alexametrics

Korelasi Sukses Adiwiyata dengan Pembelajaran IPA

Oleh: Reni Rosyanti, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, BERDASARKAN Surat Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor : 660.1/31 Tahun 2021Tanggal 04 Oktober 2021 tentang Sekolah Adiwiyata dan Pelaksana Terbaik Sekolah Adiwiyata Provinsi Jawa Tengah Tahun 2021 dan Surat Bupati Purbalingga Nomor : 660.1/327 Tahun 2021 Tanggal 17 November 2021 tentang Sekolah Adiwiyata dan Pelaksana Terbaik Sekolah Adiwiyata Kabupaten Purbalingga, sekolah kami SD Negeri 2 Bobotsari dinyatakan sebagai Pelaksana Terbaik ketiga. Pencapaian ini tidak lepas dari kerja keras dan usaha seluruh warga sekolah untuk terus melakukan pembiasaan mengelola lingkungan.

Penghargaan Adiwiyata diberikan sebagai apresiasi kepada sekolah yang mampu melaksanakan upaya peningkatan pendidikan lingkungan hidup secara benar, sesuai dengan kriteria yang ditentukan (Sumaryo:2018). Sebagai sekolah adiwiyata harus memenuhi 4 komponen, salah satunya adalah pelaksanaan kurikulum yang berbasis lingkungan.

Dengan demikian semua mata pelajaran yang tercantum dalam struktur kurikulum harus memberikan pemahaman kepada siswa tentang lingkungan, tak terkecuali Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

Baca juga:  Quizizz sebagai Alternatif PJJ Matematika

Korelasi adalah sebuah hubungan yang selalu ada di setiap titik kehidupan kita. Sebagian besar kejadian pada kehidupan sehari-hari yang disebut sebagai variabel itu saling berhubungan atau berkorelasi. Secara umum korelasi adalah cara untuk mencari suatu hubungan antara dua variabel.

Menurut Jonathan Sarwono (2011:57) korelasi merupakan teknik analisis yang di dalamnya termasuk, teknik pengukuran asosiasi atau hubungan (measures of association). Pengukuran asosiasi merupakan istilah umum yang mengacu pada sekelompok teknik dalam statistik bivariate, yang digunakan untuk mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel.

Kegiatan belajar mengajar yang dilakukan di sekolah kami untuk mendukung program sekolah adiwiyata adalah pertama sebelum pembelajaran dimulai dibiasakan untuk mengecek kebersihan kelas, memilah-milah jenis sampah antara sampah organik dan non-organik untuk dibuang ke tempat sampah sesuai jenisnya, membuang sampah di botol-botol yang sudah disediakan, cuci tangan sebelum masuk ruangan. Kedua pada tahap pembelajaran, yaitu kami gunakan model pembelajaran discovery learning untuk mempelajari perkembangbiakan tumbuhan secara vegetatif alami pada tumbuhan jenis angiospermae.

Baca juga:  Mengajarkan Makna/Pitutur Tembang Macapat melalui Video Pembelajaran

Menurut Cahyo (2013:100) bahwa discovery learning merupakan salah satu metode pembelajaran yang mana peserta didik mendapatkan pengetahuan baru yang sebelumnya belum diketahuinya serta tidak melalui pemberitahuan, tetapi peserta didik menemukan sendiri.

Tahapannya siswa kami beri stimulus dengan pertanyaan tentang perkembangbiakan tumbuhan angiospermae. Siswa mencoba mengidentifikasi tentang tumbuhan angiospermae.

Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencari tahu tentang tumbuhan angiospermae, dengan dibawa langsung ke sumber belajar yaitu lingkungan sekolah agar melihat, mengamati.

Langkah selanjutnya, siswa mengumpulkan data, dan membuat laporan untuk dipresentasikan di depan kelas. Siswa yang lain diberikan kesempatan untuk menanggapi dan memberi kritik dan saran. Bersama-sama siswa dan guru membuat kesimpulan tentang perkembangbiakan tumbuhan angiospermae.

Baca juga:  Metode Peer Teaching Motivasi Siswa Memahami Perbandingan BilBul

Langkah yang terakhir guru mengulas kembali materi yang telah dipelajari bersama–sama oleh siswa dan memberikan koreksi jika diperlukan serta rekomendasi dari proses pembelajaran.

Adapun kelebihan dari discovery learning adalah membantu peserta didik untuk mengembangkan kesiapan, serta penguasaan keterampilan dalam proses kognitif. Peserta didik memperoleh pengetahuan secara individual sehingga dapat mengerti dan mengendap dalam pikirannya, membangkitkan motivasi dan gairah belajar peserta didik, memberikan peluang untuk berkembang maju sesuai dengan kemampuan dan minat masing-masing, serta memperkuat dan menambah kepercayaan diri sendiri dengan proses menenmukan sendiri karena pembelajaran berpusat pada peserta didk dengan peran guru yang sangat terbatas. (pb2/zal)

Guru SD Negeri 2 Bobotsari, Purbalingga

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya