru BK dalam Memotivasi Siswa di Masa Pandemi

Beragam cara digunakan guru pada pembelajaran berhitung terutama pada kelas satu. Misalnya dengan menggunakan batu kerikil, biji-bijian, batang korek api dan jari tangan. Salah satu teknik yang digunakan dikelas 1 SD Negeri 2 Ponjen untuk materi pengurangan bilangan sampai dengan 20 adalah dengan media jari tangan dipadu dengan teknik menghitung mundur.

Dalam penggunaan teknik menghitung mundur ada beberapa tahapan yang harus dilalui. Pertama, pastikan anak sudah bisa membaca dan menuliskan bilangan satu sampai dengan dua puluh baik dimulai dari depan ataupun dari belakang. Kedua, Anak telah menguasai teknik pengurangan bilangan 1-10 dengan menggunakan jari tangan. Ketika kedua tahapan tersebut sudah dikuasai oleh siswa, maka langkah selanjutnya guru mengenalkan teknik pengurangan menghitung mundur.

Baca juga:  Menulis Teks Berita dengan Metode Naturale Learning

Sebagai contoh lima belas dikurangi enam, penyelesaiannya pertama siswa membuka jarinya sebanyak enam kemudian mulai menghitung mundur dimulai dari bilangan lima belas sambil menutup jarinya satu persatu. Bilangan terakhir yang disebutkan bersamaan dengan menutupnya jari yang terakhir adalah hasil dari pengurangan bilangan lima belas dikurangi enam.

Dengan latihan terus menerus baik secara individu maupun klasikal ternyata sebagian besar siswa mampu menyelesaikan soal-soal pengurangan bilangan sampai dengan dua puluh dengan lebih cepat .

Terlepas dari upaya pembelajaran menggunakan media jari tangan dan teknik menghitung mundur, masih ada banyak lagi media dan teknik yang mungkin juga lebih menunjang keberhasilan pembelajaran. Bisa jadi media yang sama menjadi media yang tepat oleh sebagian guru, namun mungkin juga tidak cocok. Karena setiap guru mempunyai gaya dan cara yang berbeda-beda. (pb1/zal)

Guru SDN 2 Ponjen, Purbalingga.

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya