alexametrics

Mengurangi Perilaku Prokrastinasi Akademik melalui Peer Modeling

Oleh : Dwi Lasitosari, S.Pd

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Sekolah sudah mulai pembelajaran tatap muka, bagi siswa yang sudah terbiasa santai saat PJJ akan merasa beban belajarnya berat. Sehingga banyak dijumpai siswa yang melakukan penundaan terutama dalam penyelesaian tugas akademik (perilaku prokrastinasi akademik). Menurut McCloskey (2011:1) prokrastinasi berarti perilaku yang cenderung menghindari atau menunda aktivitas.

Steel, Brothen & Wambach (2001:97) menyatakan bahwa siswa yang melakukan prokrastinasi akademik memiliki kecenderungan mendapat nilai rendah pada setiap mata pelajaran/nilai ujian akhir.

Perilaku prokrastinasi akademik yang terjadi SMKN 1 Wanayasa antara lain siswa menunda mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru mata pelajaran; jam belajar siswa yang tidak diatur dengan baik; siswa lebih suka game online, chatting atau bermain smartphone; siswa menunggu ada teman yang share tugasnya; serta siswa sering terlambat mengumpulkan tugas.

Tugas yang tidak selesai tersebut membuat guru mata pelajaran harus melakukan tindakan untuk memberikan efek jera kepada siswa. Dari tujuh kelas yang menjadi kelas ampuan guru Bimbingan dan Konseling (BK), tiap kelas ada sekitar 50 persen siswa yang menunda tugas yang diberikan oleh guru mata pelajaran. Oleh karena itu, guru BK memberikan pemahaman mengenai dampak buruk prokrastinasi dan agar siswa mempunyai pengaturan waktu yang baik.

Baca juga:  Meningkatkan Kebiasaan Belajar dengan Layanan BK Teknik Diskusi

Layanan bimbingan dan konseling yang dilakukan guru BK di SMKN 1 Wanayasa untuk membantu siswa mengurangi prokrastinasi akademik adalah melalui konseling kelompok dengan teknik peer modeling (pemodelan sebaya).

Pemodelan sebaya dilakukan oleh teman sebayanya yang telah dipilih oleh guru BK untuk bertugas sebagai pemimpin kelompok. Seorang pemimpin kelompok adalah siswa yang pernah mengalami perilaku prokrastinasi akademik.

Menurut Kartono (1979:61) persyaratan umum yang harus dimiliki oleh semua pemimpin di bidang apapun ialah dia harus memiliki kompetensi teknis yang superior atau memiliki keahlian dalam bidang (areal) yang tengah digarap oleh kelompok yang bersangkutan.

Pemimpin kelompok yang dipilih guru BK adalah siswa yang bisa diterima oleh kelompok yang bersangkutan serta cocok dengan situasinya. Guru BK memilih dua siswa sebagai model sebaya dan siswa lainya sebagai konseli. Biasanya tiap melaksanakan konseling kelompok terdiri dari 10 siswa.

Baca juga:  Penerapan Role Playing dalam Memahami Materi Layanan Bimbingan Konseling

Konseling kelompok ini bisa lebih efektif dan cepat membantu temannya yang berperilaku prokrastinasi akademik dan membuat siswa merasa nyaman saat mereka berkumpul dengan anggota kelompoknya untuk membicarakan sesuatu hal yang menarik atau sesuatu yang dapat mengganggunya.

Saat melakukan konseling kelompok dengan teknik peer modeling, anggota kelompok akan melakukan diskusi dan tercipta dinamika kelompok. Interaksi kelompok teman sebaya ini juga membuat siswa merasa diterima, melakukan katarsis, dan mendapatkan nilai, pemahaman, dan pandangan baru.

Konseling kelompok dengan teknik peer modeling ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membantu dalam menyelesaikan masalahnya dan saling memotivasi memberikan dorongan positif.

Interaksi antarteman sebaya juga memungkinkan untuk muncul sebuah solusi yang sangat berguna untuk siswa yang mengalami masalah bahkan untuk saling mengingatkan dan membantu untuk mengatur waktu dengan baik. Serta menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai siswa. Interaksi teman sebaya dalam konseling kelompok ini memungkinkan terjadinya proses imitatif, identifikasi, kerja sama dan proses kolaborasi.

Baca juga:  Belajar Menyenangkan dengan Bermain Ular Tangga

Ketika masalah yang dialami oleh siswa dapat teratasi, maka akan muncul perilaku baru yang lebih efektif, produktif, dan bahagia. Sehingga dapat menurunkan perilaku prokrastinasi akademik.

Menurut hasil wawancara guru BK dengan guru mata pelajaran dan wali kelas, setelah mengikuti konseling kelompok ini, siswa mulai menunjukkan peningkatan motivasi belajar. Dan perilaku prokrastinasi akademik mulai menurun hingga 30 persen.

Setelah konseling kelompok berakhir, siswa masih tetap berkomunikasi dan saling mengingatkan tugas yang harus diselesaikan dan saling memotivasi satu sama lain. (bk2/lis)

Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Wanayasa

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya