alexametrics

Pembelajaran Pencemaran Lingkungan lewat Praktik Membuat Pupuk Cair dari Gedebog Pisang

Oleh: Handoyo, S.Pd.

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, BANYAK petani pisang saat masa panen hanya mengambil pisangnya. Sementara batang yang berbentuk pelepah yang sebenarnya punya potensi menjanjikan sebagai pupuk kompos ini justru dibiarkan tergeletak. Sehingga di samping menimbulkan bau yang tidak sedap, juga terkesan seperti limbah berserakan yang tak enak dipandang mata.

Gedebog pisang merupakan salah satu bahan organik yang banyak ditemukan di sekitar kita. Jika bahan organik tersebut dikomposkan (dijadikan kompos), kemungkinan akan menghasilkan kompos yang baik. Oleh karena itu, penulis terinspirasi untuk mengadakan praktikum penanganan limbah organik gedebog pisang pada pelajaran Biologi materi Pencemaran Lingkungan di kelas X SMA Negeri 9 Semarang untuk memanfaatkan limbah gedebog pisang menjadi produk akhir yang bernilai ekonomi sangat tinggi yaitu pupuk organik cair melalui proses fermentasi.

Pada kegiatan ini, penulis menjalin kerja sama dengan pengampu pelajaran kewirausahaan agar pengolahan limbah gedebog pisang ini bisa menghasilkan pengalaman bagi siswa juga financial karena hasil olahan limbah yang sudah difermentasi bisa dijual dalam kemasan botol 500 ml.

Baca juga:  Tingkatkan Pendidikan Karakter Siswa melalui Pembelajaran Cerpen

Akan tetapi kompos selain memiliki keuntungan jika diterapkan ke lahan, juga memiliki kelemahan atau dampak negatif jika komposisi kompos yang dihasilkan tidak sesuaikan dengan kondisi lahan, yaitu mengandung kontaminan yang dapat mempengaruhi tanaman di sekitarnya, juga dapat merusak kualitas lingkungan.

Oleh karena itu, pemerintah membuat suatu aturan kualitas kompos yang dapat dijadikan patokan dalam membuat sebuah pupuk kompos, yang aturan ini dibuat untuk menekan dampak negatif yang mungkin terjadi saat pemakaian kompos tersebut.

Kompos berbahan gedebog pisang dapat menjadi alternatif pilihan yang bertujuan untuk memanfaatkan limbah gedebog pisang yang tidak terpakai. Menurut Sutanto (2002) kualitas kompos sangat ditentukan oleh tingkat kematangan kompos, di samping kandungan logam beratnya.

Bahan organik yang tidak terdekomposisi secara sempurna akan menimbulkan efek yang merugikan bagi pertumbuhan tanaman, sehingga diupayakan dalam pembuatan kompos harus benar-benar sempurna dan sesuai dengan aturan yang telah dibuat yaitu Peraturan Menteri Pertanian No. 70/Permentan/SR.140/10/2011. Aturan tersebut disusun dalam rangka pengaturan mutu produk kompos sehingga dapat melindungi konsumen dan mencegah pencemaran lingkungan.

Baca juga:  TTS sebagai Bagian dari Pembelajaran Sosiologi

Selama proses fermentasi, dilakukan penambahan aktivator MA11 yang berfungsi sebagai merombak senyawa polimer menjadi monomernya. Senyawa monomer tersebut berupa unsur hara yang nantinya akan diserap oleh tanaman. Penambahan MA11 bertujuan untuk mempercepat proses fermentasi. Parameter mutu pupuk cair diperiksa melalui jurnal acuan kadar N, P, dan K pada pupuk cair. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan mutu pupuk cair yang bagus.

Bahan yang dipergunakan untuk pembuatan pupuk cair ini adalah gelas ukur, timbangan, tong plastik, pengaduk, pisau, lembaran plastik, tali karet , gedebog pisang 10 kg, gula-pasir 200 gr, ma-11 200 ml (stater), dan air bersih 10 liter. Cara pembuatan pupuk cair adalah potong-potong gedebog pisang, masukkan 10 kg potongan gedebog pisang ke dalam tong plastik.

Baca juga:  Pembelajaran Seni Tari di Era Pandemi dengan Blended Learning

Tambahkan 10 liter air bersih. Tambahkan 200 gram gula pasir. Tambahkan stater MA-11 sebanyak 200 ml. Aduk sehingga semua tercampur. Tutup rapat tong dengan plastik. Diamkan tiga hari. Setelah tiga hari ambil ampas, lalu tutup kembali tong selama tujuh hari. Pupuk cair siap digunakan. Selain pupuk cair dapat digunakan sendiri untuk memupuk tanaman yang ada di lingkungan sekolah, pupuk cair dapat dijual yang memiliki nilai ekonomi.

Dengan melakukan kegiatan pembuatan pupuk cair dari bahan limbah gedebog pisang dan menjualnya, siswa telah berlatih berwirausaha kepada warga sekolah dan warga sekitar sekolah. Peserta didik juga mendapatkan pengalaman belajar secara langsung dalam menangani limbah dan meningkatkan kepedulian lingkungan. (nov1/zal)

Guru SMAN 9 Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya